Hari Kesehatan Mental Sedunia, Ini Tanda Kamu Mengalami Toxic Productivity

Tim Wolipop - wolipop Minggu, 10 Okt 2021 16:30 WIB
Shot of stressed business woman working from home on laptop looking worried, tired and overwhelmed. Foto: Getty Images/iStockphoto/nensuria
Jakarta -

Dalam rangka hari kesehatan mental sedunia, kenali tanda kamu mengalami toxic productivity. Ketika mengalami hal ini, kamu bisa terkena burnout.

Toxic productivity bisa terjadi pada masa pandemi ini yang mengharuskan semua orang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saja. Ketika berada di rumah, ada orang-orang yang ingin waktunya tak terbuang sia-sia.

Orang-orang ini pun memilih untuk melakukan hal-hal produktif dalam satu hari secara sekaligus. Seperti belajar bahasa asing, mengerjakan berbagai macam project, atau meeting tanpa henti.

Kamu mengira, apa yang kamu lakukan itu produktif. Padahal, ada batas yang jelas antara menjadi produktif dan toxic productivity-dan barangkali, kamu mengalami jenis produktivitas yang kedua.

Tanda-tanda Mengalami Toxic Productivity

Pada umumnya, toxic productivity adalah istilah lain dari "overworking", "workaholic", dan kata-kata yang menggambarkanmu sebagai pribadi yang terlalu banyak bekerja hingga mengesampingkan istirahat.

Graheta Rara Purwasono, M.Psi, psikolog, salah satu psikolog Riliv, mengatakan, "Toxic productivity itu memunculkan rasa bersalah kalau tidak mengerjakan sesuatu. Ujung-ujungnya, mengalami burnout yang membahayakan kesehatan, dan itu harus dihindari."

Ketika seseorang menjadi terlalu produktif atau overworking, dia jadi tidak memiliki quality time bersama teman dan keluarga buatm. Apalagi, waktu untuk me time karena kamu terlalu sibuk untuk bekerja setiap saat.

Bagaimana agar tidak terkena toxic productivity? Berikut saran dari tim Riliv Psikologi Indonesia:


1. Buat batasan yang jelas

Ketika pekerjaan adalah satu-satunya hal yang berputar dalam pikiranmu, maka sulit untuk memikirkan hal lain yang sama pentingnya. Misalnya saja istirahat yang berkualitas atau menghabiskan waktu bersama keluarga terkasih.

Nah, kamu bisa menentukan batasan yang mengubah mindset-mu dari yang hanya memikirkan pekerjaan ke hal-hal lain yang berarti dalam hidup, seperti:

- Tidak boleh bekerja selama tiga jam tanpa diselingi break
- Harus quality time dengan keluarga di minggu ini
- Harus tidur cukup selama 8 jam setiap hari.

2. Terapkan 'professional detachment'

Ini khusus buat kamu yang meeting lima kali dalam sehari, atau lebih. Ingat, ada yang lebih penting daripada pekerjaan, dan itu adalah kesehatan fisik dan mentalmu sendiri.

Pahami bahwa menjadi pekerja bukanlah identitasmu satu-satunya. Kamu bukan hanya seorang pekerja, tetapi juga orang tua, pacar, teman, dan lain sebagainya.

Saat kamu menerapkan 'professional detachment,' kamu memperlakukan pekerjaan sebagai sesuatu yang akan kamu tangani setelah menjalankan tanggung jawab lain di luar itu.

3. Praktikkan mindfulness

Sudah bukan menjadi rahasia lagi kalau mindfulness dapat membantumu berhubungan dengan dunia dengan cara yang lebih sehat.

Melalui mindfulness, kamu akan lebih mudah untuk menyadari apa yang dibutuhkan oleh tubuh dan pikiranmu-dan hal itu bukan toxic productivity.

Kamu dapat menerapkan mindfulness dengan meditasi di Riliv Hening. Mudah dan praktis. Hanya perlu duduk diam, pejamkan mata, dan pikiranmu akan dijernihkan.

Dalam rangka Hari Kesehatan Mental Sedunia, yuk, tinggalkan toxic productivity. Produktivitas yang baik adalah produktivitas yang memberimu waktu untuk beristirahat, dan pada saat yang bersamaan, mendorongmu untuk mencapai tujuan dengan cara yang sehat!



Simak Video "Dampak Body Shaming Terhadap Mental"
[Gambas:Video 20detik]
(eny/eny)