Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Hari Kartini 2026

Karier Vs Keluarga? Retno Marsudi & Susi Susanti Punya Jawaban Tegas

Gresnia Arela Febriani - wolipop
Selasa, 21 Apr 2026 10:03 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Menteri Luar Negeri periode 2014-2024 Retno Marsudi memberi seminar nasional di Universitas Pancasila, Jakarta. Seminar itu bertajuk
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Hari Kartini menjadi momentum bagi wanita Indonesia untuk menilik kembali bagaimana mereka meredefinisi peran di tengah tuntutan dunia yang dinamis. Bukan lagi tentang memilih antara ambisi karier atau kewajiban domestik, semangat Kartini masa kini adalah tentang integrasi kekuatan.

Dua sosok inspiratif, Retno Marsudi dan Susi Susanti, membuktikan bahwa keberanian sejati justru lahir saat perempuan berani melangkah melampaui stigma dan merangkul perjalanan hidup dengan segala dimensinya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Retno Marsudi, seorang diplomat kawakan yang mencatatkan sejarah sebagai Menteri Luar Negeri perempuan pertama Indonesia (2014-2024), memahami betul beratnya tekanan sosial yang sering kali mendiskreditkan kapabilitas wanita. Ia menyoroti pola pikir usang yang sering memaksa wanita memilih satu di antara dua pilihan sulit.

"Apa yang harus diprioritaskan, kita wanita selalu dihadapkan ketika dewasa, kita banyak sekali mendapatkan memilih karier atau keluarga. Saya selalu bertanya ulang apakah pertanyaan itu diajukan kepada laki-laki, saya bekerja di ruang profesi didominasi oleh laki-laki dan diplomat perempuan itu hanya 10% dan ada beberapa yang tidak melanjutkan, lingkungan keras yang menuntut tidak ada batas ruang," ungkap Retno saat talkshow Her Strength, Her Light, Paragon, Women's Space di Wisma Habibie & Ainun - Library, Jakarta Selatan, Senin (20/4/2026).

ADVERTISEMENT

Ia menekankan bahwa wanita bisa menjalani beragam peran dan tak harus mengorbankan salah satu pilihan. Retno mendobrak stigma dan menebarkan energi positif agar setiap wanita bisa bangkit.

"Di titik itu saya ingin membuktikan bahwa kalau bukan saya tidak ada orang yang akan mengubah hidup. Di situ lah tidak harus memilih, ada waktunya harus di rem dan tidak harus dikorbankan. Kalau ada pertanyaan keluarga atau karier jawab lah keduanya karena tidak ada salah satu yang kita korbankan," jelas Retno.

Retno yang pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda di Den Haag, ini juga menegaskan bahwa ketangguhan harus dipupuk melalui konsistensi dan keberanian untuk tetap bertahan. "Hidup itu harus di jalani, wanita terutama hidup di ruang yang dominasi laki-laki jangan menyerah dan jalani," tambahnya.

Cerita Susi Susanti Soal Karier dan Keluarga

Narasi tentang keberhasilan tidak selalu linear, dirasakan oleh legenda bulu tangkis, Lucia Francisca Susi Susanti Haditono atau Susi Susanti. Dikenal dengan mental juara dan gaya bermain yang tak tertandingi, Susi adalah salah satu tunggal putri terhebat sepanjang masa. Namun, di balik gemerlap medali yang pernah diraihnya, juara Olimpiade ini pun sempat menghadapi masa transisi yang penuh ketidakpastian saat masa pensiun tiba.

"Pastinya di dunia olahraga ada, paling ditakutkan pada masa pensiun. Sekitar 25-28 sudah pensiun. Sementara dari awal fokus untuk olahraga dan sekolah sistemnya modul dan dibekali oleh buku," kata Susi saat talkshow Her Strength, Her Light, Paragon, Women's Space di Wisma Habibie & Ainun - Library, Jakarta Selatan, Senin (20/4/2026).

Ia ingat betul pesan dari kedua orang tua saat dirinya sedang berada di puncak karier di dunia olahraga. Menurut orangtuanya, gelar juara hanya ada di atas podium.

"Di saat saya di atas turun saya bukan siapa-siapa saya berusaha lagi dari 0. Bersama suami, kita mulai lagi pastinya ada ketakutan, kita mulai sesuatu yang baru. Dengan jiwa pantang menyerah dari mental olahraga. Segala sesuatu dengan niat tulus dan kerja keras mau maju itu pasti ada jalannya," terangnya.

Susi menikah dengan atlet bulu tangkis Alan Budikusuma, yang meraih medali emas bersamanya di Olimpiade Barcelona 1992. Selain itu, Susi pernah juga meraih medali perunggu di Olimpiade Atlanta 1996.

Pasangan Alan dan Susi memiliki tiga orang anak yang bernama Laurencia Averina, Albertus Edward, dan Sebastianus Frederick. Bagi Susi, menemukan keseimbangan baru dalam peran sebagai ibu adalah kemenangan nyata lainnya yang melengkapi karier profesionalnya.

"Di saat saya menjadi ibu, itu menjadi kemenangan yang luar biasa. Kita sebagai wanita pastinya harus balance. Selain mengurus anak dan membantu suami dalam membangun usaha dan memang dalam peran masing-masing," pungkas Susi.

Selain menjadi ibu rumah tangga, sesudah gantung raket Susi bersama suaminya juga mengembangkan perusahaan apparel bulu tangkis bernama Astec dan sport massage center bernama Fontana (bersama Elizabeth Latief). Ia sendiri lebih mendorong anak-anaknya untuk mengejar karier selain di bulu tangkis. Baginya prestasinya dan suaminya dapat membebani anak-anaknya.

(gaf/gaf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads