Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Viral! Pasutri Rela Terjang Hutan dan Ancaman Harimau demi Sekolah Terpencil

Gresnia Arela Febriani - wolipop
Kamis, 08 Jan 2026 13:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Viral pasutri ini tempuh 40 km belah hutan pakai motor trail demi mengabdi di sekolah. Meski ada harimau & lumpur, mereka tetap hadapi.
Viral pasutri ini tempuh 40 km belah hutan pakai motor trail demi mengabdi di sekolah. Foto: Dok. Harian Metro.
Malaysia -

Kisah inspiratif datang dari sepasang suami istri yang viral karena dedikasi luar biasa mereka dalam dunia pendidikan. Ialah Muhammad Haqqi Annazili Rusdi (29 tahun) dan Noor Syazwanie Mohamad (26 tahun), yang jadi sorotan karena dedikasi mereka.

Demi menjalankan tugas di Sekolah Kebangsaan (SK) Bihai, Gua Musang, Malaysia, pasangan ini rela menempuh perjalanan ekstrem sejauh 40 km setiap minggu menggunakan sepeda motor trail. Medan yang mereka hadapi bukanlah jalanan mulus, melainkan jalur berlumpur di tengah hutan lebat Kelantan yang jauh dari peradaban.

Sebagai staf pendukung sekolah, keduanya harus menghabiskan waktu 90 menit sekali jalan untuk mencapai lokasi. Selain jalur yang rusak parah tanpa aspal, nyawa menjadi taruhan karena rute tersebut merupakan habitat hewan liar. Haqqi menceritakan bahwa tantangan mereka bukan sekadar lumpur, melainkan juga keberadaan ular, harimau, hingga gajah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT
Viral pasutri ini tempuh 40 km belah hutan pakai motor trail demi mengabdi di sekolah. Meski ada harimau & lumpur, mereka tetap hadapi.Viral pasutri ini tempuh 40 km belah hutan pakai motor trail demi mengabdi di sekolah. Meski ada harimau & lumpur, mereka tetap hadapi. Foto: Dok. Harian Metro.

"Kami berangkat bersama-sama naik sepeda motor untuk mencapai sekolah di daerah terpencil ini. Perjalanannya sangat jauh karena memakan waktu hingga satu setengah jam dari jalan utama," ungkap Haqqi kepada Harian Metro.

Kesetiaan mereka pada tugas di sekolah juga tidak terbatas pada satu titik saja. Haqqi menambahkan, jika ada program di sekolah-sekolah yang terletak di desa-desa lain, mereka akan mencoba menjangkau lokasi-lokasi tersebut, beberapa di antaranya berjarak 10 km hingga 40 km.

Meski harus menginap di asrama sekolah selama hari kerja dan hanya bisa pulang ke rumah mereka di Bachok, Malaysia, sekali seminggu, pasangan yang telah mengabdi selama empat tahun ini tetap teguh pada komitmennya.

Pengalaman terjatuh di kubangan lumpur pun dianggap sebagai bumbu perjalanan, bukan penghalang. Syazwanie mengenang salah satu kejadian saat mereka gagal menjaga keseimbangan motornya.

"Kami sangat berhati-hati saat melewati daerah itu. Namun, kami tetap terjatuh karena jalannya tidak rata dan penuh lumpur. Tapi saya senang karena ini adalah pengalaman berharga bagi saya dan suami saya selama bekerja di sini," ungkap Syazwanie.

Bagi pasangan ini, kesulitan di medan tugas justru menjadi perekat rumah tangga mereka. Syazwanie menutup kisahnya dengan pesan menyentuh.

"Dari perspektif positif, bekerja di lokasi terpencil di hutan seperti ini memungkinkan kami untuk berbagi masalah, meskipun ada banyak tantangan," pungkasnya.

(gaf/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads