Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Kisah Wanita Hampir Kehilangan Nyawa Karena Manikur Gel

Vina Oktiani - wolipop
Senin, 09 Mar 2026 18:30 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Kuku palsu Lili sebelum dicopot
Foto: via SCMP
Jakarta -

Tren mempercantik kuku dengan gel nails atau kuku palsu memang sedang populer. Namun siapa sangka, kebiasaan ini ternyata bisa membawa risiko serius dalam situasi darurat medis.

Melansir SCMP, hal inilah yang dialami seorang wanita berusia 28 tahun di Provinsi Hunan, China. Wanita yang menggunakan nama samaran Lili itu tiba-tiba mengalami serangan jantung pada 5 Februari lalu dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Rakyat Provinsi Hunan untuk mendapatkan pertolongan.

Tim medis segera memberikan penanganan darurat. Namun mereka menghadapi kendala saat mencoba memasang alat pulse oximeter di ujung jari Lili. Alat ini biasanya digunakan untuk memantau kadar oksigen dalam darah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kuku palsu Lili sebelum dicopotKuku palsu Lili sebelum dicopot Foto: via SCMP

Sayangnya, alat tersebut tidak bisa membaca data dengan benar karena kuku palsu Lili yang tebal dan panjang. Lapisan gel pada kukunya menghalangi sinar inframerah dari alat tersebut yang seharusnya digunakan untuk mengukur kadar oksigen melalui jari.

Dokter sempat mencoba melepas kuku palsu itu sendiri, tetapi gagal karena kukunya menempel sangat kuat. Dalam kondisi darurat, pihak rumah sakit akhirnya memanggil seorang manicurist atau ahli manikur untuk membantu melepas kuku tersebut menggunakan alat khusus.

ADVERTISEMENT

Setelah kuku berhasil dilepas, tim medis akhirnya dapat memasang alat dan melanjutkan proses penanganan. Beruntung, nyawa Lili berhasil diselamatkan tepat waktu.

Kuku palsu Lili setelah dicopotKuku palsu Lili setelah dicopot Foto: via SCMP

Seorang dokter dari rumah sakit tersebut mengatakan bahwa kasus seperti ini sebenarnya cukup sering terjadi. Menurutnya, manikur tertentu bisa menghambat proses pemeriksaan medis, terutama jika kukunya terlalu tebal atau menggunakan cat berwarna gelap.

Dokter darurat Liu Xiao dari Rumah Sakit Afiliasi Kedua Universitas Zhejiang bahkan menyarankan para pecinta manikur untuk membiarkan setidaknya satu jari tanpa hiasan kuku. Hal itu bisa menjadi 'kesempatan penyelamat nyawa' jika suatu saat diperlukan pemeriksaan medis darurat.

Ia juga pernah menangani pasien wanita berusia 20-an yang datang ke unit gawat darurat dalam kondisi koma. Saat itu, alat pengukur oksigen juga tidak bisa membaca data karena kuku gel pasien terlalu tebal. Solusinya, tim medis akhirnya menggunakan alat pengukur oksigen yang dipasang di telinga.

Seorang staf produsen alat pulse oximeter juga menjelaskan bahwa bukan hanya kuku gel tebal yang bisa mengganggu pembacaan alat. Cat kuku berwarna gelap juga dapat menyerap atau memantulkan cahaya sehingga hasilnya menjadi tidak akurat.

Kisah ini pun ramai dibicarakan di media sosial China. Banyak warganet yang mengaku baru menyadari risiko dari penggunaan kuku palsu.

"Aku akan menyisakan dua jari tanpa manikur mulai sekarang," tulis seorang pengguna internet.
Sementara yang lain berkomentar, "Dulu aku sudah jarang manikur karena merasa kurang higienis. Sekarang ada alasan tambahan."

Meski begitu, ada juga yang berpendapat bahwa orang tetap berhak mempercantik kuku mereka, karena kadar oksigen masih bisa diukur dari bagian tubuh lain seperti telinga atau jari kaki.

(vio/vio)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads