Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Vaginal Atrophy Sering Tak Disadari Wanita, Ini Gejala dan Cara Mengatasinya

Almira Riva Az Zahra - wolipop
Rabu, 27 Mei 2026 15:18 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Ilustrasi Vaginal Atrophy
Foto: Getty Images/Photo travelling people sports
Jakarta -

Layaknya kulit wajah yang bisa kering dan kehilangan kekenyalannya seiring waktu, area intim wanita juga bisa mengalami hal yang sama. Kondisi ini disebut vaginal atrophy. Akibat perubahan hormon, jaringan vulva dan bagian dalam vagina mengalami "penyusutan" sehingga menjadi lebih tipis, kering, rapuh, dan rentan terluka.

Sayangnya, masih banyak wanita yang belum memahami masalah vaginal atrophy. Padahal, kondisi ini termasuk masalah kewanitaan yang cukup sering terjadi dan kerap tidak disadari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilansir dari Her World, penelitian terbaru oleh KK Women's and Children's Hospital (KKH) Singapura menunjukkan bahwa 4 dari 10 wanita berusia 45 hingga 65 tahun mengalami gejala sedang hingga berat vaginal atrophy. Kondisi ini menempati peringkat keempat masalah yang muncul menjelang menopause, bahkan lebih tinggi dibanding gejala hot flashes atau keringat malam.

Apa Beda Vaginal Atrophy dengan Kekeringan Vagina?

"Kekeringan vagina mengacu pada berkurangnya pelumasan pada vagina, sementara vaginal atrophy adalah permasalahan yang lebih luas dan berkaitan dengan penipisan serta peradangan pada vagina," ujar Dr. Jean-Jasmin Lee Mi-li, konsultan di KK Menopause Centre dan KKH Sexual Health Clinic.

ADVERTISEMENT

Vaginal atrophy dapat dipicu perubahan hormon, seperti saat menyusui, stres, diabetes, konsumsi obat-obatan tertentu, hingga pengobatan kanker. Namun, kondisinya bisa memburuk selama masa perimenopause dan menopause.

Dr. Lee mengungkapkan bahwa masalah kesehatan intim selama menopause sering kali tidak diungkapkan. "Padahal penelitian tersebut menunjukkan bahwa masalah kewanitaan saat menopause sangat berdampak pada kehidupan perempuan," ujarnya.

Spesialis uroginekologi dari Aster Gynaecology, Dr. Ng Kai Lyn, mengatakan kebanyakan wanita baru datang ke klinik ketika gejala atrofi vagina sudah cukup parah. Gejalanya antara lain infeksi saluran kemih yang tidak kunjung sembuh, hematuria mikroskopis atau adanya darah dalam urin, serta gangguan lain yang berkaitan dengan buang air kecil.

"Saat menjelang menopause, jarak antara saluran kemih dan vagina menjadi sangat dekat dan kulit di sekitar vagina serta vulva menipis," ujar Dr. Ng. Menurutnya, kondisi ini dipicu oleh menurunnya kadar estrogen dalam tubuh.

Ketika estrogen menurun, retakan-retakan kecil dapat terbentuk pada kulit dan menjadi jalan masuk bakteri. Bakteri inilah yang kemudian masuk ke saluran kemih dan menyebabkan infeksi saluran kemih maupun kandung kemih.

Karena minimnya pengetahuan tentang vaginal atrophy, banyak wanita tidak menyadari bahwa masalah ini berkaitan dengan perimenopause. Beberapa pasien Dr. Ng bahkan baru mengetahui penyebab infeksi kemihnya terkait menopause setelah berpindah-pindah dokter umum hingga ahli urologi.

Bagaimana Mengobati Vaginal Atrophy?

Ilustrasi Vaginal Atrophy

Foto: Getty Images/Photo travelling people sports

Vaginal atrophy dapat ditangani secara efektif dengan terapi hormonal maupun non-hormonal. Di Singapura sendiri telah diluncurkan pedoman pengelolaan transisi menopause yang juga mencakup gejala gangguan kandung kemih dan kesehatan intim.

Panduan tersebut merekomendasikan pasien untuk tidak malu melaporkan gejala yang dialami, sekaligus mendorong tenaga medis lebih aktif menanyakan keluhan terkait selama konsultasi.

"Pengobatan vaginal atrophy bisa menggunakan pelembap dan pelumas vagina atau estrogen vagina untuk gejala yang sudah kronis," ujar Dr. Lee.

Pelumas untuk pengobatan berbeda dengan pelumas aktivitas seksual. Produk untuk vaginal atrophy umumnya berbentuk gel atau pil yang larut setelah dimasukkan ke dalam vagina.

Pelembap vagina membantu memperbaiki kondisi kulit vagina secara menyeluruh. Jika pelembap dan pelumas belum memberikan hasil, dokter dapat memberikan estrogen vagina dalam bentuk pil atau krim oles.

"Biasanya obat ini digunakan dua kali seminggu pada malam hari sebelum tidur," kata Dr. Ng. Menurutnya, terapi ini relatif aman untuk penggunaan jangka panjang karena bekerja lokal di area vagina dengan penyerapan ke aliran darah yang sangat minim.

Ada pula Hormone Replacement Therapy (HRT) atau terapi penggantian hormon yang digunakan sebagai solusi jangka panjang untuk gejala menopause. HRT biasanya diberikan pada wanita menopause yang mengalami hot flashes, gangguan suasana hati, sulit tidur, hingga kesulitan berkonsentrasi.

Pengobatan HRT sempat dianggap menakutkan oleh banyak pasien. Padahal, terapi penggantian hormon memiliki banyak manfaat bagi wanita yang terganggu oleh gejala menopause.

Pilihan lain untuk mengatasi vaginal atrophy adalah Morpheus8V, yakni aplikator khusus vagina pada alat Morpheus8. Teknologi Morpheus8 sendiri sudah cukup umum digunakan dalam perawatan kecantikan wajah karena dapat membantu meningkatkan hidrasi kulit.

(eny/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads