Diet Vegan Vs Diet Mayo
Efek Baik dan Buruk yang Didapat Tubuh Saat Menjalani Diet Vegan Vs Mayo
Intan Kemala Sari - wolipop
Jumat, 22 Mei 2015 16:54 WIB
Jakarta
-
Diet mayo dan diet vegan adalah dua jenis metode penurunan berat badan yang cukup populer. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, banyak pula orang-orang yang meneliti apakah dua diet ini memiliki efek yang signifikan kepada tubuh.
Jansen Ongko, Msc, RD selaku ahli gizi mengatakan, diet mayo di Indonesia yang diterapkan adalah menghilangkan asupan garam, membatasi karbohidrat, serta dilakukan dalam periode waktu tertentu, misalnya 13 atau 14 hari. Tetapi menurut versi aslinya, Mayo Clinic, diet tersebut lebih fokus kepada mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat secara keseluruhan, mulai dari pola makan hingga kebiasaan.
"Kalau pola makannya benar, akan meningkatkan faktor kesehatan, salah satunya adalah terhindar dari obesitas. Kedua, meringankan penyakit, baik yang ringan maupun kronis," jelasnya saat ditemui Wolipop di kawasan Blok M Jakarta Selatan, Selasa (19/5/2015).
Selain itu, perubahan stamina pada tubuh juga akan terasa saat menerapkan pola makan yang sehat. Pria yang juga menjabat sebagai ketua umum dari Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI) itu berkata, ketika seseorang sadar akan pola makan yang dikonsumsinya, ia akan mengalami peningkatan status kesehatan. "Kalau tubuh dan staminanya sehat karena pola makan yang benar, sebenarnya penurunan berat badan itu 'bonus' ya," katanya lagi.
Namun ada satu pertimbangan dari diet Mayo Clinic yang menjadi perhatiannya, yakni kurangnya anjuran untuk mengonsumsi protein. Padahal, mencukupi kebutuhan protein setiap harinya penting agar fungsi tubuh bekerja dengan baik dan bagi yang ingin menurunkan berat badan bisa sangat membantu. Kekurangan protein akan membuat jumlah peptide pada tubuh menurun. Peptide adalah senyawa kimia di dalam otak yang bertugas mengatur hasrat makan.
Baca Juga: 50 Inspirasi Gaun Pengantin 2015
Studi yang dipublikasikan dalam The Nutrition Journal menemukan bahwa orang yang melewatkan sarapan, memiliki tingkat peptide lebih rendah. Ketika level peptide rendah, maka orang cenderung akan makan berlebihan dan akhirnya berat badan naik tak terkontrol. Selain itu protein juga bisa mengurangi keinginan untuk mengonsumsi makanan gurih dan tinggi lemak. Seperti diketahui, makanan gurih umumnya banyak mengandung garam yang menyebabkan terjadinya penumpukan cairan sehingga menyebabkan tubuh terasa kembung dan bobot pun naik.
Jansen menilai, sebaiknya asupan protein ditambahkan dengan mengonsumsi makanan yang mengandung sumber protein seperti tahu, tempe, daging ikan, ayam, dan susu rendah gula. Pria lulusan ilmu gizi di salah satu universitas di Amerika ini juga mengkritisi diet vegan yang diterapkan oleh banyak orang. Menurutnya, karena keterbatasan pengetahuan seseorang tentang ilmu gizi, mereka berpikir bahwa bisa 'bertahan' hanya dengan memakan beberapa jenis makanan tertentu saja.
Keterbatasan pengetahuan itulah yang akan membuat seseorang kekurangan zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. "Otomatis kalau kurang zat gizi, semuanya akan sulit terpenuhi kalau hanya melakukan diet vegan saja. Mereka harus benar-benar mengerti diet apa yang mereka lakukan," lanjut pria 34 tahun itu.
Kekurangan zat gizi akan membuat pelaku diet vegan mempunyai kesempatan untuk mengalami malnutrisi lebih besar. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya protein dan ditambah lagi dengana tekanan darah yang rendah.
Ditambahkan oleh Dessy Ahli gizi Dessy Aryanti Utami dari LAGIZI Health & Nutrition Service, apabila diet vegan tidak dilakukan dengan benar tanpa berkonsultasi kepada ahli gizi terlebih dahulu, kemungkinan munculnya penyakit bisa terjadi. Seperti yang dialami oleh temannya yang melakukan diet vegetarian tanpa anjuran ahli gizi, ia mengidap penyakit kelenjar getah bening karena kekurangan mineral.
(Intan Kemala Sari/Hestianingsih)
Jansen Ongko, Msc, RD selaku ahli gizi mengatakan, diet mayo di Indonesia yang diterapkan adalah menghilangkan asupan garam, membatasi karbohidrat, serta dilakukan dalam periode waktu tertentu, misalnya 13 atau 14 hari. Tetapi menurut versi aslinya, Mayo Clinic, diet tersebut lebih fokus kepada mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat secara keseluruhan, mulai dari pola makan hingga kebiasaan.
"Kalau pola makannya benar, akan meningkatkan faktor kesehatan, salah satunya adalah terhindar dari obesitas. Kedua, meringankan penyakit, baik yang ringan maupun kronis," jelasnya saat ditemui Wolipop di kawasan Blok M Jakarta Selatan, Selasa (19/5/2015).
