Hidup Sehat Bebas Corona? Belum Tentu! Wanita Jakarta Ini Berbagi Kisahnya

Gresnia Arela Febriani - wolipop Minggu, 04 Okt 2020 17:30 WIB
Ilustrasi Dokter / Foto: Getty Images/iStockphoto/andrei_r Ilustrasi Dokter / Foto: Getty Images/iStockphoto/andrei_r
Jakarta -

Virus Corona bisa menyerang siapa saja tanpa pandang bulu. Termasuk orang yang setiap harinya sudah hidup sehat. Wanita asal Jakarta ini buktinya.

Ari demikian namanya mengungkapkan cerita bagaimana dia terinfeksi virus Corona padahal setiap harinya menjalani gaya hidup sehat. Sebelum terinfeksi Corona, Ari rutin berolahraga dan berjemur. Dia juga mengonsumsi buah, sayur, berbagai vitamin dan campuran madu, lemon serta air hangat.

Ari mengetahui dirinya terinfeksi Corona pada 16 September 2020 setelah menjalani tes swab. Dia merasa kaget awalnya karena tak merasakan gejala apapun.

"Kalau ditanya gejala, sama sekali nggak punya gejala apapun. Demam, batuk, sesak nafas atau kehilangan indera penciuman, itu aku nggak alami sama sekali," kata Ari saat dihubungi Wolipop lewat telepon Jumat (2/10/2020).

Berdasarkan perbincangannya dengan dokter, Ari mengetahui dirinya tak mengalami gejala seperti penderita Corona pada umumnya karena memiliki imun tubuh yang baik. "Kenapa bisa imun aku bagus? Karena dari awal pandemi, asupan makanan dan vitamin itu aku forsir," ujarnya.

Menjadi OTG (orang tanpa gejala), Ari pun menjalani isolasi mandiri di sebuah tempat yang disediakan kantornya. Dia juga memeriksakan diri ke rumah sakit untuk rontgen, cek thorax dan darah. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk memastikan apakah hasil tes swab yang dilakukannya akurat atau tidak.

"Di situ akan ada CT-nya kita berapa. CT itu adalah CT-Value (Cycle Threshold Value). CT-Value saat ini digunakan untuk menentukan rendah atau tingginya kadar virus SARS-CoV-2 dalam tubuh manusia. Kalau CT orang mengalami COVID-19 itu di bawah 37. Kalau dia sudah negatif itu di atas 40 CT-nya dan dikategorikan negatif atau tidak ada," jelasnya.

Aktivitas Selama Isolasi Mandiri

Menjalani isolasi mandiri di sebuah penginapan yang disediakan kantornya, Ari melakukan aktivitas seperti yang biasa dia lakukan di rumah. Dia berjemur dan olahraga pada pukul 07.00 hingga 09.00 WIB. Sebelum terkena Corona, kata Ari, aktivitas olahraga sudah bagian dari rutinitasnya.

"Yang pasti selama isolasi perhatikan asupan gizi. Buah dan sayur harus lebih banyak. Dokter juga memberikan tambahan vitamin," ujarnya.

Ari baru mulai merasakan gejala seperti yang dialami penderita Corona pada hari ke-3 hingga ke-6 dirinya menjalani isolasi mandiri. Namun gejala yang dirasakannya juga bukan gejala berat, hanya mual dan demam.

"Aku baru mengalami gejalanya di hari ke-3, 4, 5, 6, itu aku mengalami efek si virusnya. Obat virusnya kan melemahkan virus dan efeknya mual, demam dan kayak tifus. Kita itu kayak lelah banget dan kepenginnya tidur. Sebenarnya itu efek obatnya," tuturnya.

Agar cepat sembuh, kata Ari, mengonsumsi makanan bergizi dan obat-obatan serta vitamin saja tidak cukup. Yang juga penting menurutnya adalah merasa bahagia.

"Kalau happy, imun kita akan naik. Dan kalau aku pribadi tidak terlalu memikirkan awal sumberku tertular. Padahal aku vitaminnya sudah cukup, makan makanan yang bergizi dan olahraga. Aku pemakan buah dan sayur. Kok masih tertular? Nggak aku nggak mikir gitu," terangnya.

Agar tak merasa tertekan, Ari mengalihkan pikirannya dengan berbagai cara. Dia masih melakukan beberapa pekerjaan kantor dan melakukan meeting online. Dan selama isolasi mandiri dia juga berolahraga ringan serta minum vitamin.

Selanjutnya
Halaman
1 2