Burnout & Stres, Sama atau Berbeda? Ini Penjelasannya Menurut Psikolog

Vina Oktiani - wolipop Rabu, 16 Des 2020 16:02 WIB
ilustrasi ibu depresi Foto: thinkstock
Jakarta -

Pandemi Corona telah merubah kebiasaan dan gaya hidup setiap orang. Tak sedikit orang yang belum terbiasa akan perubahan tersebut yang kemudian menjadi stress. Terutama para orangtua yang saat ini harus menghabiskan waktu lebih lama dan mengajari anak-anaknya sendiri di rumah. Belakangan juga muncul istilah burnout di dalam dunia parenting. Apa sebenarnya burnout?

"Burnout ini baru sering dipakai, khususnya dalam dunia parenting, sering kedengeran gitu di tahun 2020 ini, karena ternyata banyak sekali yang burnout gitu ya. Jadi kalau ditanya level, sebelumnya kita lebih sering pakai kata stress. Nah stress itu ada di level 1, burnout itu level 2, kemudian depresi, anxiety disorder atau gangguan lainnya itu level 3," jelas Putu Andani, M.Psi., Psikolog, dalam acara Virtual Media Briefing-Peran Ibu di Masa Pandemi dan Tantangan Ibu di tahun 2021 pada Rabu (16/12/20).

Putu menjelaskan bahwa burnout merupakan salah satu titik yang cukup serius. Jika burnout tersebut bisa diatasi dengan baik, maka itu dapat menjadikan para ibu menjadi sosok yang lebih kuat dan bisa beradaptasi dengan rutinitas-rutinitas yang baru. Agar bisa membedakan antara burnout dengan stress, berikut ini 3 komponen utama burnout menurut psikolog.

1. Kelelahan Secara Mental

Menurut Putu, stress tergolong lebih singkat dibandingkan dengan burnout. Burnout ialah saat dimana seseorang benar-benar merasa sangat lelah secara mental.

2. Berjarak dengan Anak

Burnout bisa menyebabkan seseorang menjadi berjarak dengan apapun yang dikerjakannya. Misalnya dalam hal parenting, orangtua jadi menganggap mengurus anak hanyalah sebuah pekerjaan, sehingga tidak melibatkan kedekatan emosional.

"Karena kita sebenarnya penginnya off kan, pengin break. Jadi kita ke anak hanya memenuhi kebutuhan sehari-harinya aja gitu, bukan emosionalnya," jelas Putu.

3. Tidak Memiliki Rasa Pencapaian

Putu menjelaskan bahwa sangat penting untuk memiliki rasa pencapaian di mana pun kita berada. Namun jika sudah terkena burnout, maka perasaan tersebut bisa hilang.

"Di manapun kita berada kan kita itu sebenarnya selalu butuh sense of achievement. Tapi kalau di burnout ini karena sudah terjadi yang nomor 1 dan 2 tadi, akhirnya sudah hilang sense of achievementnya. Nah ketiga inilah yang disebut dengan parental burnout," terang Putu.

(vio/vio)