ADVERTISEMENT

6 Faktor yang Pengaruhi Angka Kesuburan Menurut Dokter Kandungan

Gresnia Arela Febriani - wolipop Senin, 19 Des 2022 21:58 WIB
Ilustrasi Program Hamil Foto: Getty Images/iStockphoto/Chinnapong.
Jakarta -

Resesi seks melanda Korea Selatan dan Jepang. Indonesia pun terancam mengalami hal serupa. Dan resesi seks disebutkan bisa mempengaruhi angka kesuburan. Benarkah demikian?

Ada beragam faktor yang mempengaruhi Total Fertility Rates (TFR) atau angka kesuburan. Fertilitas sendiri adalah kemampuan menghasilkan keturunan yang dikaitkan dengan kesuburan wanita.

Menurut dokter Spesialis Kebidanan Kandungan Konsultan, Dr.Benediktus A,MPH,Sp.OG(K) FICS, ada enam faktor yang mempengaruhi Total Fertility Rates (TFR) atau angka kesuburan. Berikut penjelasannya:

1. Faktor Usia

Faktor usia menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi angka kesuburan. Dokber Benny mengatakan faktor usia dilihat saat pertama kali wanita menikah dan ingin punya anak.

"Kita tahu usia wanita yang ingin menikah semakin lama semakin tua dibanding sebelumnya. Mungkin dulu usia 17 atau 18 tahun sekarang usia 22-25 tahun baru menikah," ungkap dokter Benny kepada Wolipop.

"Usia pernikahan yang semakin lama semakin tua itu mempengaruhi Total Fertility Rates (TFR) atau angka kesuburan," ucapnya.

2. Mengejar pendidikan dan karier

Faktor kesempatan untuk bekerja dan pendidikan yang lebih tinggi menjadi penentu angka kesuburan berikutnya. "Wanita atau pria yang mendapatkan kesempatan untuk sekolah dulu sampai lulus S-1 dan mengejar karier. Kesempatan bekerja yang lebih mapan. Orang cenderung melakukan mengejar pendidikan dan karier mereka dulu," jelas dokter Benny.

3. Faktor kondisi sosial dan ekonomi

Faktor selanjutnya yang mempengaruhi Total Fertility Rates (TFR)atau angka kesuburan adalah kondisi sosial dan ekonomi, dimana membutuhkan persiapan dan juga tantangan hidup. Angka kesuburan bisa semakin menurun karena pasangan lebih memilih mempersiapkan kondisi keuangan terlebih dahulu baru ingin mempunyai anak.

4. Program Keluarga Berencana (KB)

Akses program keluarga berencana (KB) dan alat kontrasepsi itu yang semakin lama semakin lebih mudah juga mempengaruhi angka kesuburan. Pasangan suami istri kini bisa lebih mudah merencanakan kehamilannya.

5. Angka infertilitas

Faktor yang tidak kalah penting selanjutnya menurut dokter Benny adalah angka infertilitas. Angka ketidaksuburan yang semakin meningkat menyebabkan angka kesuburan naik.

"Kita tahu bahwa jumlah pria dan wanita yang masuk dalam kategori tidak subur atau infertil itu semakin lama semakin bertambah. Kategori ini mereka menunda untuk tidak punya anak selama satu tahun dan mencoba berhubungan satu minggu sekali atau dua kali dan belum mendapatkan buah hati,"

6. Faktor ekonomi

Dokter Benny menjelaskan kini tak sedikit pasangan suami istri yang menunda mempunyai anak atau tidak mau mempunyai banyak anak karena faktor ekonomi.

"Untuk biaya sekolah, merawat dan pasangan suami istri mau mepersiapkan keuangan terlebih dahulu baru ingin mempunyai anak," sebutnya.

Selain faktor-faktor di atas, yang mempengaruhi angka kesuburan juga datang dari individu. Misalnya kondisi sperma dan gaya hidup seseorang.

"Kalau secara individual faktor yang mempengaruhi infertilitas adalah dari pria maupun wanita, bagaimana kondisi spermanya yang berhubungan dengan kesehatan, pola makan dan gaya hidup. Minum alkohol dan rokok bisa mempengaruhi kesuburan," tuturnya.

"Selain itu usia pria juga semakin tinggi usia pria maka angka ketidak kesuburan pria itu juga akan semakin tinggi," tambahnya.

Sedangkan wanita angka kesuburan tergantung pada endometriosis, PCOS (sindrom ovarium polikistik) dan usia. "Wanita yang usianya semakin lanjut kemungkinan dia tidak subur. Dibandingkan dengan yang usianya lebih muda. Ini juga penting. Sekarang sudah mulai banyak peningkatan wanita yang usia manoposenya lebih muda daripada sebelumnya," pungkas dokter Benny.

(gaf/gaf)