Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Liputan Khusus <i>AntiGravity Yoga</i>

Mengenal AntiGRavity Yoga, Olahraga 'Santai' yang Menguji Nyali

wolipop
Jumat, 19 Sep 2014 08:06 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Intan Kemala Sari/Wolipop
Jakarta -

Menjaga tubuh agar sehat dan bugar bisa dilakukan dengan berolahraga. Teknik-teknik baru agar aktivitas olahraga lebih menyenangkan untuk dilakukan pun terus diciptakan. Seperti yang belakangan ini cukup populer di kalangan pencinta olahraga, AntiGravity Yoga.

Konon, olahraga yang menguji keberanian dan memicu adrenalin ini mempunyai sensasi kenikmatan bagi yang pernah mencobanya. Gerakan-gerakannya cenderung santai (perlahan, tidak cepat dan berintensitas tinggi) tapi cukup menguji nyali. Seperti apa?

AntiGravity Yoga adalah salah satu bentuk aktivitas olahraga yang gerakannya mengadaptasi dari gerakan yoga pada umumnya. Namun yang membedakannya, terdapat bantuan alat berupa gantungan atau dikenal dengan istilah hammock, yang berfungsi untuk menopang tubuh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tetapi tahukah Anda bahwa AntiGravity Yoga sebenarnya adalah perpaduan antara gerakan akrobatik, yoga dan pilates? Pelopornya adalah Christopher Harrison, seorang mantan pemain gimnastik asal New York, Amerika Serikat, yang menemukannya pada tahun 1991. Sebelum meluncurkannya ke publik, Christoper terus menerus melakukan riset dan eksperimen mengenai gerakan-gerakan akrobatik yang bisa dilakukan dalam gerakan yoga.

Riset yang dilakukannya bertujuan agar gantungan panjang yang biasa digunakan dalam sirkus atau aksi akrobatik lainnya dapat diterapkan dalam olahraga ini dan memberikan manfaat bagi orang banyak. Ia berpendapat bahwa hammock atau gantungan ini sebenarnya dapat membuat tubuh menjadi lebih terbentuk karena otot-otot tangan tanpa sadar melakukan gerakan yang maksimal.

Gantungan pada atraksi akrobatik yang mempunyai tinggi antara dua hingga tiga meter ini dimodifikasi oleh Christopher dengan cara menurunkan ketinggiannya hingga 60-80 cm dari lantai sehingga dapat digunakan oleh orang umum, tidak harus penampil sirkus. Setelah itu, barulah pada awal tahun 1997, risetnya ini berhasil dan menjadikan olahraga ini sebagai bagian dari variasi yoga.

Menurut Wihartantyo Ari Wibowo yang merupakan instruktur yoga, perkembangan AntiGravity Yoga di Indonesia sendiri baru muncul pada tahun 2010. Seiring dengan berjalannya waktu, olahraga ini sempat populer namun tidak terdengar lagi gaungnya.

"Di tahun 2013, kita ambil lisensi dan pengembangannya di Indonesia. Jadi kalau ada studio baru mau bikin AntiGravity Yoga, harus lewat kita. Beli alatnya pun juga sama kita," ceritanya ketika berbincang dengan Wolipop di Svarga Studio, Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Selasa (16/09/2014).

Pria yang biasa disapa Ari ini juga menambahkan, "Bahkan instrukturnya pun juga harus mengambil sertifikasi melalui kita. Waktu itu saya juga ujian dengan guru yoga yang mau lisensi level dua," pungkasnya.

Melakukan yoga dengan tubuh yang menggantung di atas lantai memang menimbulkan sensasi tersendiri. Lisa, yang sempat mencoba aktivitas ini mengatakan, AntiGravity Yoga adalah olahraga yang menyenangkan namun untuk bisa melakukannya secara maksimal membutuhkan nyali yang cukup besar.

"Kita nggak selamanya boleh berpegangan pada hammock karena ada posisi saat kepala kita di bawah, dan itu nggak boleh pegangan sama sekali. Jadi kalau nggak berani dan kita berusaha nahan, badan justru jadi sakit," ujar wanita berusia 23 tahun ini, saat diwawancara Wolipop.

Menurut wanita yang baru pertamakali mencoba AntiGravity Yoga ini, inti dari olahraga ini adalah nyali. "Harus berani sih. Kalau punya nyali dan suka yang ekstrem, ini seru," tutupnya.

(hst/fer)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads