Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Terobsesi Makan Makanan Sehat, Waspadai Alami Gangguan Kejiwaan Orthorexia

Eny Kartikawati - wolipop
Rabu, 16 Jul 2014 13:36 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Jordan Younger
Jakarta -

Jordan Younger, seorang mantan blogger vegan kini mendapat serangan dari pecinta vegan karena mengaku menderita orthorexia. Apa itu orthorexia? Kenapa Jordan yang vegan bisa mengalami gangguan kejiwaan tersebut?

Jordan bukan satu-satunya wanita yang menderita orthorexia. Wanita lain bernama Nisha Moodley yang diwawancara Health, seperti dikutip CNN, juga pernah mengalami hal serupa. Enam tahun lalu dia benar-benar membatasi asupan makanannya, benar-benar tidak mau makan yang menurutnya tidak sehat.

"Aku tidak akan makan makanan yang terkena radiasi, makanan yang dibakar, makanan yang mengandung pewarna, perasa, pemanis, MSG, nasi putih, gula, garam meja dan apapun yang dikemas dalam kalengan," ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika membatasi asupan makannya hanya pada makanan sehat, menu sarapan yang biasa dikonsumsi misalnya soba dan rumput laut, raw cacao powder, flax oil (minyak dari biji flax) dan flax seeds (sejenis biji-bijian). Sedangkan makan siangnya adalah nasi merah dengan kacang lentil, sayuran segar dan kale. Untuk snack sore, dia mengonsumsi flax seed dan biskuit soba. Dan untuk makan malam, dia makan kacang garbanzo, alpukat, wortel, bit dan jamur.

Komitmennya untuk makan makanan sehat ini kemudian menjadi obsesi yang hampir mengancam nyawanya. Dia menjadi takut makan makanan yang menurut pikirannya tidak sehat. Dia khawatir makanan tersebut menyebabkan kanker atau penyakit lainnya. Gara-gara obsesinya itu Moodley pun jadi tidak pernah lagi makan bareng teman-temannya atau menghadiri undangan makan malam.

Obsesi Moodley ini sama seperti Younger yang membatasi diri makan makanan tidak sehat dan hanya mengonsumsi apa yang mereka kategorikan sehat. Dan obsesi tersebut merupakan tanda adanya gangguan makan orthorexia. Orthorexia ini berbeda dari 'saudaranya' anorexia. Jika orang yang anorexia terobsesi menurunkan berat badan, tujuan mereka yang mengalami orthorexia adalah karena ingin benar-benar sehat.

Istilah Orthorexia pertamakali diperkenalkan oleh Steven Bratman, M.D., pada 1997 pada sebuah esai untuk Yoga Journal. Dia menyebut gangguan makan tersebut sebagai hasrat untuk makan makanan yang benar. Bratman yang juga mengidap orthorexia menggunakan kata ortho untuk menyebut penyakitnya itu karena diambilnya dari bahasa Yunani. Dalam bahasa Yunani, orthi berarti benar atau murni. Pria tersebut kemudian menjelaskan secara detail mengenai orthorexia pada bukunya Health Food Junkies. Sayangnya buku tersebut kurang populer dan sulit dipahami.

Orthorexia ini berbeda dengan penganut pola makan sehat pada umumnya seperti vegan, raw food dan fruitarianism. Kunci perbedaannya adalah orthorexia menyebabkan orang tersebut mengalami tekanan dan kesulitan untuk menjalani kehidupannya sehari-hari. Orthorexia ini pun berdampak buruk pada kesehatan pelakunya.

Dalam bukunya Bratman menulis, beberapa pasien orthorexia bisa mengalami malnutrisi dan terlalu kurus yang sifatnya membahayakan. Pada beberapa kasus orthorexia ini pun bisa menjadi anorexia terselubung. "Hal ini menjadi agenda tersembunyi yang sangat umum di balik orthorexia. Teori diet bisa membuat wanita mencari hal-hal yang membuat mereka bisa diterima dari sisi kecantikan tanpa mengakui hal itu pada dirinya sendiri. Kamu bisa 'tidak sengaja' hidup seperti Barbie, tanpa mengakui sedang menjalani kehidupan seperti itu," tulis Bratman dala bukunya.

(eny/fer)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads