ADVERTISEMENT

Kunci Utama Atasi Burnout Dalam Pekerjaan Menurut Ahli, Karyawan Wajib Tahu

Vina Oktiani - wolipop Kamis, 22 Sep 2022 13:30 WIB
Ilustrasi pekerja Jepang Foto: (iStock)
Jakarta -

Istilah burnout banyak dipakai untuk menggambarkan seseorang yang sedang mengalami mental lelah. Burnout sendiri bisa dialami oleh siapa saja, termasuk para karyawan. Namun sebenarnya apasih yang dimaksud burnout, dan apakah sama dengan depresi?

Melalui kulwap Wolipop bertajuk 'Bangkit dari Mental Lelah' pada Selasa (13/9/2022), Novie menjelaskan mengenai burnout. Walaupun memiliki gejala dan kelakuan yang mirip dengan depresi namun burnout dan depresi adalah hal yang berbeda.

"Burnout dengan depresi ini berbeda begitu. Dimana burnout ini seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya gitu ya, ini terkait dengan adanya stress yang berkepanjangan yang berkaitan dengan peran-peran tertentu. Tetapi kalau depresi ini biasanya memang terjadi karena sesuatu hal yang lebih kompleks dan dalam jangka waktu yang lebih panjang," terang Novie.

Bagi para karyawan biasanya burnout bisa terjadi karena berbagai macam hal, salah satunya pekerjaan yang terlalu banyak atau berat. Jika kamu merupakan seorang karyawan sekaligus tulang punggung keluarga, maka situasi burnout yang dihadapi pasti akan terasa sulit dan tak mudah. Lalu bagaimana cara mengatasinya?

"Untuk bisa meregulasi emosi, mencintai takdir, dan mengembalikan semangat, kita perlu berangkat dari akarnya dulu. Akarnya seperti apa, yaitu terkait dengan penerimaan atas kondisi yang sedang dihadapi atau diterima saat ini," jelas Novie.

Novie mengatakan bahwa menerima kondisi dan diri sendiri adalah kunci gerbang utama untuk bisa merasa lebih enjoy menjalani apa yang sedang dikerjakan. Karena jika semakin tak bisa menerima kondisi dan diri sendiri, maka ibaratnya seperti berenang melawan arus. Oleh karena itu walaupun sulit dan pahit namun tetap harus diusahakan.

"Konsep yang paling penting untuk dipahami terkait penerimaan juga adalah bahwa sebetulnya penerimaan ini bukanlah sesuatu yang sifatnya adalh tujuan akhir, tetapi adalah sebuah proses. Sehingga menerima ini merupakan proses yang akan selalu aktif, yang akan selalu berlangsung secara continue terhadap hal-hal yang kita hadapi," tambah Novie.

Lebih lanjut Novie menjelaskan bahwa dalam proses penerimaan mungkin saja seseorang akan merasa tidak nyaman atau berperilaku tidak efektif. Namun hal itu belum tentu berarti jika orang tersebut belum. menerima diri dan kondisinya.

"Seringkali kita salah kaprah terhadap penerimaan, dimana misalnya kita berpikir bahwa 'oh kalau saya lagi nggak enjoy, kalau saya masih menangis, kalau saya masih ngomel, dan lain sebagainya kayaknya saya belum menerima deh' gitu. Nah padahal belum tentu juga, karena siapa tahu ternyata itu merupakan bagian dari perjalanan penerimaan yang kita lakukan," jelas Novie.

"Maka yang menjadi kata kuncinya adalah boleh jadi memang perasaan tidak nyaman atau perilaku tidak efektif yang kita lakukan itu masih terjadi, tetapi yang berbeda adalah kita sudah memiliki kesadaran. Kita sudah tahu bahwa hal tersebut bukan merupakan sesuatu yang baik dan pantas kita lanjutkan terus-menerus dan kita melakukan perbaikan meskipun setidaknya cuma 1% di dalam satu hari," tambahnya.



Simak Video "Gaya Seksi Rachel Vennya saat Rayakan Ultah ke-27 Jadi Kontroversi "
[Gambas:Video 20detik]
(vio/vio)