Terapi 'Kematian' untuk Atasi Depresi Populer di Korea
Arina Yulistara - wolipop
Rabu, 04 Nov 2015 06:12 WIB
Jakarta
-
Pria maupun wanita yang mengalami depresi lalu memutuskan bunuh diri kerap terjadi di Korea Selatan. Bahkan berdasarkan data terbaru, tingkat bunuh diri di Korea Selatan semakin meningkat. Hampir 40 orang melakukan bunuh diri setiap harinya.
Sebagai solusi, salah satu klinik di Korea, Seoul Hyowon Healing Center, memberikan jalan keluar dengan terapi 'kematian'. Terapi tersebut menjadi populer dan diminati oleh para wanita dan pria dari seluruh kalangan di negara beribukota Seoul itu.
Seperti dilansir dari Oddity Central, pasien yang datang ke klinik Hyowon tidak hanya orangtua tapi juga para remaja. Sebagian besar orangtua yang menginginkan terapi 'kematian' karena memiliki beban keuangan. Sedangkan remaja yang datang ke klinik karena mendapatkan tekanan dari orangtua mereka.
Lalu apa yang dimaksud terapi 'kematian'? Terapi ini dilakukan dengan tujuan memberikan pengalaman ditinggalkan 'sendiri' dalam peti mati. Bagaimana ketika seseorang benar-benar meninggal lalu masuk ke dalam kegelapan.
Terapi diawali dengan berganti busana mengenakan busana serba putih lalu duduk di dalam peti mati. Kemudian mereka juga diminta menuliskan pesan terakhir untuk orang-orang tersayang menggunakan pena di atas kertas kecil. Terapi dilakukan dalam sebuah kelas yang semua pesertanya memiliki permasalahan hidup sehingga ingin bunuh diri.
Sebelum peti mati ditutup semua peserta akan diberikan ceramah singkat oleh mantan pekerja tempat makam, Jeong Yong-mun. Baru setelah itu semua peserta diminta berbaring dalam peti mati. Mereka diminta menutup mata dan peti juga ditutup.
Selama sekitar sepuluh menit mereka ditinggalkan dalam kegelapan. Pasca sepuluh menit selesai, para peserta diminta ungkapan perasaannya bagaimana ditinggalkan sendirian dalam kegelapan tanpa siapa pun.
Sebagian besar mengatakan mereka merasa lebih 'segar' dan beban pikiran berkurang setelah terapi 'kematian'. "Anda telah sedikit merasakan seperti apa kematian, dan kini Anda masih hidup makanya Anda harus berjuang," jelas Jeong Yong-mun memberikan semangat.
Terapi peti mati ini bukanlah konsep baru untuk meredakan depresi. Beberapa tahun lalu, seseorang dari Ukraina telah mencobanya. Beberapa klinik di Shenyang, China, juga sudah menyediakan pelayanan terapi kematian. Terapi ini diminati karena para peserta yang telah mencobanya merasa bisa berpikir lebih positif untuk menjalani hidup ke depannya.
(aln/eny)
Sebagai solusi, salah satu klinik di Korea, Seoul Hyowon Healing Center, memberikan jalan keluar dengan terapi 'kematian'. Terapi tersebut menjadi populer dan diminati oleh para wanita dan pria dari seluruh kalangan di negara beribukota Seoul itu.
Seperti dilansir dari Oddity Central, pasien yang datang ke klinik Hyowon tidak hanya orangtua tapi juga para remaja. Sebagian besar orangtua yang menginginkan terapi 'kematian' karena memiliki beban keuangan. Sedangkan remaja yang datang ke klinik karena mendapatkan tekanan dari orangtua mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terapi diawali dengan berganti busana mengenakan busana serba putih lalu duduk di dalam peti mati. Kemudian mereka juga diminta menuliskan pesan terakhir untuk orang-orang tersayang menggunakan pena di atas kertas kecil. Terapi dilakukan dalam sebuah kelas yang semua pesertanya memiliki permasalahan hidup sehingga ingin bunuh diri.
Sebelum peti mati ditutup semua peserta akan diberikan ceramah singkat oleh mantan pekerja tempat makam, Jeong Yong-mun. Baru setelah itu semua peserta diminta berbaring dalam peti mati. Mereka diminta menutup mata dan peti juga ditutup.
Selama sekitar sepuluh menit mereka ditinggalkan dalam kegelapan. Pasca sepuluh menit selesai, para peserta diminta ungkapan perasaannya bagaimana ditinggalkan sendirian dalam kegelapan tanpa siapa pun.
Sebagian besar mengatakan mereka merasa lebih 'segar' dan beban pikiran berkurang setelah terapi 'kematian'. "Anda telah sedikit merasakan seperti apa kematian, dan kini Anda masih hidup makanya Anda harus berjuang," jelas Jeong Yong-mun memberikan semangat.
Terapi peti mati ini bukanlah konsep baru untuk meredakan depresi. Beberapa tahun lalu, seseorang dari Ukraina telah mencobanya. Beberapa klinik di Shenyang, China, juga sudah menyediakan pelayanan terapi kematian. Terapi ini diminati karena para peserta yang telah mencobanya merasa bisa berpikir lebih positif untuk menjalani hidup ke depannya.
(aln/eny)











































