Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Kartini di Cartini

Uma Hapsari Berbagi Rahasia Bisnis: Utamakan Pasar, Jangan Cuma Ikut Passion

Gresnia Arela Febriani - wolipop
Rabu, 29 Apr 2026 13:30 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Uma Hapsari kelola bisnis beragam, dari ritel sepatu, kacamata, hingga ekosistem gaya hidup di Bali (gym, villa, kuliner). Kuncinya adalah kolaborasi tepat.
Uma Hapsari kelola bisnis beragam, dari ritel sepatu, kacamata, hingga ekosistem gaya hidup di Bali (gym, villa, kuliner). Kuncinya adalah kolaborasi tepat. Foto: Wolipop.
Jakarta -

Bagi banyak pengusaha, memulai bisnis mungkin diawali dengan rencana matang atau modal besar. Namun bagi Uma, perjalanan kewirausahaannya adalah sebuah evolusi yang dimulai dari hal sederhana, berjualan kertas surat kepada tetangga saat masih kecil.

Berangkat dari latar belakang keluarga pedagang di Bantul, Yogyakarta, jiwa bisnis Uma memang sudah terasah sejak dini. Baginya, berbisnis bukan sekadar tentang mencari untung, melainkan tentang menikmati proses dan memahami nilai pertukaran.

Namun, ia memiliki prinsip tegas dalam membedakan antara hobi dan bisnis yang serius. "Jadi kalau bisnis tidak menghasilkan, itu bukan bisnis. Itu namanya hobi," tegas Uma saat berbincang dengan Wolipop di program Kartini di Cartini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau kita mau bisnis, berarti kan harus ada pertukaran nilai. Ada exchange of value, antara orang yang mau bayar dengan apa yang kita jual," tambahnya.

Mengubah Gagal Menjadi 'Uang Belajar'

Uma Hapsari kelola bisnis beragam, dari ritel sepatu, kacamata, hingga ekosistem gaya hidup di Bali (gym, villa, kuliner). Kuncinya adalah kolaborasi tepat.Uma Hapsari kelola bisnis beragam, dari ritel sepatu, kacamata, hingga ekosistem gaya hidup di Bali (gym, villa, kuliner). Kuncinya adalah kolaborasi tepat. Foto: Wolipop

Perjalanan profesionalnya yang sesungguhnya dimulai saat Uma berusia 24 tahun dengan meluncurkan brand sepatu Amazara, di tahun 2016. Bisnis tersebut menjadi sekolah nyata baginya, tempat ia belajar leadership, operasional, hingga manajemen tim.

ADVERTISEMENT

"Jadi itu waktu itu aku umur 24. Dulu belum kayak begini jualan online. Jadi my first business, my first love. Itu namanya Amazara, jualan sepatu online. Dulu tahun 2016. Waktu itu. Aku coba-coba jualan-jualan," tuturnya.

Bisnis pertama Uma terbantu berkat Instagram. Saat orang Indonesia baru 'melek' Instagram dan hobi posting OOTD, sepatunya yang hadir dengan desain estetik menarik perhatian pembeli.

"Ada tuh kan momentum di mana banyak selebgram, hijabers yang suka OOTD. Mereka jadi suka OOTD pake sepatu-sepatu gitu. Terus marketingnya dari situ berjalan aja," lanjutnya.

Sayang bisnis pertamanya itu tak berjalan lancar. Meski sempat mengalami kebangkrutan di usia 29 tahun, Uma justru melihat kegagalan tersebut sebagai bagian dari fase eksplorasi yang wajar bagi anak muda.

"Aku belajar banyak banget dari Amazara itu. Jualan online, dealing sama partner, bikin sepatu. Dari bisnis itu, aku belajar leadership, belajar bikin tim seperti apa, belajar manage operation Seperti apa ," tuturnya.

Ia menekankan agar generasi muda tidak takut untuk mencoba berbagai peluang selagi masih memiliki waktu dan ruang untuk bereksplorasi.

"Kalau muda, try as many as you want, try as many as possible. Karena ketika kita masih muda, mungkin belum punya anak atau banyak tanggungan, jadi kita punya ruang yang lebih besar untuk explore berbagai macam industri," jelasnya.

Salah satu kesalahan umum yang sering dilakukan pebisnis muda, menurut Uma, adalah terjebak dalam romantisisme produk. Banyak yang memaksakan kehendak dengan membuat produk yang menurut mereka 'paling sempurna,' namun melupakan apakah pasar memang menginginkannya. Uma menyarankan strategi market-first-mencari pasar terlebih dahulu, baru kemudian menciptakan nilai. Ia memberikan analogi sederhana tentang berjualan makanan di tempat yang strategis.

"Karena kita harus cari marketnya dulu. Bukan produknya dulu. Misalnya deh kita mau jualan hotdog gitu. Banyak kan orang mikirnya kita harus bikin hotdog yang paling enak biar laku. Padahal hotdog nggak enak pun kalau dia dijual di tempat yang memang ramai gitu, orang kelaperan di situ, orang beli juga kan. Jadi meskipun orang bilang aduh hotdognya nggak enak, tapi beli kan. Jadi menurutku yang paling penting kita mulai dari marketnya dulu. Setelah itu kita create value. Apa yang kita bisa kasih ke mereka," tuturnya panjang lebar.

Baginya, langkah ini krusial untuk menghindari kerugian besar. Ia mencontohkan, jangan langsung membangun pabrik atau investasi besar sebelum melakukan pengujian pasar (seperti sistem PO atau tes presentasi). Dengan cara ini, jika bisnis gagal, ia menyebutnya sebagai 'uang belajar,' bukan kerugian fatal.

Kini, Uma tidak lagi membatasi dirinya pada satu industri. Setelah Amazara, ia telah berekspansi ke berbagai sektor, mulai dari ritel sepatu (101 Shoes), kacamata (Maison Y), hingga ekosistem gaya hidup di Bali yang mencakup gym (Obsidian Gym), paddle tennis, hingga bisnis F&B.

"Kalo aku, aku nyaman dengan risiko. Kalau nggak taking a risk aku ngerasa nggak hidup sih. Cuma risiko itu harus dikalkulasi. Jangan risiko diambil gitu aja brutal, diihitung, dikalkulasi. Oke, ini risiko ini aku bisa tanggung nggak. Kalo sampe kehilangan ini nih kayak gimana. Kalau kehilangan ya jadi uang belajar aja. Cuma setelah jadi uang belajar harus menghasilkan sesuatu yang lain lagi kan. Jadi I think it's just keep evolving," terangnya.

Strateginya dalam mengelola bisnis yang beragam ini sangat mengandalkan kolaborasi. Ia menyadari keterbatasan dirinya-seperti fakta bahwa ia tidak bisa memasak-sehingga ia melengkapi diri dengan mitra yang tepat.

"Aku ini nggak bisa masak sama sekali. Tapi partnerku sangat jago melihat market dan punya taste bud bagus. Keunggulannya dia ditanamkan di bisnis kita, sedangkan keunggulanku di manajemen, dijadikan satu," jelas Uma.

Dengan pola pikir yang fleksibel, berorientasi pada pasar, dan berani mengambil risiko yang terhitung, Uma Hapsari berhasil membangun ekosistem bisnis yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga terus relevan dengan kebutuhan pasar saat ini.

(gaf/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads