5 Gejala Gangguan Kecemasan Ini Sering Disalahartikan Tanda Kena Corona

Vina Oktiani - wolipop Rabu, 29 Apr 2020 15:36 WIB
Gangguan bipolar Foto: Thinkstock
Jakarta -

Pandemi Corona yang telah menginfeksi jutaan orang di hampir seluruh dunia membuat banyak orang menjadi lebih khawatir dan was-was. Hal itu adalah hal yang wajar. Kamu mungkin akan merasakan beberapa gejala kecemasan selama situasi pandemi Corona ini. Namun karena gejalanya yang hampir sama, beberapa orang sering menyalahartikan gejala kecemasan tersebut sebagai virus Corona. Seperti dikutip dari Mirror, agar tidak salah, berikut ini lima gejala kecemasan yang sering disalahartikan sebagai virus Corona:

1. Sesak Napas

Dr Sarah Jarvis, direktur klinis situs Patientaccess mengatakan bahwa orang yang merasakan gejala berupa sesak napas mungkin membutuhkan beberapa menit untuk memeriksanya sendiri dan mencoba menenangkan napas mereka. Menurut Dr. Jarvis, gejala serangan kepanikan berupa sesak napas biasanya akan mereda jika orang tersebut berkonsentrasi pada pernapasannya dan mencoba mengambil napas yang sangat lambat.

"Cobalah pernapasan perut - letakkan satu tangan di dada dan tangan lainnya di perutmu. Kamu harus berusaha bernapas dengan tenang dengan menggerakkan perutmu, dengan dadamu bergerak sangat sedikit," kata Jarvis.

Jika kamu bisa menenangkan diri dan menemukan pola pernapasan yang tepat maka kemungkinan besar kamu tidak terinfeksi COVID-19. Tapi menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jika kamu merasa dadamu kencang atau seperti tidak bisa bernapas cukup dalam maka bisa jadi itu salah satu gejala virus Corona. Sesak napas yang diakibatkan oleh COVID-19 bisa semakin parah jika kamu tidak segera mencari perawatan medis.

2. Masalah Pencernaan

Menurut Dr. Jarvis masalah pencernaan seperti sakit perut, sembelit, dan diare adalah tanda-tanda kecemasan. Hal itu dikarenakan sistem komunikasi antara otak dan saraf enterik, yang mengatur pencernaanmu dipengaruhi oleh stres. Selain itu, mengonsumsi makanan yang tidak cocok dengan pencernaanmu dan tidak berolahraga juga dapat mempengaruhi pencernaan.

Namun baru-baru ini para peneliti menemukan bahwa sebanyak 48,5 persen dari 204 pasien terjangkit Corona di Hubei, China mengalami gejala pencernaan seperti diare, muntah, atau sakit perut. Gejala-gejala tersebut biasanya disertai dengan tanda-tanda yang lebih khas seperti batuk kering dan demam. Oleh karena itu jika kamu hanya mengalami masalah pecernaan maka kemungkinan besar itu bukan virus Corona.

3. Peningkatan Denyut Jantung

Menurut National Institute of Mental Health (NIMH), peningkatan detak jantung adalah salah satu gejala kecemasan yang paling umum. Saat kamu dihadapkan pada sesuatu yang menegangkan, kelenjar adrenal akan menghasilkan hormon. Hal itu akan membuat reseptor di jantung bereaksi dengan mempercepat detak jantung, sehingga akan ada lebih banyak darah yang terpompa ke otot-otot besar yang kamu miliki. Secara teoritis, hal itu akan membantumu melarikan diri atau melawan kecemasan.

Namun denyut jantung yang meningkat juga bisa menjadi tanda COVID-19. Dr ASif Munaf, seorang konsultan NHS mengatakan bahwa peningkatan jantung dan tingkat pernapasan dapat mengindikasikan tanda infeksi COVID-19. Jika itu hanyalah gejala kecemasan maka saat kamu berkonsentrasi pada pernapasan dan mengambil napas yang sangat lambat, gejala tersebut akan menghilang. Tetapi jika itu adalah virus Corona maka kemungkinan detak jantungmu akan tetap cepat, apapun yang kamu lakukan.

4. Nyeri Otot

Otot-ototmu bisa menjadi tegang jika kamu mengalami kecemasan. Banyak orang yang memiliki gangguan kecemasan melaporkan perasaan tegang di leher, punggung, atau bahu mereka. Namun beberapa pasien terjangkit Corona juga melaporkan nyeri otot di seluruh tubuh. Menurut WHO, sekitar 15% dari seluruh pasien COVID-19 mengalami sakit tubuh atau nyeri sendi.

Nyeri tersebut dipacu oleh bahan kimia yang disebut sitokin, yang dikeluarkan tubuh saat merespons infeksi. Nyeri otot pada pasien COVID-19, biasanya disertai dengan gejala lain yang lebih khas. Tapi jika kamu khawatir dengan gejala tersebut, kamu bisa menghubungi dokter atau tenaga ahli.

5. Peningkatan Suhu Tubuh

Hormon adrenalin akan dilepaskan oleh tubuh dan meningkatkan aliran darah jika kamu mengalami stress atau kecemasan. Hal itu akan membuat suhu tubuh mengalami peningkatan. Tetapi memiliki demam atau peningkatan suhu tubuh juga merupakan salah satu gejala utama virus Corona.

Jika kamu mengalami hal ini, cobalah untuk mencari tempat yang sejuk dan mencoba teknik relaksasi untuk membantu meringankan stress yang kamu miliki. Jika memang itu bukan gejala Corona, maka melakukan hal tersebut dapat menurunkan suhu tubuhmu menjadi lebih normal.

Namun jika teknik tersebut tidak berhasil meredakan suhu tubuhmu maka cobalah mengukur suhunya. Jika mencapai 37,7 derajat Celcius maka itu bisa menjadi tanda virus Corona. Serangan panik tidak memiliki gejala demam dan batuk secara terus menerus. Jadi jika kamu merasakan gejala tersebut maka segeralah mencari pertolongan medis.



Simak Video "Tahu Nggak Sih? Ini Daya Tahan Virus Corona di Berbagai Benda"
[Gambas:Video 20detik]
(vio/eny)