Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Kartini di Cartini

Cerita di Balik Karya Ria Miranda: Ambisi, Dilema, dan Misi Kebaikan

Gresnia Arela Febriani - wolipop
Selasa, 28 Apr 2026 05:31 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Desainer Ria Miranda, menceritakan kisah perjalanan saat mulai membangun brand yang kini sukses di Tanah Air sebagai sosok Kartini masa kini yang bisa memberikan inspirasi. Ria Miranda tampil dalam program spesial Wolipop dalam rangka Hari Kartini, Kartini di Cartini.
Foto: Wolipop
Jakarta -

Gemerlap tren busana muslim yang kini mendominasi panggung mode Tanah Air menyimpan kisah Ria Miranda, sosok perancang busana yang populer dengan brand RiaMiranda. Brand tersebut memiliki ciri khas tersendiri dan dikenal sebagai trendsetter di kalangan hijabers.

Lahir pada 15 Juli 1985, Ria Miranda mengubah wajah industri hijab Indonesia, dengan ciri khas garis-garis lembut dan palet warna pastel yang feminin. Ria tidak hanya sekadar menjual pakaian, ia merajut sebuah identitas bagi wanita Muslim modern.

Namun, di balik kesuksesan jenama RiaMiranda yang kini melanglang buana, perjalanan Ria dimulai dari sebuah buku sketsa sederhana dan impian yang sempat terbentur realita. Wolipop mempersembahkan program spesial dalam rangka Hari Kartini, Kartini di Cartini, Ria Miranda menceritakan perjalanannya dalam membangun brand miliknya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Awal Mula: Keresahan yang Melahirkan Karya

Jauh sebelum namanya menghiasi panggung fashion show internasional, dunia desain hanyalah sebuah pelarian hobi bagi Ria di masa remaja. Berasal dari Padang, impiannya untuk menempuh pendidikan di sekolah fashion ternama seperti Esmod sempat terbentur restu orang tua.

Ia pun menempuh jalur pendidikan formal di Universitas Andalas, jurusan Marketing, sesuai harapan sang ayah. Namun, hasratnya tak pernah padam.

ADVERTISEMENT

"Nah, awalnya tuh dipikir tuh cuma kayak hobi aja ya. Misalnya suka menggambar gitu. Terus seneng sesuatu yang berhubungan dengan fashion. Aku tuh cuma hobi gitu," kenang Ria.

Keseriusan itu baru memuncak ketika ia kesulitan menemukan hijab dan busana muslim yang cocok dengannya. Ia merasa terasing dengan pilihan busana yang ada di pasaran saat itu.

"Karena dulu yang kita tahu desainer tuh desainer senior semua. Memang kebanyakan abaya, terus baju kurung. Jadi emang di tahun itu emang belum ada banyak pilihan gitu ya. Aku harus pake baju apa ya ketika aku berhijab ini. Nah, di situlah awalnya bikin buat diri sendiri," ujarnya.

Fashion Show Ria Miranda 2Fashion Show Koleksi Ria Miranda Foto: Ari Saputra/detikFoto

Berawal dari label yang bernama "Shabby Chic by Ria Miranda" pada tahun 2009, ia memulai segalanya dari nol dengan tim yang hanya beranggotakan empat orang, tanpa target ambisius. "Ya udah deh 12 piece. Satu design gitu, kalau lakau ntar bikin lagi. Sekecil itu," ujarnya.

Tahun 2011 menjadi babak baru dalam hidupnya. Ia bertemu dengan sang suami, Pandu Rosadi, yang kemudian menjadi rekan kerja terpentingnya. Pandu membawa perspektif bisnis yang kuat berkat latar belakangnya di dunia distro.

"Ya Alhamdulillah memang pas ketemunya," tutur Ria.

Pada tahun 2013, ketika Pandu akhirnya memutuskan resign dari pekerjaan kantoran untuk fokus mengelola brand bersama Ria, pembagian peran mulai terbentuk. Ria sebagai creative director dan Pandu sebagai nahkoda marketing serta keuangan. Namun, transisi ini tidak selalu berjalan mulus. Ria jujur mengakui adanya ego yang harus diredam.

"Maksudnya mungkin kayak 10 tahun pertama itu juga ada lah berantem-berantemnya. Akhirnya kita bilang, role aku di sini, kamu sampe di sini. Jangan sampe tim juga bingung," jelasnya.


Menghadapi Badai: Dilema Antara Ibu dan Creative Director



Kesuksesan Ria Miranda bukanlah garis lurus tanpa hambatan. Tantangan terberat justru datang ketika ia dihadapkan pada tanggung jawab sebagai seorang ibu. Setelah kelahiran anak ketiga, ia sempat berada di titik terendah. Kejenuhan melanda, dan ia sempat berpikir untuk benar-benar berhenti.

"Ketika anak ketiga memang ada titik di mana aku kayaknya di rumah aja deh gitu. Terus kalau orangnya nggak ada gimana brandnya? Memang aku creative directornya, aku coba jalanin," kenangnya.

Kondisi tersebut berdampak pada kualitas koleksi yang sempat kehilangan "nyawa" atau DNA khas Ria Miranda, yang memicu komplain dari pelanggan setianya. Ria kemudian menyadari satu hal krusial: ia tidak bisa menjalankan bisnis sendirian.

Selain masalah operasional, Ria juga pernah merasakan pahitnya pengkhianatan rekan kerja. "Patah hati. Ya, merasa dikhianati. Terus jadinya malah nginget-nginget. Apa yang udah kita kasih ke dia. Terus kebaikan apa. Kita udah percaya banget. Sedih dan kecewa," ungkapnya jujur.

Namun, alih-alih larut dalam kesedihan, ia memilih berdoa dan melakukan perbaikan internal, membenahi sistem, dan belajar mendelegasikan tugas.


Misi Menebar Kebaikan

Kini, Ria Miranda telah bertransformasi dari sekadar jenama menjadi organisasi yang matang. Ia melibatkan pihak ketiga untuk merumuskan visi-misi perusahaan agar arahnya tetap terjaga. Baginya, setiap koleksi bukan hanya soal tren, tapi soal manfaat.

"Insya Allah bisa menebarkan kebaikan di setiap lembar bajunya gitu," tegas Ria. Ia mencontohkan bagaimana kolaborasinya dengan berbagai pihak, seperti One Fine Sky, selalu disisipi misi sosial, seperti pembangunan musala di pesantren.

Bagi Ria, bisnis yang ia jalani adalah amanah. Dari seorang gadis yang hanya hobi menggambar di buku sketsa, kini ia telah membangun sebuah ekosistem yang menghidupi banyak orang. Dengan keteguhan, doa, dan dukungan sang suami, Ria Miranda membuktikan bahwa kesuksesan yang paling berarti adalah kesuksesan yang memberikan dampak luas bagi sesama.

Hingga kini Ria Miranda eksis berkolaborasi dengan brand ternama untuk memperluas pangsa pasar seperti, Byo, Shop At Velvet, Shop At Masari hingga yang terbaru, 3Mongkis.

(gaf/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads