Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Orthorexia, Ketika Obsesi Makan Sehat Justru Picu Gangguan Mental

Hestianingsih Hestianingsih - wolipop
Senin, 09 Mar 2026 06:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Ilustrasi Makan Sehat
Foto: Getty Images/iStockphoto/Panupong Piewkleng
Jakarta -

Menjalani pola makan sehat sangat baik untuk menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Selain bisa membantu mempertahankan berat badan ideal, diet atau pola makan sehat juga bisa memperpanjang harapan hidup.

Namun, sesuatu yang terlalu berlebihan juga tidak selalu baik. Dalam dunia kesehatan mental, ada kondisi yang disebut Orthorexia, yaitu obsesi berlebihan terhadap makanan sehat. Alih-alih menyehatkan, kebiasaan ini justru bisa berdampak negatif bagi tubuh maupun kesehatan mental.

Seperti apa sebenarnya kondisi ini?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Banyak pakar menganggap orthorexia sebagai salah satu bentuk gangguan makan. Namun hingga saat ini, kondisi tersebut belum tercantum secara resmi dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), sehingga belum dapat didiagnosis secara formal.

Psikoterapis Kevon Owen menjelaskan bahwa meskipun belum masuk dalam DSM, bukan berarti kondisi ini tidak nyata.

ADVERTISEMENT

"Ini tidak berarti itu tidak ada, karena ada banyak gangguan yang pada suatu waktu bukan bagian dari DSM," ujarnya, seperti dilansir She Knows.

Sementara itu, psikolog Kelsey M. Latimer, pendiri Hello Goodlife, menjelaskan bahwa orthorexia adalah kondisi ketika seseorang terlalu terobsesi untuk makan 'bersih' atau sangat sehat.

Akibatnya, mereka mulai membatasi banyak jenis makanan karena takut mengonsumsi makanan yang dianggap tidak murni atau tidak sehat.

Pada awalnya kebiasaan ini mungkin terkesan positif karena seseorang merasa sedang memperbaiki pola makan. Namun jika dilakukan secara ekstrem, kondisi tersebut dapat menyebabkan kekurangan nutrisi hingga penurunan berat badan yang berbahaya.

Tanda-Tanda Orthorexia yang Perlu Diwaspadai

Menurut terapis keluarga Ashley Moser dari The Renfrew Center of Charlotte, ada beberapa gejala umum yang sering muncul pada orang dengan orthorexia, seperti:

- Terlalu sering memeriksa label nutrisi atau daftar bahan makanan
- Menolak makan makanan yang dianggap tidak sehat atau terlalu diproses
- Merasa cemas ketika makanan "sehat" tidak tersedia
- Membatasi jenis makanan hingga pilihannya semakin sedikit

Dalam beberapa kasus, seseorang bahkan mulai menghindari acara sosial agar bisa mengontrol makanan yang mereka konsumsi. Mereka lebih memilih makan sendiri demi memastikan makanan yang dimakan sesuai dengan standar yang mereka buat.

Menurut Kelsey, beberapa perilaku ini juga kadang muncul pada penderita Anorexia Nervosa, meski tidak selalu memenuhi kriteria diagnosa tersebut.

Cara Mengatasi Orthorexia

Penanganan orthorexia umumnya memerlukan pendekatan yang melibatkan beberapa ahli. KKombinasi terapi psikologis dan konseling nutrisi sering menjadi langkah yang efektif.

Tujuannya adalah membantu seseorang kembali memiliki pola makan yang lebih seimbang dan beragam. Kelsey juga menambahkan bahwa dalam kasus yang lebih serius-misalnya ketika terjadi kekurangan gizi atau penurunan berat badan drastis-perawatan intensif oleh tim medis mungkin diperlukan.

Namun jika kondisinya belum terlalu parah, konsultasi dengan ahli gizi atau psikolog sudah dapat membantu seseorang memahami kembali hubungan mereka dengan makanan.

Ketika Pola Makan Sehat Menjadi Tidak Sehat

Memiliki niat untuk makan lebih sehat tentu bukan hal yang salah. Bahkan kebiasaan seperti memperbanyak konsumsi sayur atau lebih sadar terhadap makanan yang dikonsumsi adalah langkah positif.

Namun menurut Kelsey, tanda bahaya muncul ketika kebiasaan tersebut mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Misalnya, seseorang mulai menghindari aktivitas sosial atau merasa sangat cemas jika tidak bisa makan sesuai aturan yang mereka buat sendiri.

Jika pola makan sudah membuat hidup terasa terbatas, mungkin sudah waktunya mengevaluasi kembali kebiasaan tersebut. Pada akhirnya, kunci dari gaya hidup sehat adalah keseimbangan, bukan aturan yang terlalu ketat.

(hst/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads