Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Diet Hormon Viral di TikTok, Benarkah Bisa Atasi Jerawat hingga Mood Swing?

Almira Riva Az Zahra - wolipop
Jumat, 13 Mar 2026 08:40 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Ilustrasi Diet
Foto: iStockphoto/Getty Images/P Stock
Jakarta -

Bagi perempuan, perubahan suasana hati yang drastis, munculnya jerawat secara tiba-tiba, mudah lelah, hingga nyeri saat menstruasi merupakan pengalaman yang tidak asing. Kondisi ini umumnya terjadi karena ketidakseimbangan hormon dalam tubuh.

Oleh karena itu kini banyak bermunculan di Instagram dan Tiktok tren yang diklaim dapat membantu menyeimbangkan hormon. Selain diet yang menyesuaikan dengan siklus menstruasi dan konsumsi biji-bijian tertentu, warganet juga ramai membahas menu untuk hormon, seperti salad hormon dan smoothies penyeimbang hormon.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di balik berbagai resep viral tersebut, ada pula pola makan yang lebih terstruktur seperti Hormone Reset Diet, salah satu diet yang paling sering dibicarakan dalam konteks kesehatan hormon. Pola makan ini disebut bisa menjadi panduan untuk membantu menyeimbangkan hormon melalui makanan. Meski demikian, banyak klaim seputar tren tersebut yang masih memiliki dukungan ilmiah terbatas. Walau tren makanan berbasis bahan utuh yang disebut dapat menyeimbangkan hormon umumnya tidak berbahaya, klaim yang menjanjikan solusi untuk semua masalah kesehatan patut diwaspadai.

Dr. Sara Gottfried, seorang ginekolog, mengatakan dalam bukunya The Hormone Reset Diet, bahwa mengurangi konsumsi gula, alkohol, produk susu, dan sejenisnya dapat membantu menyeimbangkan hormon jika dilakukan dalam rentang waktu tertentu.

ADVERTISEMENT

Sedangkan menurut Sahar Bejis, pendiri Inner Health & Wellness, diet hormon seharusnya bersifat mendukung tubuh, bukan justru membatasi terlalu banyak hal. Bejis menyarankan agar kebutuhan nutrisi tubuh dipenuhi melalui makanan yang tepat serta dengan mengurangi stres.

Seperti dikutip dari the every girl, diet penyeimbang hormon juga akan lebih efektif jika dikombinasikan dengan manajemen stres yang baik. Hormon kortisol yang muncul saat stres dapat mengganggu sistem tubuh lainnya. Jika pola makan sudah sehat tetapi stres masih sulit dikendalikan, diet tersebut bisa menjadi kurang efektif.

"Diet dengan tujuan 'mereset' hormon akan lebih efektif jika disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu," kata Bejis.

Untuk membantu mengurangi kelebihan hormon tertentu, daging olahan dapat diganti dengan sayuran yang kaya serat. Gula dan karbohidrat olahan juga bisa diganti dengan lemak sehat serta protein agar energi dan kadar insulin lebih stabil.

Mengurangi camilan olahan yang tinggi fruktosa juga dianjurkan agar hormon leptin, yang berperan mengatur nafsu makan, tetap seimbang. Selain itu, menghindari alkohol diyakini dapat membantu menjaga kadar estrogen tetap sehat dalam tubuh. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa makanan tertentu memang dapat memengaruhi produksi dan fungsi hormon.

Beberapa kebiasaan yang masih sering dilakukan saat diet juga dapat berdampak buruk, misalnya makan dengan porsi yang terlalu sedikit. Kebiasaan ini dapat mengganggu hormon, memperlambat metabolisme, dan membuat tubuh mudah lelah. Terlebih jika karbohidrat dihilangkan sepenuhnya, kadar kortisol bisa meningkat dan gula darah menjadi tidak stabil.

Melewatkan protein saat sarapan juga bukan pilihan yang baik. Protein berperan penting dalam mengatur nafsu makan dan kadar insulin. Tanpa asupan protein yang cukup, tubuh akan lebih mudah lelah dan justru cenderung makan lebih banyak. Selain itu, manajemen stres yang buruk dan waktu tidur yang tidak teratur juga sering menjadi penyebab diet gagal.

Oleh karena itu, penting untuk makan secara seimbang dan teratur. Kebiasaan sehat seperti berjemur di pagi hari, mengatur napas, serta melakukan olahraga ringan juga dapat membantu tubuh menjadi lebih tenang dan mengurangi stres. "Tidur yang teratur dan banyak melakukan relaksasi merupakan cara paling efektif untuk membantu menyeimbangkan hormon," kata Bejis.

(eny/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads