Banyak Wanita yang Merasa Sendirian, Jepang Tunjuk Menteri Kesepian

Rahmi Anjani - wolipop Jumat, 19 Feb 2021 05:30 WIB
Asian women are sitting hugging their knees in bed. Feeling sad, disappointed in love In the dark bedroom and sunlight from the window through the blinds.Vintage tone. Foto: iStock
Jakarta -

Jepang menyadari banyak warganya yang mengalami stres dan kesepian. Tingkat bunuh diri di negara tersebut juga mengalami peningkatan sejak 11 tahun belakangan. Karena itu, ditunjuklah seorang menteri untuk membantu mengatasi masalah yang memang sedang banyak dialami orang di dunia karena pandemi Corona.

Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga baru saja menunjuk Tetsushi Sakamoto sebagai menteri kesepian. Tugasnya adalah mencari cara untuk paling tidak mengurangi beban masyarakat yang merasa sendirian atau kesepian selama situasi sulit seperti sekarang. Dilaporkan jika problema itu banyak dialami oleh para wanita.

"Terutama wanita, mereka merasa lebih terisolasi (dari pada pria) dan angka bunuh diri mengalami peningkatan. Aku ingin kamu mengusut masalah ini dan mengajukan strategi yang komprehensif," ujar Yoshihide Suga dilansir Nikkie Asia.

Perdana Menteri Suga juga menekankan masalah kenaikan tingkat bunuh diri dan berharap forum darurat bisa segera dibentuk untuk menawarkan solusi bulan ini juga. Sakamoto yang ditunjuk sebagai Menteri Kesepian sendiri berharap bisa menawarkan aktivitas untuk mencegah warganya merasa kesepian dan terisolasi secara sosial.

Dilaporkan jika masalah kesepian yang mungkin sering dianggap sepele bisa mempengaruhi berbagai problema lain yang lebih serius, seperti kemiskinan, penarikan diri secara sosial, hingga bunuh diri sehingga dibutuhkan solusi cepat. Menteri kesepian pun berencana untuk meningkatkan hubungan antar sesama warga yang juga bertujuan menaikkan angka kelahiran.

Meski terdengar tidak biasa, Jepang bukanlah negara pertamanya yang mengambil langkah untuk masalah serupa. Di 2018, Inggris juga pernah membentuk kabinet dari beberapa menteri untuk melawan kesepian, terutama pada orang-orang tua. Namun untuk Jepang, masalah tersebut tidak fokus pada grup usia tertentu namun lebih kepada semua umur.

(ami/ami)