Orang Muda Juga Berisiko Meninggal karena Virus Corona, Ini Penjelasannya

Hestianingsih - wolipop Senin, 20 Apr 2020 12:30 WIB
Ilustrasi Sakit Flu Ilustrasi orang sakit. Foto: Shutterstock
Jakarta -

Pasien lansia dan yang memiliki penyakit bawaan jadi kelompok berisiko tinggi mengalami gejala berat bahkan meninggal akibat virus Corona. Berdasarkan analisa data dari lebih 44 ribu pasien di China, korban terinfeksi dengan risiko kematian tertinggi adalah lansia berusia di atas 50 tahun.

Seperti dikutip dari CNBC Indonesia, risiko kematian lebih tinggi 1,3 persen pada pasien berusia 50-59 tahun, 3,6 persen di kelompok 70-79 tahun dan 14,8 persen di usia 80 tahun ke atas. Namun itu tak berarti orang dengan usia lebih muda 'aman' dari risiko kematian akibat terpapar COVID-19.

Guardian melansir kini tidak sedikit orang muda di usia 20 tahun ke atas yang sakit parah bahkan meninggal karena positif virus Corona. Padahal mereka tak memiliki gangguan kesehatan sebelumnya maupun penyakit penyerta, namun mengalami gejala berat seperti demam tinggi dan sesak napas.


Salah satu contoh nyata adalah para tenaga medis seperti perawat dan dokter yang masih dalam usia produktif, banyak yang terpapar, dan beberapa di antaranya meninggal dunia. Kasus ini membuat para peneliti berusaha mencari tahu sifat sebenarnya dari virus bernama Sars-Cov-2 ini.

Peneliti pun membuat beberapa teori. Mereka meyakini jumlah partikel virus yang menginfeksi tubuh seseorang jadi faktor paling krusial. Ketika jumlah virus di dalam tubuh sudah terlalu banyak maka bisa menyebabkan kematian bahkan pada orang muda dengan kondisi tubuh sehat.

Teori lainnya menyebutkan karena faktor genetik. Ilmuwan di Imperial College London mengatakan ada sebagian individu dengan bentukan genetik yang memang membuat mereka lebih rentan terhadap virus begitu masuk dan menyebar di dalam tubuh.

"Sangat mungkin bahwa sebagian dari kita memiliki bentukan genetik tertentu yang membuat tubuh merespons dengan buruk terhadap infeksi virus Corona," terang Michael Skinner, seorang virologist dari Imperial College London.


Michael menjelaskan individu-individu dengan genetik yang rentan ini bisa menderita gejala atau efek samping lebih parah ketika terpapar virus Corona. Namun masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kepastiannya dan orang-orang seperti apa yang memiliki kecenderungan genetik tersebut.

Saat ini cara yang dinilai paling efektif untuk terhindar dari virus Corona adalah sering cuci tangan dan selalu menjaga gaya hidup bersih. Cukupi asupan gizi dengan vitamin baik itu dari makanan maupun suplementasi, aktif bergerak, banyak minum air putih dan tidur cukup untuk membantu tubuh menyiapkan sistem imun yang akan melakukan perlawanan saat virus Corona masuk ke dalam tubuh.



Simak Video "Positif Covid-19, Suga BTS Tak Rasakan Gejala Apa pun"
[Gambas:Video 20detik]
(hst/hst)