Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Liputan Khusus

Waspada, Jenis Diet Rendah Karbohidrat Ini Berisiko Kematian

wolipop
Jumat, 15 Feb 2013 12:38 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

dok. Thinkstock
Jakarta -

Diet rendah karbohidrat sudah diperkenalkan sejak 1860. Namun seiring perkembangan zaman, diet rendah karbohidrat dilakukan semakin ekstrim. Seperti jenis diet karbo bernama Atkins. Diet tersebut ternyata tidak sepenuhnya baik bagi tubuh, karena memiliki berbagai efek samping sampai berisiko pada kematian.

Diet Atkins diluncurkan oleh Dr. Robert C. Atkins yang juga seorang kardiolog di awal tahun 70-an. Atkins adalah diet rendah karbohidrat dan tinggi protein, seperti daging merah, telur, ikan dan kadang kulit gandum.

Memangkas asupan karbohidrat hingga hanya 20-30 gram (setara dengan satu lembar roti) tentunya bisa mengganggu sistem kinerja tubuh secara keseluruhan. Faktanya, manusia membutuhkan 50-60% karbohidrat dalam sehari atau sekitar 300 gram (setara 8 porsi karbo, 1 cangkir nasi putih per porsi).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peringatan resmi tentang bahaya diet Atkins telah dikeluarkan oleh pemerintah Inggris, yang khawatir dengan meningkatnya jumlah orang yang melakukan diet tersebut. Peringatan diikuti oleh The Food Standards Agency, yang bertanggung jawab untuk seluruh nutrisi dari pemerintah, juga menerbitkan pernyataan bahwa diet rendah karbo termasuk Atkins dapat memicu penyakit jantung, kanker, obesitas yang berakibat pada kematian.

"Mengurangi makanan yang mengandung tepung atau kelompok makanan serupa, dapat berbahaya bagi kesehatan, karena Anda akan kekurangan nutrisi. Tipe diet ini (Atkins) juga cendurung tidak realistis dan buruk, serta tidak baik dilakukan dalam jangka panjang," tulis The Food Standards Agency di websitenya, seperti dikutip dari Guardian.

Banyak dokter dan asosiasi jantung di Amerika juga memperingkatkan diet Atkins berbahaya bagi kesehatan. Diet Atkins bisa meningkatkan kolesterol. Dirangkum dari CNN, para ahli menyatakan dapat memicu risiko penyakit ginjal, osteoporosis dan kanker usus.

(/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads