Cerita Pasien Covid-19 di RS Bandung, Ungkap Pengorbanan Petugas Medis

Daniel Ngantung - wolipop Kamis, 02 Apr 2020 06:30 WIB
Sebanyak empat negara memiliki kasus virus Corona (Covid-19) terbanyak di dunia. Negara mana saja? Ilustrasi dokter menangani pasien Covid-19. (Foto: AP Photo)
Bandung -

Satu per satu pasien COVID-19 yang disebabkan oleh virus corona mulai sembuh. Salah satu pasien tersebut adalah sepupu gitaris Nidji Muhammad Ramadhista Akbar.

Baru-baru ini, Ramadhista mengunggah vlog perbincangannya dengan sepupunya yang bernama Yuri Wardhana itu lewat Skype. Di vlog yang diunggah di YouTube tersebut, Yuri menceritakan bagaimana ia bisa terinfeksi virus corona sampai akhirnya positif dan pengalamannya saat harus menjalani isolasi intensif di rumah sakit.

Pria asal Bandung, Jawa Barat, ini adalah pasien dengan kode 12. Ia mengaku sempat diisolasi di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung.

Cerita Pasien Covid-19 di RS Bandung, Ungkap Pengorbanan Petugas Medis(Foto: Muklis Dinillah/detikcom)


Perbincangan tersebut diawali dengan cerita Yuri tentang awal mula virus tersebut masuk ke tubuhnya. Yuri yang berprofesi sebagai penari itu menduga terpapar virus corona saat menghadiri sebuah acara dansa di Jakarta.

Acara tersebut sempat menjadi pemberitaan karena disebut-sebut sempat dihadiri pasien pertama Covid-19 di Indonesia. "Detailnya bisa baca di berita. Saat dansa, di situ ada WNA. Karena kita tahu ya anak-anak dansa sudah saling kenal, jadi sekalinya ada orang asing tuh kita sadar itu siapa. Masalah saya kontak apa nggak, saya nggak ingat," kata Yuri.

Yuri masih merasa sehat sampai akhirnya mulai merasa tak enak badan selang tiga hari setelah menghadiri acara tersebut. Sepulang dari Jakarta, tubuhnya seperti dirundung flu biasa yang disertai batuk dan pilek. "Setelah lima hari, sembuh. Udah, nggak ada rasa apa-apa," aku dia.

Kembali ke Jakarta, betapa kagetnya ia mendengar cerita dari teman-temannya tentang nasib WNA yang dia lihat di acara dansa tersebut. WNA tersebut diketahui positif virus corona sepulang dari Indonesia.

Singkat cerita, Yuri akhirnya mengajukan diri untuk menjalani tes demi mengantisipasi agar virus corona tidak menjangkiti orangtua dan anggota keluarga lain yang tinggal bersamanya.

Tes dilakukan di Jakarta. Itu juga setelah ia mencari sendiri info tentang tes tersebut. "Saat itu tes memang masih terbatas," tambah Yuri yang kala itu menjalani tes swab sebagaimana standar WHO.

Yuri baru mendapat hasil tesnya setiba di Bandung. Dugannya pun benar, virus corona ternyata sudah menjangkiti tubuhnya. Lewat telepon, Dinas Kesehatan Bandung mengabari dirinya positif dan hendak menjemput Yuri malam itu juga untuk dibawa ke RS Hasan Sadikin. Namun, ia justru mengusulkan untuk datang langsung ke RS demi menghindari kegaduhan di sekitar rumahnya.

"Jadi saya ke sana pakai motor sendirian malam-malam. Dalam hati kayak, wah dalam hati harus isolasi nih. Seminggu lebih ada kali. Jadi di perjalanan tuh pelan-pelan, dinikmati," ceritanya.



Sampai rumah sakit, Yuri langsung menuju sebuah tempat sebagaimana yang telah diinstruksikan. Sampai pada titik itu, kondisi kesehatannya masih baik-baik saja. Meski ada perasaan was-was, ia berusaha untuk tetap tenang. Ia bahkan sempat menertawai diri sendiri setelah melihat satpam berusaha menjauh setelah Yuri memberi tahu status kesehatannya.

"Banyak yang parno kayak gitu, lihat saya kayak lihat setan. Kalau mereka teredukasi dengan baik, penularannya cuma dari droplet, selama saya nggak batuk di depan dia atau nggak bersin di depan dia atau menempelkan bekas dijilat ke muka dia itu nggak akan nular," ungkap Yuri.

Ia lalu menceritakan kondisi ruang isolasi yang ditempatinya. Menurut pengakuan Yuri, ruangan tersebut mengingatkannya pada film 'Resident Evil': sebuah bilik yang memiliki satu ruangan 'netral'. Tak ada sinar matahari yang masuk. Terlepas dari itu, ruangan isolasi dilengkapi pendingin pendingin udara yang dibiarkan menyala terus selama 24 jam untuk menjaga kesejukan. "Secara keseluruhan ruangannya bagus, ada intercom, kayak VVIP tapi bedanya sendirian," tambah dia.

Ruangan 'netral' tersebut, kata Yuri, berfungsi sebagai tempat perawat mengantarkan makanan dan kebutuhan lainnya.

Tidak ada televisi, bermain handphone menjadi satu-satunya hiburan bagi Yuri selama masa isolasi dua minggu lebih. Itu pun dengan kondisi sinyal yang sangat terbatas. Satu kegiatan lain yang dirasakannya sangat menghibur adalah mandi air hangat. Ia baru bisa mandi pada hari ketiga. Mandi air hangat sangat membantunya untuk melepaskan rasa penat dan stres akibat efek isolasi. "Sehari saya bisa mandi sampai tiga kali," aku Yuri.

Cerita Pasien Covid-19 di RS Bandung, Ungkap Pengorbanan Petugas MedisIlustrasi petugas medis yang menangani pasien Covid-19. (Foto: ANTARA FOTO/Aji Styawan)



Tidak ada obat-obatan khusus, hanya satu vitamin yang perlu dikonsumsinya sehari sekali. Tes swab juga rutin dijalankan. Ia sempat sekali melakukan pengecekan darah dan roentgen untuk melihat kondisi paru-parunya. Ia sangat bersyukur, meski mengidap asma, virus corona tidak sampai menggerogoti paru-paru di tubuhnya.

Merasakan pengalaman diisolasi lantas membuka mata Yuri untuk melihat langsung kerja keras para dokter dan suster sebagai garda terdepan dalam menangani pasien Covid-19. Ia yakin tak mudah bagi para tenaga medis tersebut menjalankan tugas dengan tubuh yang dibungkus alat pelindung diri (APD) lengkap dan masker yang berlapis-lapis.

"Mereka benar-benar mempertaruhkan hidupnya. Mana mereka berisiko (tertular) pula. Dan saya yakin itu nggak nyaman dan gerah banget. Terbukti di kacamata mereka tuh sering banget berembun. Embun bukan dari napas karena hidung tertutup masker tapi karena emang hawa panas," tutur Yuri.

Meski sibuk mengurusi pasien lain, lanjut Yuri, mereka sebisa mungkin meluangkan waktu untuk mengobrol dengannya. Sebagai seorang pasien isolasi yang sangat membutuhkan teman ngobrol, Yuri sangat mengapresiasi aksi sederhana tersebut.

Melihat pengorbanan para tenaga medis itu, ia pun merasa pesan tetap di rumah untuk meringankan beban para dokter dan perawat sangat benar adanya. Oleh karena itu, Yuri yang sekalipun saat ini sudah negatif dari corona dan boleh keluar dari RS dengan sukarela mau menjalani masa isolasi tambahan selama dua minggu di rumah.

Di saat seperti ini, ia mengorbankan dulu egonya untuk menikmati udara bebas di luar demi keselamatan para tenaga medis dan orang-orang tercintanya di rumah. Tentunya agar badai cobaan wabah Covid-19 cepat berlalu di Indonesia.

[Gambas:Instagram]





Simak Video "Intimate Wedding Jadi Tren Baru di Masa Pandemi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)