Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Liputan Khusus Langsing dengan Menari

Ini Risiko Cedera Jika Mengikuti Kelas Dance di Gym

wolipop
Jumat, 11 Okt 2013 15:11 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

dok. Thinkstock
Jakarta - Kini kelas menari di gym sedang digemari oleh pria maupun wanita. Kelas tari yang biasa ada di tempat fitnes ini memadukan beberapa gerakan tarian dan olahraga. Meskipun tidak berisiko, ternyata menari juga bisa menimbulkan cedera.

Menurut dokter olahraga, Michael Triangto, Sp.KO., kelas tari di gym termasuk latihan aerobik. Umumnya, gerakan tersebut dilakukan berulang-ulang walaupun intensitasnya ringan tapi memudahkan cedera jika latihan secara berlebihan.

"Seperti buka-tutup laci meja kalau dilakukan terus-menerus tanpa henti lama-lama akan rusak lacinya," tutur Michael yang diwawancarai oleh Wolipop melalui telepon, Selasa (8/10/2013).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cedera karena mengikuti kelas tari juga mudah dialami oleh seseorang yang awalnya memang sudah pernah mengalami sakit pada bagian tertentu ketika olahraga sebelumnya. Dokter yang memiliki tempat praktek di Mal Taman Anggrek itu mengatakan bahwa cedera mudah kambuh kembali bila tidak memperhatikan frekuensi olahraga Anda. Maka dari itu, saat ingin melakukan olahraga walaupun intensitasnya ringan seperti kelas tari di gym ini perlu mempertimbangkan kondisi diri sendiri.

Michael juga menyarankan sebaiknya hindari memaksakan diri hanya karena ikut-ikutan teman atau rekan kerja. Sebagai contoh, seseorang yang menderita diabetes kemudian diajak teman untuk latihan menari di tempat fitnes, padahal dia sudah biasa olahraga dengan rutin. Kemudian ia berpikir bahwa semakin banyak olahraga semakin sehat dan bisa memperbaiki gula darahnya.

Namun banyaknya aktivitas justru bisa membuat porsi makannya bertambah sehingga akan berpengaruh terhadap kesehatan. Oleh karena itu, jika punya masalah kesehatan konsultasikan dulu ke dokter atau pelatih pribadi sebelum melakukan olahraga baru secara terus-menerus.

"Sebenarnya tidak semua aktivitas fisik akan baik buat setiap orang, tidak semua orang cocok dengan program tersebut. Hanya diri sendiri yang bisa memilahnya. Jadi bila punya masalah kesehatan, lebih baik tanyakan dulu kepada orang-orang yang kompeten, apakah itu dokter atau trainer-nya," saran pria lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya Jakarta itu.

Jika kondisi tubuh fit dan olahraga jenis aerobik itu bisa membuat Anda lebih semangat latihan, lakukanlah. Pria 54 tahun ini menambahkan, perlu diketahui bahwa aerobik memiliki ketentuan yang luas dan berbeda dengan anaerobik (latihan berat). Jangan sampai Anda latihan secara berlebihan. Cara membedakan antara dengan bernyanyi. Bila Anda bisa bernyanyi dengan lancar saat melakukan latihan aerobik berarti masih dalam tahap latihan aerobik. Jika lantunan lagu sudah sulit diikuti karena terlalu letih, telah memasuki tahap anaerobik.

"Aerobik dilakukan 50 sampai 75 persen dari denyut jantung maksimal. Bila lebih dari 75 persen itu bentuknya bukan aerobik lagi tapi sudah anaerobik," ujar pria yang mengambil gelar Spesialis Kedokteran Olahraga di Fakultas Universitas Indonesia itu.

Anaerobik termasuk latihan yang berat, bila kondisi Anda sudah tidak memungkinkan sebaiknya berhenti. Semua hal yang berlebihan tidak akan berdampak baik bagi diri Anda. Michael kembali memberikan saran, aerobik merupakan latihan ringan yang bisa dilakukan tiga sampai lima kali seminggu. Lakukan sekitar 30 hingga 60 menit per hari.

(aln/fer)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads