ADVERTISEMENT

Pasang Implan Otak, Wanita Ini Bisa Kontrol Nafsu Makan dan Turun BB 15 Kg

Hestianingsih Hestianingsih - wolipop Minggu, 04 Des 2022 11:01 WIB
Ilustrasi wanita diet atau makan Ilustrasi wanita makan. Foto: Getty Images/iStockphoto/Nitcharee Sukhontapirom
Jakarta -

Seorang wanita yang bertahun-tahun mengidap binge eating disorder akhirnya bisa mengendalikan nafsu makan untuk pertamakalinya. Ia berhasil menurunkan berat badan hingga 15 kg setelah menjalani prosedur implan otak.

Robyn Baldwin, warga Citrus Heights, California, mengalami binge eating disorder yang membuatnya makan berlebihan setiap beberapa kali seminggu. Binge eating disorder merupakan gangguan makan di mana penderitanya mengonsumsi makanan dalam porsi banyak dan tidak bisa mengontrol kapan harus berhenti.

"Saya sangat suka es krim dan bisa makan sampai merasa mual. Saya juga pemakan pasta. Jika membuat semangkok besar spaghetti, saya bisa hanya duduk di meja makan dan menyantap langsung dari mangkok saji," ujar Robyn, seperti dikutip dari Insider.

Robyn bukannya pasrah dengan keadaan dan tidak berbuat apa-apa untuk mengatasi gangguan makannya. Pada 2003, wanita 58 tahun ini menjalani operasi bypass lambung dan berat badannya sempat turun dari 150,5 kg menjadi 91,6 kg.

Robyn bisa menjaga berat badannya tetap stabil selama tujuh tahun. Namun gangguan makan kembali muncul setelah suaminya menderita tumor otak dan dia harus merawatnya seharian penuh.

Pada 2020, Robyn mendafar untuk studi percontohan untuk pemasangan implan pada otak. Dalam studi tersebut, tim dokter syaraf menanamkan alat stimulasi otak di bagian otak yang mengontrol perasaan senang.

Alat tersebut dirancang bisa mendeteksi sinyal keinginan makan di otak. Kemudian mencegatnya dengan mengirimkan sinyal listrik untuk membantu seseorang melawan dorongan makan berlebihan.

"Gangguan makan berlebihan dan obesitas umumnya muncul berdampingan, bahkan lebih sering dari yang kita sadari. Menargetkan keinginan makan secara langsung menggunakan bentuk neurostimulasi bisa mengatasi dorongan untuk makan berlebih dengan signifikan," jelas Dr. Casey Halpern, pemimpin penelitian.

Alat yang ditanamkan dalam otak Robyn tidak langsung diaktifkan setelah selesai dipasang. Peneliti juga tidak menginformasikan kapan alat tersebut akan aktif. Tapi Robyn merasakan efeknya dengan cepat.

Tidak lama setelah pasang implan otak, dia tidak lagi merasa 'ngidam' dan berhenti makan berlebihan. Robyn bisa merasakan ada suatu alat ketika menyentuh kepalanya, tapi sama sekali tidak merasa ada stimulasi listrik.

Robyn merupakan satu dari dua responden yang terlibat dalam percobaan perdana tersebut. Dikarenakan sampel yang masih sangat sedikit, para peneliti akan melakukan uji coba dengan responden yang lebih luas, untuk dapat memastikan keamanan dan efektivitas alat tersebut.

Saat ini Dr. Casey dan rekan-rekannya masih mencari para penderita obesitas lain yang pernah menjalani operasi untuk menurunkan berat badan atau mempunyai masalah dengan gangguan makan. Nantinya mereka dilibatkan dalam penelitian yang lebih besar.



Simak Video "Potret Jokowi Beli Sepatu Kets Corak Tenun di Bali"
[Gambas:Video 20detik]
(hst/hst)