Curhat Wanita yang Takut Pakai Masker karena Trauma Pernah Diperkosa

Rahmi Anjani - wolipop Jumat, 06 Nov 2020 11:22 WIB
Sad young woman sitting on the window Foto: iStock
Jakarta -

Memakai masker di tempat umum masih diwajibkan untuk menekan angka penularan Corona. Meski bertujuan untuk melindungi diri, beberapa menolak mengenakannya yang berujung kritikan karena dianggap tidak acuh pada orang lain. Tapi ternyata tak semua orang menolak pakai masker karena ketidakpeduliannya pada kesehatan. Seorang wanita mengungkap jika ia takut mengenai penutup mulut karena trauma pernah diperkosa.

Seorang penyintas perkosaan baru-baru ini berbicara mengenai stigma terhadap orang yang tidak pakai masker. Wanita bernama Georgina Fallows itu sendiri mengaku memang enggan mengenakannya karena trauma pelecehan seksual. Ia pun bermaksud untuk menyebarkan kesadaran agar orang paling tidak berpikir dua kali sebelum menyerang mereka yang tidak pakai masker.

"Mengenai perkosaanku, dia mendekap mulutku dengan tangannya, karena itu, semua yang menutupi mulutku, bahkan masker oksigen akan memicu kilas balik (pada kejadian itu). Itu sangat membuat stres. Secara fisik, itu terasa seperti aku ada di sana lagi dan dia memperkosaku dan aku sedang sekarat," kata Georgina kepada The Guardian.

Wanita 29 tahun itu pun telah menggandeng tujuh organisasi untuk menulis kepada Menteri Orang Disabilitas, Kesehatan, dan Pekerjaan Inggris Justin Tomlinson agar hal ini bisa menjadi perhatian pemerintah. Ia menginginkan agar ada kampanye publik untuk pengecualian pemakaian masker.

Georgina sendiri sudah beberapa kali diminta untuk memakai masker di tempat umum. Ia mengaku setiap pakai masker, kenangan buruk tersebut selalu menghantuinya. Karena itu, Georgina belakangan menghindari keluar rumah dan menggunakan transportasi publik.

"Kamu tidak bisa melihatku dan tahu bahwa aku pernah diperkosa tapi itu benar dan itu adalah masalah besar untukku. Aku menghabiskan banyak waktu untuk mencoba melupakan apa yang terjadi padaku. Aku tidak butuh ditantang mengenai ini tiga atau empat kali sehari, aku hanya mencoba menjalani hidup. Yang dibuatnya adalah mengingatku akan sesuatu yang aku ingin sekali lupakan," ujarnya.

Hal ini telah mendapat perhatian dari berbagai pihak. Perwakilan Rape Crisis England & Wales mengatakan jika beberapa korban penyerangan seksual memang telah melaporkan masalah serupa. Badan amal itu pun mendorong agar orang lain menunjukkan rasa empati, kasih sayang, dan kesadarannya mengenai trauma ini.

"Tolong jangan berasumsi semua yang tanpa penutup wajah itu egois, bodoh, atau tidak peduli. Tidak ada justifikasi untuk menindas orang asing mengenai keadaan personal mereka yang mungkin kamu tidak bisa tahu," kata perwakilannya Katie Russell.

Dilansir Cosmopolitan, sebagai solusi dari masalah ini, organisasi Hidden Disabilities UK pun meluncurkan lanyard bermotif bunga matahari sebagai penanda pemakai tidak bisa pakai masker. Namun hal itu bisa diragukan karena tidak ada bukti yang kuat. Karenanya, diharapkan pemerintah bisa mengeluarkan kartu pengecualian untuk meningkatkan kesadaran akan masalah ini.

(ami/ami)