Selain itu, perubahan stamina pada tubuh juga akan terasa saat menerapkan pola makan yang sehat. Pria yang juga menjabat sebagai ketua umum dari Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI) itu berkata, ketika seseorang sadar akan pola makan yang dikonsumsinya, ia akan mengalami peningkatan status kesehatan. "Kalau tubuh dan staminanya sehat karena pola makan yang benar, sebenarnya penurunan berat badan itu 'bonus' ya," katanya lagi.
Namun ada satu pertimbangan dari diet Mayo Clinic yang menjadi perhatiannya, yakni kurangnya anjuran untuk mengonsumsi protein. Padahal, mencukupi kebutuhan protein setiap harinya penting agar fungsi tubuh bekerja dengan baik dan bagi yang ingin menurunkan berat badan bisa sangat membantu. Kekurangan protein akan membuat jumlah peptide pada tubuh menurun. Peptide adalah senyawa kimia di dalam otak yang bertugas mengatur hasrat makan.
Baca Juga: 50 Inspirasi Gaun Pengantin 2015
Studi yang dipublikasikan dalam The Nutrition Journal menemukan bahwa orang yang melewatkan sarapan, memiliki tingkat peptide lebih rendah. Ketika level peptide rendah, maka orang cenderung akan makan berlebihan dan akhirnya berat badan naik tak terkontrol. Selain itu protein juga bisa mengurangi keinginan untuk mengonsumsi makanan gurih dan tinggi lemak. Seperti diketahui, makanan gurih umumnya banyak mengandung garam yang menyebabkan terjadinya penumpukan cairan sehingga menyebabkan tubuh terasa kembung dan bobot pun naik.
Jansen menilai, sebaiknya asupan protein ditambahkan dengan mengonsumsi makanan yang mengandung sumber protein seperti tahu, tempe, daging ikan, ayam, dan susu rendah gula. Pria lulusan ilmu gizi di salah satu universitas di Amerika ini juga mengkritisi diet vegan yang diterapkan oleh banyak orang. Menurutnya, karena keterbatasan pengetahuan seseorang tentang ilmu gizi, mereka berpikir bahwa bisa 'bertahan' hanya dengan memakan beberapa jenis makanan tertentu saja.
Keterbatasan pengetahuan itulah yang akan membuat seseorang kekurangan zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. "Otomatis kalau kurang zat gizi, semuanya akan sulit terpenuhi kalau hanya melakukan diet vegan saja. Mereka harus benar-benar mengerti diet apa yang mereka lakukan," lanjut pria 34 tahun itu.
Kekurangan zat gizi akan membuat pelaku diet vegan mempunyai kesempatan untuk mengalami malnutrisi lebih besar. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya protein dan ditambah lagi dengana tekanan darah yang rendah.
Ditambahkan oleh Dessy Ahli gizi Dessy Aryanti Utami dari LAGIZI Health & Nutrition Service, apabila diet vegan tidak dilakukan dengan benar tanpa berkonsultasi kepada ahli gizi terlebih dahulu, kemungkinan munculnya penyakit bisa terjadi. Seperti yang dialami oleh temannya yang melakukan diet vegetarian tanpa anjuran ahli gizi, ia mengidap penyakit kelenjar getah bening karena kekurangan mineral.
(Intan Kemala Sari/Hestianingsih)
Health & Beauty
Secret Garden Extrait de Parfum, Wangi Mewah yang Tahan Lama dan Bikin Kesan Lebih Berkelas!
Health & Beauty
Rambut Lebih Halus & Anti Ngembang, Ini 3 Hair Care Andalan untuk Rambut yang Susah Diatur!
Hobbies & Activities
Main Badminton Lebih Stabil, Ini Rekomendasi 3 Shuttlecock yang Nyaman Dipakai Latihan Rutin
Hobbies & Activities
American Tourister Argyle Cabin 20 Inch jadi Solusi Ringkas dan Aman untuk Travel Singkat
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Penyebab Kuku Berwarna Kuning dan Tips Mengatasinya Agar Tampak Sehat
Benarkah Beras Porang Bagus untuk Diet? Ini Fakta dan Manfaatnya
5 Minuman yang Baik untuk Kesehatan Pencernaan, Atasi Perut Kembung
5 Makanan Terbaik untuk Buka Puasa Diet IF, Kenyang Lebih Lama dan BB Turun
Tak Hanya Minyak Berlebih, Ini Penyebab Jerawat di Wajah
Most Popular
1
Momen Miley Cyrus Ngomel ke Fotografer, Disuruh Lepas Kacamata di Red Carpet
2
Penampilan Terbaru Vidi Aldiano Bikin Pangling, Kini Berkumis Tebal
3
Kate Middleton Jadi Korban Kekejaman AI, Tersebar Gambar Sensual
4
Kisah Cinta Sesama Idol Jepang, Mantan AKB48 Akan Dinikahi Anggota BOYS & MEN
5
Komentator Politik yang Sebut Ibu Negara Prancis Transgender Kembali Menyindir
MOST COMMENTED











































