Rambut Rontok Setelah Sembuh Covid-19, Penyebab Dan Cara Mengatasinya
Kasus pandemi saat ini masih belum berakhir dan setiap harinya semakin banyak orang yang terinfeksi virus Covid-19. Virus Corona ini bagi beberapa orang ternyata memiliki efek jangka panjang. Salah satunya rambut rontok setelah sembuh COVID-19.
Pada beberapa kasus, mereka yang sudah sembuh dari COVID-19 merasakan dampak jangka panjang. Misalnya sesak napas, kelelahan, sakit kepala, dan muncul ruam.
Dan pada sebagian orang ada juga yang mengalami kerontokan rambut. Keluhan rambut rontok setelah sembuh Covid-19 ini salah satunya datang dari aktris Alyssa Milano. Dalam sebuah unggahan di Twitter, pemain serial televisi Charmed itu memperlihatkan bagaimana rambutnya menjadi sangat rontok saat dia menyisirnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Thought I'd show you what #Covid19 does to your hair. Please take this seriously. #WearADamnMask #LongHauler," tulis Alyssa di Twitter.
Apa penyebab rambut rontok setelah sembuh COVID-19? Dan bagaimana cara mengatasinya?
Seperti dikutip dari Health Line, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) hingga kini tidak memasukkan kerontokan rambut dalam daftar gejala COVID-19. Dokter mengatakan ada bukti kuat bahwa itu bisa menjadi efek jangka panjang dari Corona.
Namun nyatanya Alyssa Milano bukan satu-satunya penyintas COVID-19 yang mengalami kerontokan rambut. Di grup Facebook Survivor Corps, ada banyak unggahan tentang kerontokan rambut pada orang-orang yang telah pulih dari COVID-19 dan masih memiliki efek yang bertahan beberapa bulan kemudian, juga dikenal sebagai " Long-Haulers' atau efek jangka panjang.
Alyssa Milano Foto: Dok. Twitter Alyssa Milano |
Sebuah survei yang dibuat oleh pendiri grup, Diana Berrent, mengungkapkan bahwa lebih dari sepertiga dari 1.700 responden mengatakan mereka mengalami rambut rontok setelah sembuh COVID-19.
Seorang dokter kulit di Manhattan Dermatology & Cosmetic Surgery Dendy Engelman, mengatakan dia mulai melihat peningkatan pada pasien yang mengalami rambut rontok sekitar enam minggu setelah perintah di rumah saja diterapkan di New York pada pertengahan Maret.
"Setidaknya ada peningkatan 25 persen orang yang datang dengan rambut rontok," kata Engelman. Lebih lanjut dirinya mengatakan hal tersebut belum dipublikasikan di media sebagai gejala Covid-19, tetapi pasien yang mengalami kerontokan rambut adalah mereka yang pernah menderita Corona.
Penyebab Rambut Rontok Setelah Sembuh COVID-19
Hingga saat ini memang belum ada bukti dan penelitian konkrit yang menyatakan bahwa virus Corona secara langsung menyebabkan kerontokan rambut. Namun dokter percaya bahwa stres fisik dan emosional yang menyertai kasus COVID-19 dapat menyebabkan kondisi kerontokan rambut yang disebut telogen effluvium.
Kondisi ini diketahui terjadi beberapa bulan setelah peristiwa yang membuat stres seperti tekanan emosional, operasi besar, atau demam tinggi. Ini membuat lebih banyak rambut seseorang ke kondisi telogen, atau fase istirahat, dari siklus pertumbuhan rambut, yang pada akhirnya menyebabkan kerontokan rambut.
"Ketika ada sebuah kejutan pada sistem tubuh, tubuh akan masuk ke mode penguncian dan hanya berfokus pada menjalankan fungsi-fungsi yang penting," ujar Dr. Susan Massick seorang dokter kulit di Ohio State University Wexner Medical Center,
Dan Dr. Susan menambahkan pertumbuhan rambut tidak masuk dalam fungsi penting tersebut di dalam tubuh. Sehingga ketika tubuh terserang virus Corona akan berakhir dengan kerontokan rambut.
Saat pasien datang dengan keluhan kerontokan rambut parah, dokter mungkin akan melakukan tes darah untuk mengetahui apakah ada masalah tiroid atau kekurangan nutrisi. Kedua kondisi tersebut juga dapat menyebabkan kerontokan rambut.
Mengatasi Rambut Rontok
Rambut rontok sebenarnya adalah hal yang normal. Namun kenormalan ini ada batasnya. Pada umumnya seseorang akan kehilangan hingga 100 helai rambut per hari. Namun pada kasus mereka yang menderita telogen effluvium dapat menyebabkan sekitar 300 helai rontok setiap hari hingga 6 bulan. Hal tersebut dapat menyebabkan kecemasan bagi orang yang mengalaminya.
Kabar baiknya menurut Dr. Massick, kondisi telogen effluvium bersifat sementara. Dan rambut pada akhirnya akan tumbuh kembali. Mungkin perlu beberapa saat agar rambut kamu tumbuh seperti sediakala. Rambut akan tumbuh secara perlahan karena ini bukanlah pengobatan yang cepat, butuh waktu enam bulan hingga satu tahun.
Saat kamu mengalami rambut rontok setelah sembuh COVID-19, sebaliknya, fokuslah pada penerapan gaya hidup sehat ketimbang minum suplemen atau obat yang belum jelas khasiatnya. Menemukan cara untuk mengelola stres dapat membantu dalam memulai pertumbuhan kembali rambut, seperti halnya makan makanan kaya nutrisi dan menghindari merokok.
(eny/eny)
Elektronik & Gadget
Bikin Sejuk Dimanapun Kamu! Intip 3 Rekomendasi Kipas Mini Portable Di Bawah 200 Ribu
Hobbies & Activities
4 Novel Ini Menggugah Rasa dan Pikiran, Layak Dibaca Sekali Seumur Hidup
Elektronik & Gadget
Vivo iQOO 15: Flagship Baru Super Kencang dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5 & Layar 144Hz
Elektronik & Gadget
KiiP Wireless EW56: Power Bank Magnetik yang Bikin Hidup Lebih Praktis
Nggak Cuma Enak Jadi Camilan, Dark Chocolate Juga Bisa Memperlambat Penuaan
Studi Ungkap Bawang Putih Ternyata Bisa Jadi Mouthwash Alami Lawan Bakteri
Tipe Orang Saat Olahraga Berdasarkan Zodiaknya: Mana yang Kamu Banget?
Bukan karena Pewarnaan, 80% Rambut Wanita Indonesia Rusak karena Ini
Fakta! Kentut Wanita Lebih Bau Dibanding Pria, Ada Penjelasan Ilimiahnya
9 Potret Thalia 'Rosalinda' Tak Menua Bak Vampir, Ini Rahasia Awet Mudanya
9 Aktor Drama China Pendek yang Wajah Gantengnya Sering Muncul di HP
8 Cara Menyadarkan Teman yang Cinta Buta, Tanpa Merusak Persahabatan
Gelar Miss Universe Finland 2025 Dicopot Usai Unggahan Rasis












































Alyssa Milano Foto: Dok. Twitter Alyssa Milano