Canda-Tawa Wanita Penderita ALS, Padahal Mau Disuntik Mati Besok

Tim Wolipop - wolipop Sabtu, 09 Okt 2021 19:06 WIB
Senior woman visited by home care specialist Ilustrasi pasien (Foto: Getty Images/supersizer)
Bogota -

Apa yang akan Anda lakukan ketika hari kematian Anda sudah dekat? Martha Sepúlveda Camp mengisi sisa waktunya di dunia dengan minum bir sambil tertawa bersama orang terdekatnya beberapa hari sebelum disuntik mati.

Martha akan menjadi orang Kolombia pertama yang akan menerima euthanasia dalam kondisi mengidap penyakit yang non-mematikan. Menurut jadwal, pengeksekusian akan dilakukan besok, Minggu (10/10/2021).

Jelang hari tersebut, tak ada kesedihan atau ketakutan yang menghantui batinnya. "Dari sisi spiritual, aku sangat tenang," kata perempuan 51 tahun tersebut kepada stasiun TV lokal Noticias Caracol seperti dikutip NBC News.

Martha diwawancarai sambil menikmati bir dan makanan di sebuah restoran. Anaknya, Federico Redondo Sepúlveda, ikut mendampingi. Obrolan mereka penuh canda dan tawa meskipun kematian telah menanti Martha.

Pada 2019, ia didiagnosis mengidap amyotrophic lateral sclerosis (ALS). Penyakit ini menyerang sistem saraf sehingga mengganggu mobilitas tubuh.

Martha Sepúlveda CampKondisi Martha Sepúlveda Camp sebelum menjalani prosedur suntik mati. (Foto: Caracol via Noticias Telemundo/NBC News)

Makin lama, kondisi kesehatannya kian buruk sampai-sampai melumpuhkan pergerakannya. Untuk berjalan saja, ia harus dibantu orang lain.

"Ketika mengidapnya, aku merasa satu-satunya pilihan terbaik adalah beristirahat," kata Martha tentang alasannya menjalani prosedur euthanasia.

Kolombia merupakan negara Latin pertama yang melegalkan suntik mati. Akan tetapi, prosedur tersebut hanya diperbolehkan bagi pasien yang mengidap penyakit mematikan.

Pada 22 Juli, Mahkamah Konstitusi Kolombia mengesahkan revisi peraturan terkait siapa yang berhak menerima euthanasia. Alhasil, suntik mati akhirnya juga berlaku bagi 'pasien yang menderita karena gangguan fisik atau mental yang intens akibat cedera tubuh atau penyakit serius dan tidak dapat disembuhkan.'


Empat hari setelahnya, Martha mengajukan perizinan untuk menjalani prosedur euthanasia. Pada 6 Agustus, ia mendapat persetujuan dari pemerintah. "Aku lebih tenang setelah permohonanku disetujui. Aku jadi sering tertawa dan tidurku lebih nyenyak," katanya.

Keluarga besar Martha disebut sangat mendukung keputusannya, kecuali sang ibu karena alasan agama. "Tapi aku yakin, di lubuk hatinya yang terdalam, ia sangat mengerti situasiku," ungkapnya.

Meski legal, suntik mati masih menjadi kontroversi di Kolombia mengingat penduduknya yang mayoritas beragama Katolik Roma. Di mata gereja, euthanasia dianggap sebagai 'pelanggaran yang serius' karena menentang kekuasaan Pencipta sebagai penentu kehidupan.

"Aku paham bahwa Tuhan adalah pemilik hidup ini. Segala sesuatu terjadi atas izin-Nya," tutur Martha yang mengaku sudah mendiskusikan keputusan ini dengan pasturnya. Di sisi lain, ia yakin Tuhan berada di balik keputusannya untuk disuntik mati.



Simak Video "Putri Mako Beberkan Alasan Nikahi Pria Biasa"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)