Sempat Viral, Apa Itu Herd Immunity?

Vina Oktiani - wolipop Senin, 06 Apr 2020 08:34 WIB
Virus corona: Apa yang terjadi pada tubuh jika terinfeksi Covid-19? Mengenal Herd Immunity, cara yang diyakini bisa mencegah virus corona. (Foto: BBC Magazine)
Jakarta -

Pandemi Corona hingga saat ini masih terus menyebar dan menginfeksi banyak orang. Mengingat proses penyebarannya yang sangat cepat, tidak mudah untuk menghentikan virus tersebut. Namun ada beberapa cara bisa dilakukan untuk melawan virus tersebut. Pertama, dengan memberikan jarak sosial atau melakukan isolasi diri di rumah. Yang kedua adalah dengan vaksin. Tetapi sayangnya vaksin Covid-19 masih dalam tahap pengembangan dan pengujian. Dan yang ketiga adalah dengan herd immunity. Apakah kalian sudah pernah mendengar kata herd immunity sebelumnya?

Herd immunity ini mungkin akan terdengar sedikit mengerikan untuk dicoba. Herd immunity adalah kekebalan tubuh yang didapatkan setelah orang terinfeksi mampu bertahan, menjadi kebal, dan berhasil sembuh dengan sendirinya. Hal itu dikarenakan kuman semakin sulit untuk menemukan inang yang rentan.

Gagasan mengenai herd immunity menjadi viral setelah perdana menteri Inggris Boris Johnson menyarankan strategi ini untuk melawan Covid-19. Dengan hanya berdiam diri dan membiarkan penyakit tersebut menyebar dengan sendirinya. Kepala penasihat ilmu pengetahuan untuk pemerintah Inggris, Patrick Vallance juga mengatakan bahwa negaranya itu memang membutuhkan herd immunity sehingga akan ada banyak orang yang kebal terhadap penyakit tersebut.



Seperti dikutip dari Technology Review, perdana menteri Belanda, Mark Rutte juga mengatakan hal yang sama, "Kita dapat memperlambat penyebaran virus sementara pada saat yang sama membangun kekebalan kelompok dengan cara yang terkendali."

Sayangnya, hal tersebut justru bisa menjadi sebuah bencana. Jika strategi tersebut benar-benar dijalankan maka kemungkinan besar akan ada banyak orang menjadi sakit parah dan membutuhkan perawatan sehingga pihak rumah sakit akan kewalahan menghadapinya.

Untuk mengklarifikasi informasi tersebut, Matt Hancock, sekretaris Inggris untuk perawatan kesehatan dan sosial mengatakan, "Herd immunity bukan tujuan atau kebijakan kami. Itu konsep ilmiah."

Tingkat kematian per infeksi Covid-19 atau virus Corona adalah sekitar 1% dan tingkat kematian dari kasus yang dilarikan ke rumah sakit justru lebih tinggi. Sebenarnya kemampuan dari herd immunity sendiri sudah terbukti, seperti pada saat virus Zika mulai menyebar. Virus Zika adalah penyakit yang ditularkan nyamuk pada tahun 2015. Dua tahun setelahnya, tahun 2017, virus tersebut sudah tidak lagi terdengar.



Menurut sebuah penelitian di Brazil, ditemukan bahwa sekitar 63% populasi di Salvador sudah pernah terinfeksi virus Zika. Hal tersebut dibuktikan melalui pemeriksaan dari sampel darah orang-orang di sana. Hasil penelitian tersebut membuat para peneliti berspekulasi bahwa herd immunitylah yang telah mematikan wabah virus tersebut.

Virus Corona tergolong merupakan virus baru. Itulah mengapa belum banyak orang yang kebal terhadapnya dan berisiko menjadi sangat parah pada beberapa orang. Kemungkinan besar orang-orang yang telah pulih dari Covid-19 sekarang telah menjadi resisten, meskipun tingkat kekebalannya masih belum diketahui. Sayangnya belum ada kepastian mengenai hal itu dikarenakan beberapa virus, seperti flu, terkadang bisa menjadi berubah-ubah, sehingga kekebalan terhadap kuman musiman itu tidak sepenuhnya lengkap.

Kapan Kita Bisa Memperoleh Kekebalan?

Titik di mana kita mencapai kekebalan kelompok secara matematis terkait dengan kecenderungan kuman untuk menyebar, dinyatakan sebagai nomor reproduksinya, atau R0. Menurut perkiraan para ilmuwan, R0 untuk coronavirus adalah antara 2 dan 2,5. Artinya adalah setiap yang terinfeksi berpotensi menularkannya pada sekitar 2 orang lainnya.

Jika kamu bertanya-tanya bagaimana herd immunity bekerja, maka cobalah pikirkan mengenai kasus-kasus virus Corona yang semakin berlipat ganda. Bayangkan jika setengah dari jumlah kasus tersebut memiliki kekebalan maka setengah dari infeksi tersebut tidak akan pernah terjadi , sehingga kecepatan penyebarannya pun akan berkurang.

"Itu menyiratkan bahwa akhir dari epidemi ini akan membutuhkan hampir 50% populasi untuk kebal, baik dari vaksin, atau dari infeksi alami," kata ahli epidemiologi Universitas Harvard, Marc Lipsitch.

Semakin banyak virus menular maka semakin banyak orang yang perlu memiliki herd immunity. Misalnya saja campak, salah satu penyakit yang mudah menular membutuhkan sekitar 90% orang yang kebal untuk menghentikan penyebaran virus tersebut. Hal itu juga berlaku bagi virus Corona yang sudah banyak menyebar saat ini.



Simak Video "Patricia Gouw Dibikin Kaget dengan Protokol Covid-19 di Luar Negeri"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)