6 Mitos Seputar Depresi Pasca Melahirkan yang Dialami Hayden Panettiere
Hestianingsih - wolipop
Kamis, 15 Okt 2015 11:00 WIB
Jakarta
-
Hayden Panettiere secara mengejutkan mengaku kepada publik, bahwa dirinya pernah mengalami depresi pasca melahirkan (postpartum depression -PPD) yang mengharuskan dirinya dirawat di rehabilitasi. Dalam sebuah wawancara televisi bulan lalu, aktris berusia 26 tahun itu mengatakan bahwa masih banyak orang yang menganggap PPD atau baby blues tidaklah nyata dan tidak pernah benar-benar terjadi.
"Bahwa PPD adalah sesuatu yang dibentuk dari pikiran sendiri, bahwa, 'Oh, itu cuma hormon.' Mereka tidak peduli. Tapi itu adalah sesuatu yang tidak bisa terkontrol. Sangat menyakitkan dan menakutkan dan wanita perlu banyak dukungan mental," ungkap Hayden, seperti dikutip dari Women's Health US.
Apa yang dikatakan Hayden bukanlah isapan jempol belaka. PPD, banyak ibu baru yang mengalaminya namun pemahaman orang terhadap gangguan mental pasca melahirkan itu masih sangat minim. Hal itu membuat banyak bermunculan mitos soal PPD dan baby blues yang seringkali keliru, dan beberapa faktanya.
1. Depresi Setelah Melahirkan Itu Normal
Sebanyak 80 persen ibu baru mengalami baby blues, yang ditandai dengan rasa sedih, stres dan marah karena kelahiran bayi. Baby blues biasanya hanya berlangsung beberapa minggu setelah melahirkan. Namun pada sebagian wanita, stres dan depresi bisa berkepanjangan dan semakin kuat intensitasnya sehingga memengaruhi fungsinya sebagai wanita maupun seorang ibu hingga berkembang menjadi PPD yang memerlukan penanganan dokter.
2. Hanya Ibu yang Mengalami PPD
Depresi bisa saja dihadapi setiap orangtua yang baru memiliki anak. Jadi tidak hanya ibu, ayah baru pun berpotensi menderita PPD. Studi yang dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association menemukan ada 10 persen pria yang mengalami prenatal atau PPD. Biasanya PPD baru dialami para ayah baru sekitar tiga hingga enam bulan setelah kelahiran bayi.
3. Gejala PPD Muncul 3 Bulan Pertama Pasca Kelahiran
Tidak selalu. The Lancet Psychiatry melansir hasil penelitian bahwa wanita juga bisa mengalami depresi bahkan ketika bayi masih berada di kandungan. Ada pula wanita yang mengalami PPD hingga setahun setelah kelahiran bayi.
4. Wanita dengan PPD Menangis Setiap Waktu
Air mata hanyalah salah satu gejala PPD, tapi depresi juga bisa muncul dalam bentuk lain yang mungkin tidak langsung dipahami orang lain. Beberapa gejala PPD adalah hilangnya nafsu makan, susah tidur, gelisah, terkena serangan panik, sulit konsentrasi atau selalu merasa kekurangan.
5. PPD, Tanda Wanita Lemah
Mengalami depresi pasca melahirkan bukan berarti ia wanita yang lemah atau belum siap menjadi ibu. Banyak faktor yang melatari terjadinya PPD dan sebagian besar berasal dari kondisi biologis. Seperti hormon estrogen dan progesterone yang turun drastis, kurang tidur karena harus menyusui dan mengganti popok setiap waktu dan terpengaruhnya kestabilan emosional.
6. Setiap Kehamilan dan Kelahiran akan Menimbulkan PPD
Tidak setiap wanita akan mengalami baby blues atau PPD setelah melahirkan. Namun wanita yang pernah depresi di kelahiran anak pertama, berpotensi mengalami PPD di kelahiran-kelahiran berikutnya. American Psychological Association merilis data bahwa sekitar 41 persen wanita yang pernah menderita PPD akan mengalaminya kembali, namun dengan kondisi mental yang lebih siap dan biasanya tidak separah dibandingkan yang pertama.
(hst/hst)
"Bahwa PPD adalah sesuatu yang dibentuk dari pikiran sendiri, bahwa, 'Oh, itu cuma hormon.' Mereka tidak peduli. Tapi itu adalah sesuatu yang tidak bisa terkontrol. Sangat menyakitkan dan menakutkan dan wanita perlu banyak dukungan mental," ungkap Hayden, seperti dikutip dari Women's Health US.
Apa yang dikatakan Hayden bukanlah isapan jempol belaka. PPD, banyak ibu baru yang mengalaminya namun pemahaman orang terhadap gangguan mental pasca melahirkan itu masih sangat minim. Hal itu membuat banyak bermunculan mitos soal PPD dan baby blues yang seringkali keliru, dan beberapa faktanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebanyak 80 persen ibu baru mengalami baby blues, yang ditandai dengan rasa sedih, stres dan marah karena kelahiran bayi. Baby blues biasanya hanya berlangsung beberapa minggu setelah melahirkan. Namun pada sebagian wanita, stres dan depresi bisa berkepanjangan dan semakin kuat intensitasnya sehingga memengaruhi fungsinya sebagai wanita maupun seorang ibu hingga berkembang menjadi PPD yang memerlukan penanganan dokter.
2. Hanya Ibu yang Mengalami PPD
Depresi bisa saja dihadapi setiap orangtua yang baru memiliki anak. Jadi tidak hanya ibu, ayah baru pun berpotensi menderita PPD. Studi yang dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association menemukan ada 10 persen pria yang mengalami prenatal atau PPD. Biasanya PPD baru dialami para ayah baru sekitar tiga hingga enam bulan setelah kelahiran bayi.
3. Gejala PPD Muncul 3 Bulan Pertama Pasca Kelahiran
Tidak selalu. The Lancet Psychiatry melansir hasil penelitian bahwa wanita juga bisa mengalami depresi bahkan ketika bayi masih berada di kandungan. Ada pula wanita yang mengalami PPD hingga setahun setelah kelahiran bayi.
4. Wanita dengan PPD Menangis Setiap Waktu
Air mata hanyalah salah satu gejala PPD, tapi depresi juga bisa muncul dalam bentuk lain yang mungkin tidak langsung dipahami orang lain. Beberapa gejala PPD adalah hilangnya nafsu makan, susah tidur, gelisah, terkena serangan panik, sulit konsentrasi atau selalu merasa kekurangan.
5. PPD, Tanda Wanita Lemah
Mengalami depresi pasca melahirkan bukan berarti ia wanita yang lemah atau belum siap menjadi ibu. Banyak faktor yang melatari terjadinya PPD dan sebagian besar berasal dari kondisi biologis. Seperti hormon estrogen dan progesterone yang turun drastis, kurang tidur karena harus menyusui dan mengganti popok setiap waktu dan terpengaruhnya kestabilan emosional.
6. Setiap Kehamilan dan Kelahiran akan Menimbulkan PPD
Tidak setiap wanita akan mengalami baby blues atau PPD setelah melahirkan. Namun wanita yang pernah depresi di kelahiran anak pertama, berpotensi mengalami PPD di kelahiran-kelahiran berikutnya. American Psychological Association merilis data bahwa sekitar 41 persen wanita yang pernah menderita PPD akan mengalaminya kembali, namun dengan kondisi mental yang lebih siap dan biasanya tidak separah dibandingkan yang pertama.
(hst/hst)
Hobi dan Mainan
ORCA MAGMA01 vs Donner DAG-1CE: Gitar Ringkas atau Full Size, Mana Lebih Pas?
Kesehatan
Suplemen Harian Jaga Imun Tubuh di Tengah Aktivitas Padat! Review Swisse Ultiboost Vitamin C 1000mg
Pakaian Pria
Corduroy Jacket Jadi Outer Andalan Cowok yang Ingin Tampilan Casual Modern
Pakaian Pria
Raw Denim Bukan Cuma Tren Musiman! Investasi Celana yang Makin Lama Makin Bagus
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
9 Cara Menerapkan Sleep Hygiene agar Tidur Lebih Nyenyak Setiap Malam
Kisah Wanita 62 Tahun Hamil Lagi Setelah Anaknya Meninggal, Jadi Kontroversi
Bahaya Mencabut Bulu Hidung yang Jarang Disadari, Bisa Picu Infeksi Pernapasan
Penyebab Kuku Berwarna Kuning dan Tips Mengatasinya Agar Tampak Sehat
Benarkah Beras Porang Bagus untuk Diet? Ini Fakta dan Manfaatnya
Most Popular
1
Foto: Gaya Denada Sambut 2026, Seksi Pakai Gaun Menerawang
2
Mantan Desainer Marni Pindah ke GU Uniqlo, Siap Rancang Fashion Ramah Kantong
3
Viral Verificator
Bikin Melongo! Viral Aksi Emak-emak Pungut Sayur Sisa di Pasar untuk Dimasak
4
Ramalan Zodiak 11 Januari: Aquarius Buat Rencana, Pisces Banyak Peluang
5
7 Potret Siraman Anak Tommy Soeharto, Tata Cahyani Curi Atensi Berkebaya Floral
MOST COMMENTED











































