Desainer Dunia Pierre Cardin Wafat, Pernah Kalah Sengketa Merek di Indonesia

Daniel Ngantung - wolipop Rabu, 30 Des 2020 11:33 WIB
FILE - In this May 3, 2005 file photo, French fashion designer Pierre Cardin presents his exhibition Desainer legendaris Pierre Cardin (Foto: AP Photo/Lionel Cironneau)
Jakarta -

Menjelang penghujung tahun, dunia fashion kembali kehilangan insan terbaiknya. Desainer legendaris Pierre Cardin meninggal dunia dalam usia 98 tahun di Paris, Prancis, Selasa (29/12/2020).

Lahir di Italia, Pierre Cardin mulai menggeluti bidang fashion setelah hijrah ke Paris pada awal 1940-an dan terlibat dalam produksi film klasik 'Beauty and the Beast' sebagai penata kostum. Tak lama setelah itu, ia direkrut untuk menjadi salah satu penjahit Christian Dior yang baru saja membuka butik pertamanya.

Pada 1950, Pierre Cardin yang kala itu masih berusia 28 tahun memutuskan untuk mendirikan merek fashion sendiri. Awalnya, ia menawarkan jasa pembuatan kostum teater sebelum akhirnya fokus merintis adibusana (haute couture) pada 1953.

Inovasi desain seperti gaun bersiluet gelembung atau bubble dress dan koleksi bernuansa futuristis yang belum pernah digarap desainer lainnya pada masa itu semakin membuat nama Pierre Cardin makin diperhitungkan. Tak heran bila karyanya pernah menjadi andalan para pesohor seperti Elizabeth Taylor, Barbra Streisand, Jackie Kennedy, hingga The Beatles.

French fashion designer Pierre Cardin who opened his own fashion house in 1953.    (Photo by Reg Lancaster/Getty Images)Pierre Cardin pada tahun 1963. (Foto: Getty Images/Reg Lancaster)

Tak berhenti di situ, Pierre Cardin lalu memperkenalkan konsep busana siap pakai (ready to wear) dengan harapan pakaian karya desainer bisa lebih terjangkau di pasaran. Aksinya tersebut sempat menuai protes Chambre Syndicale, organisasi resmi adibusana di Prancis, yang berujung pada pemecatan Pierre sebagai anggota. Namun, konsep tersebut malah mendunia dan menjadi standar para desainer sampai saat ini.

Ia juga berjasa dalam mempelopori konsep bisnis untuk fashion. Pierre Cardin disebut-sebut menjadi desainer pertama yang melisensi namanya sebagai merek dagang, tak cuma untuk fashion tapi juga produk lain seperti peralatan rumah tangga dan kuliner.

"Saya telah memiliki nama, dan saya harus mengambil keuntungan darinya," kata Pierre Cardin dalam sebuah kesempatan.

Sebuah ironi ketika Pierre Cardin kalah saat mempertahankan mereknya sendiri. Nama Pierre Cardin pernah menjadi sorotan di Indonesia beberapa tahun ke belakang karena sengketa merek dagang.

FILE - In this May 3, 2005 file photo, French fashion designer Pierre Cardin presents his exhibition Pierre Cardin di pameran 'Design and Fashion 1950 - 2005' di Vienna, Austria, pada 2005. (Foto: AP Photo/Ronald Zak)

Seperti diberitakan detikcom pada September 2018, kasus bermula saat Pierre Cardin melayangkan gugatan dari 59 reu du Faubourg Saint-Honore, Paris Prancis ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat (PN Jakpus).

Ia menunjuk pengacara Ludiyanto untuk menggugat pengusaha lokal, Alexander Satryo Wibowo yang memproduksi barang dengan merek yang sama.

Ludiyanto mendalilkan bahwa kliennya merupakan desainer yang dikenal dunia. Legalitas mereknya sudah didaftarkan di berbagai negara di belahan dunia seperti di Austalia, Brasil, Hong Kong, Jepang, Denmark, Korea, Italia, Malaysia, Singapura, Amerika Serikat, Inggris, Indonesia dan kampung halamannya, Prancis. Khusus di Indonesia, merek Pierre Cardin diakui Kemenkum HAM dengan merek IDM000192198 tertanggal 2009 dan diperpanjang pada 2014.

Pierre Cardin dari Prancis kaget menemukan merek serupa di Indonesia untuk kelas yang sama yang diproduksi Alexander Satryo Wibowo. Tidak terima, Pierre Cardin Prancis menggugat Alexander Satryo Wibowo yang beralamat di Kayu Putih, Jakarta Timur.

Tapi apa daya, Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menolak gugatan tersebut pada 9 Juni 2015. Pierre Cardin asal Prancis tak terima dan mengajukan kasasi. Tapi kasasi itu ditolak MA.

FILE - In this May 3, 2005 file photo, French fashion designer Pierre Cardin presents his exhibition Pierre Cardin saat merayakan 70 tahun berkarya pada 2016. (Foto: AP Photo/Christophe Ena)

Merasa lebih berhak, Pierre Cardin mengajukan upaya hukum luar biasa dengan mengajukan peninjaun kembali (PK).

"Menolak permohonan PK Pierre Cardin," putus MA sebagaimana dilansir website MA, Rabu (5/9/2018).

Duduk sebagai ketua majelis Soltoni Mohdally dengan anggota Sudrajad Dimyati dan Panji Widagdo. Ketiganya menolak PK dengan alasan kasus itu pernah digugat pada tahun 1981 dan ditolak.

"Menurut hukum, penggugat tidak diperbolehkan lagi untuk mengajukan gugatan ini," ujar majelis dengan bulat terkait PK Pierre Cardin.

(dtg/dtg)