Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Kisah Inspiratif 2 Cancer Survivor Melawan Kanker Payudara

Hestianingsih - wolipop
Senin, 12 Okt 2015 09:55 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Hestianingsih/Wolipop
Jakarta - Kanker payudara bisa terjadi pada siapa saja, baik wanita maupun pria. Usia muda hingga tua. Meskipun dicap sebagai penyakit yang menakutkan dan mematikan, kanker payudara bisa diatasi dengan penanganan medis yang tepat. Hal itulah yang dialami cancer survivor anggota CISC (Cancer Information & Support Center), Hening Tyas dan Tria.

Dalam kesempatan talkshow 'Pentingnya dukungan keluarga dan medis bagi Penderita Kanker' yang diadakan The Tempo Group dan PT Pulau Mahoni, keduanya berbagi pengalaman tentang perjuangan mereka melawan kanker dan tetap bisa hidup normal serta bahagia seperti sekarang. Tria, berhasil bertahan hidup dan menjadi cancer survivor hampir delapan tahun setelah divonis kanker payudara.

Wanita dua anak ini bercerita bahwa dirinya didiagnosa positif kanker payudara saat usianya masih cukup muda, 24 tahun. Ketika itu pada 2008, kanker payudara masih menjadi penyakit yang kurang dipahami masyarakat awam sehingga informasi tentang pengobatan dan penanganannya sangat minim.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Punggung rasanya pegal terus, maunya dikerokin terus tapi nggak sembuh-sembuh," ujar wanita berusia 32 tahun ini, saat berbincang di Main Atrium Pondok Indah Mall 2, Jakarta Selatan, Minggu (11/10/2015).

Penasaran dengan kondisi tubuhnya, Tria pun mencoba mengikuti seminar tentang kanker dan mendapat informasi bagaimana mengecek payudara sendiri. Setelah pengecekan mandiri, didapati benjolan kecil di payudara kirinya. Tria mengaku saat itu tidak merasakan sakit, baik pada payudara maupun benjolannya ketika diraba.

"Lalu saya pergi ke dokter dan setelah rangkaian pemeriksaan, benjolan sebesar biji kacang hijau itu ternyata ganas. Dokter menawarkan pengobatan kemoterapi tapi katanya kesempatan hidup saya fifty-fifty. Akhirnya saya lari ke alternatif," cerita Tria.

Tiga bulan mengonsumsi obat-obatan herbal, benjolan di payudara Tria justru bertambah hingga payudaranya besar dan turun sebelah. Payudara juga menjadi kemerah-merahan dan rasa sakitnya semakin terasa. Tria juga mengalami sesak napas. Merasa tidak kuat, ibu dua anak ini akhirnya kembali menemui dokter dan setelah diperiksa, dalam tiga bulan, kanker yang awalnya baru tingkat stadium 1 berubah menjadi stadium 3B.

"Mungkin kalau waktu itu saya berobat dengan benar tidak sampai separah itu," ujarnya.

Kisah berbeda dialami Hening. Ia bercerita, awalnya ia mendapati adanya cairan keluar dari puting payudaranya. Riwayat garis keturunan keluarga hening ada yang pernah menderita kanker payudara, tanpa pikir panjang Hening langsung memeriksakan dirinya ke dokter.

"Gejala awal tidak terasa apa-apa. Tubuh serasa sehat, aktivitas padat. Tapi setelah USG ada tumor ukuran 3 cm. Mengikuti serangkaian tes, hasilnya tumor nggak ganas dan dilakukan pengangkatan tumor. Tapi setelah operasi, hasil pemeriksaan selanjutnya justru diagnosanya positif kanker. Saat itu dunia gelap, semua mimpi serasa terhenti," ujar wanita yang divonis kanker payudara di usia 29 tahun ini.

Untuk mengatasi penyakitnya, Hening harus menjalani enam kali kemoterapi dan 25 kali radiasi. Pada Agustus 2015, Hening baru saja menyelesaikan serangkaian terapi dan merasa sehat, juga optimis dalam menjalani hidup. Ia pun bercerita, ketika mendapat vonis kanker payudara, pikiran wanita cenderung akan kalut dan kacau. Penderita kanker menjadi lebih sensitif dan bisa berbuat apa saja yang dianggapnya bisa menyelamatkan hidupnya.

Untuk itu peran keluarga sangat penting untuk mendorong penderita kanker agar mau mengikuti prosedur pengobatan yang benar. Meskipun didiagnosa kanker, Hening tetap bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk berbagi dengan orang lain. Baik orang yang sehat maupun sesama penderita kanker.

"Ketika divonis kanker kita kacau akhirnya omongan tiap orang jadi sangat sensitif. Bisa memengaruhi bahkan menyesatkan. Tutup mata, tutup telinga, berobatlah secara medis," pungkas Hening.

(hst/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads