Wanita Ini Alami Alergi Air, Air Mata Sendiri Bikin Kulit Terbakar
Wanita bernama Erin Cassidy mengungkapkan kondisi langkanya. Ia menderita alergi air, termasuk terhadap air matanya sendiri.
Kondisinya tersebut dikenal dengan istilah medis aquagenic urticaria yang membuatnya mengalami ruam, rasa terbakar, hingga gatal hebat setiap kali kulitnya bersentuhan dengan air. Erin menceritakan bahwa gejala pertamanya muncul saat berusia 14 tahun, tepat ketika mengikuti pelajaran renang di sekolah.
"Hari itu saya ikut berenang bersama sekolah. Setelah keluar dari kolam, kulit saya bereaksi, ruam muncul di dada, rasanya panas terbakar dan sangat gatal," jelas Erin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awalnya ia menduga reaksi tersebut disebabkan oleh klorin di kolam renang. Namun, gejala serupa kembali muncul saat mandi, berkeringat, hingga setiap kali kulitnya terkena air. Selama bertahun-tahun, dokter justru meremehkan keluhannya.
"Saya terus kembali ke dokter, tetapi mereka hanya bilang untuk minum antihistamin dan menganggapnya sebagai ruam biasa," ungkap Erin.
Baru sembilan tahun kemudian, setelah berpindah klinik, seorang dokter akhirnya memastikan diagnosa bahwa Erin benar-benar mengalami alergi air.
"Dokter baru saya duduk bersama, melihat semua dokumentasi dan foto yang saya kumpulkan. Ia mengatakan, 'Saya bisa memastikan ini adalah alergi air. Kondisi ini memang sangat jarang, tapi nyata adanya,'" kata Erin.
Menurut WebMD, aquagenic urticaria adalah kondisi ketika kulit mengalami reaksi berupa bentol atau ruam setelah bersentuhan dengan air. Reaksi ini biasanya muncul 20-30 menit setelah kontak, dan dapat hilang dalam waktu 30-60 menit setelah kulit kering. Namun, pada beberapa kasus, gejala bisa disertai sakit kepala, sesak napas, pusing, hingga pingsan.
Hingga kini, penyebab pasti belum diketahui. Salah satu teori menyebut bahwa bukan air itu sendiri yang memicu alergi, melainkan zat terlarut dalam air yang menembus kulit dan menimbulkan reaksi.
Dokter Zoe Williams yang hadir dalam acara tersebut menjelaskan, pada sebagian orang kondisi ini bisa hilang dengan sendirinya, namun tidak ada jaminan.
"Karena Erin sudah mengalaminya selama 10 tahun, kemungkinan besar kondisi ini tidak akan hilang begitu saja. Saat ini belum ada pengobatan pasti, meski penelitian terus dilakukan," kata Dr Zoe.
Kisah Erin menjadi sorotan publik karena betapa sulitnya ia menjalani kehidupannya sehar-hari. Tapi setidaknya dengan diagnosa yang tepat dapat mengurangi gejalanya.
(kik/kik)
Health & Beauty
Secret Garden Extrait de Parfum, Wangi Mewah yang Tahan Lama dan Bikin Kesan Lebih Berkelas!
Health & Beauty
Rambut Lebih Halus & Anti Ngembang, Ini 3 Hair Care Andalan untuk Rambut yang Susah Diatur!
Hobbies & Activities
Main Badminton Lebih Stabil, Ini Rekomendasi 3 Shuttlecock yang Nyaman Dipakai Latihan Rutin
Hobbies & Activities
American Tourister Argyle Cabin 20 Inch jadi Solusi Ringkas dan Aman untuk Travel Singkat
Penyebab Kuku Berwarna Kuning dan Tips Mengatasinya Agar Tampak Sehat
Benarkah Beras Porang Bagus untuk Diet? Ini Fakta dan Manfaatnya
5 Minuman yang Baik untuk Kesehatan Pencernaan, Atasi Perut Kembung
5 Makanan Terbaik untuk Buka Puasa Diet IF, Kenyang Lebih Lama dan BB Turun
Tak Hanya Minyak Berlebih, Ini Penyebab Jerawat di Wajah
Penampilan Terbaru Vidi Aldiano Bikin Pangling, Kini Berkumis Tebal
Momen Miley Cyrus Ngomel ke Fotografer, Disuruh Lepas Kacamata di Red Carpet
Kate Middleton Jadi Korban Kekejaman AI, Tersebar Gambar Sensual
Kisah Cinta Sesama Idol Jepang, Mantan AKB48 Akan Dinikahi Anggota BOYS & MEN












































