Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Viral 'Poverty Challenge' Bikin Murka, Pamer Mi Instan di Atas Ferrari

Hestianingsih Hestianingsih - wolipop
Sabtu, 10 Jan 2026 17:36 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Poverty Challenge viral di TikTok.
Poverty Challenge viral di TikTok. Foto: Dok. TikTok
Jakarta -

Flexing atau pamer kekayaan di media sosial bukanlah hal baru. Sejak awal era media sosial, banyak orang berlomba-lomba menunjukkan status dan pencapaian materi.

Namun belakangan, tren ini dinilai semakin kebablasan. Cara flexing dibuat sedramatis mungkin, bahkan, belakangan muncul tren pamer kekayaan yang menggunakan kemiskinan sebagai bahan candaan.

Sebuah tren media sosial yang disebut 'poverty challenge' kini marak di Korea Selatan, yang memicu kemarahan publik. Dalam tantangan ini, netizen mengunggah foto mobil sport, barang mewah, rumah mahal, hingga fashion desainer, lalu menyelipkan item murah seperti mi instan atau kimbap.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ironisnya, unggahan tersebut disertai keluhan tentang 'kemiskinan yang menyiksa'. Awalnya dianggap lelucon, poverty challenge berubah menjadi tren yang kontroversial.

Beragam unggahan bermunculan di media sosial Korea Selatan. Mulai dari foto mi instan dan kimbap yang diletakkan di samping kunci Ferrari, mobil Ferrari merah menyala dengan tumpukan mi instan di kap mesin, hingga ruangan penuh karya seni mahal dengan caption, "Yang aku punya cuma beberapa lukisan dan seekor anjing."

ADVERTISEMENT
Poverty Challenge viral di TikTok.Poverty Challenge viral di TikTok. Foto: Dok. TikTok

Banyak pihak menilai tantangan ini meremehkan realitas pahit orang-orang yang benar-benar hidup dalam keterbatasan ekonomi. Tren ini pun menuai kritik tajam, termasuk dari penyanyi sekaligus aktor Kim Dong-wan.

Lewat akun media sosialnya, ia menyuarakan kekhawatiran terhadap fenomena tersebut.

"Kemiskinan bukan emosi yang pantas dijadikan bahan bercandaan," tulis Kim Dong-wan, seperti dilansir Oddity Central.

"Ada kata-kata dan penggambaran yang seharusnya tidak pernah digunakan, bahkan untuk lelucon. Masih banyak mahasiswa yang harus berpikir dua kali untuk membeli satu kimbap karena tidak punya uang. Aku sendiri lama hidup bersama ibu tunggalku di apartemen semi-basement. Kata 'kemiskinan' selalu terasa sangat dekat bagiku," tambahnya.

Banyak pengamat menilai tren seperti poverty challenge mencerminkan menurunnya sensitivitas sosial terhadap kesenjangan ekonomi. Tantangan ini juga dianggap menyoroti jurang yang semakin lebar antara mereka yang hidup berkecukupan bahkan berlebih dan yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

(hst/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads