Viral Verificator
Viral Mahasiswi UI Bikin Karya Inovasi Bra Magnet untuk Lansia & Disabilitas
Sebuah inovasi fashion yang digarap oleh sekelompok mahasiswi Bisnis Kreatif Universitas Indonesia (Biskre UI) viral di media sosial. Pasalnya, mereka membuat inovasi bra yang dirancang khusus untuk lansia dan penyandang disabilitas.
Melalui unggahan bersama di akun Instagram @quencynova, @nnstasyaa, @attayanisaa, @patriciaarevii, dan @nygnurizahh, kelima mahasiswi ini memperkenalkan "Rekat", sebuah produk adaptive wear berupa bra tanpa kawat dengan sistem pengunci magnet di bagian depan (front magnetic interlock).
Berawal dari tugas kuliah yang didukung penuh oleh dosen mereka, Baskoro, inovasi ini dirancang khusus untuk mempermudah kelompok lansia serta individu dengan keterbatasan motorik, gangguan saraf, hingga penyandang autoimun yang kerap kesulitan saat mengenakan pakaian dalam sehari-hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ide pembuatan Rekat muncul ketika mereka menyadari bahwa pakaian sehari-hari yang terlihat sepele bagi kebanyakan orang, ternyata bisa menjadi perjuangan besar bagi sebagian kelompok rentan.
Melalui proses wawancara langsung dan user testing terhadap lansia serta penyandang disabilitas tak nampak (invisible disabilities), tim mahasiswi ini menemukan fakta bahwa pengait bra konvensional di bagian belakang sangat sulit dijangkau, bahkan kawat penyangganya sering kali menimbulkan rasa sakit jika dipakai terlalu lama.
Sadar bahwa masalahnya bukan terletak pada kondisi fisik penggunanya melainkan pada desain produk yang ada di pasar, mereka akhirnya melakukan riset mendalam dari nol. Mulai dari berkonsultasi dengan pelaku industri seperti Booka Lingerie, membongkar sampel pakaian dalam, hingga mendatangi tukang jahit untuk membuat prototipe berbahan kain micro spandex yang super lembut demi melahirkan produk pakaian dalam yang tidak hanya adaptif, tetapi tetap elegan, suportif, dan meningkatkan rasa percaya diri penggunanya.
"Karena buat kami kenyamanan itu bukan sekedar soal pakaian yang dipakai sehari-hari. Tapi juga tentang bagaimana seseorang bisa merasa lebih percaya diri, didukung, dan dilihat lewat Rekat. Kami percaya dari inovasi kecil bisa jadi langkah yang besar Meet Rekat, a lingerie, not a medical device," tulis postingan Instagram @quencynova, @nnstasyaa, @attayanisaa, @patriciaarevii, @nygnurizahh.
Berawal dari tugas kuliah, mahasiswi UI viral bikin Rekat. Inovasi bra inklusif berbahan lembut ini dirancang khusus bantu lansia dan penderita autoimun. Foto: Dok. Quency Nova Mardira, Aulia Attaya, Patricia Revi, Nayang Nurizah, & Annas Tasya. |
Unggahan tentang bra inovatif dari para mahasiswi ini sudah ditonton lebih dari 111 ribu kali dan mendapatkan banjir dukungan dari warganet.
"Halo kakk, mau nanya. Kakak ada ambil inspo dari Liberare? Konsepnya mereka juga mirip kayak punya kakak -kakak tapi versi lokal🥹," ujar pengguna Instagram @bleepbloopitskiwa.
"Cepat spill kapan rilis 🥹 keren banget!! 🔥🔥🔥," kata akun @khns.hny_.
"Pliss kabarin kalau udah launching Kak!! As someone with ADHD, aku punya sensory issue yang membuatku overstimulated kalau pake bra 😢," timpal akun @rahmalita_rizky.
Konfirmasi Wolipop
Berawal dari tugas kuliah, mahasiswi UI viral bikin Rekat. Inovasi bra inklusif berbahan lembut ini dirancang khusus bantu lansia dan penderita autoimun. Foto: Dok. Quency Nova Mardira, Aulia Attaya, Patricia Revi, Nayang Nurizah, & Annas Tasya. |
Ketika dikonfirmasi oleh Wolipop, Quency Nova Mardira, bersama Aulia Attaya, Patricia Revi, Nayang Nurizah, Annas Tasya, yang merupakan mahasiswi semester 6 program studi Bisnis Kreatif UI asal Jakarta, membeberkan cerita lengkap di balik proyek yang viral tersebut. Wanita yang akrab disapa Quin ini mengungkapkan bahwa ide ini awalnya lahir dari ruang kelas sebagai proyek akademis.
"Ini sebenernya tugas akhir UAS buat mata kuliah Product Development di Bisnis Kreatif UI semester 6. Kita coba buat Rekat sebagai pengembangan dari bra dengan desain yang lebih praktis dan memudahkan disabilitas," ungkap Quin kepada Wolipop.
Proses pencarian ide Rekat ternyata memakan waktu sekitar tiga bulan. Uniknya, inspirasi produk adaptif ini justru datang dari lini kosmetik global milik artis Hollywood, Selena Gomez.
"Awalnya inspired by Rare Beauty-nya Selena Gomez yang bikin semua produknya disabilitas friendly, seperti parfum dengan spray datar. Dari situ kita mikir, apa ya yang kita pakai sehari-hari as perempuan? Oh iya, bra. Dari situ kita coba otak-atik bra-nya biar lebih memudahkan, seperti bikin pengait jadi di depan dan pakai magnet," jelas mahasiswi berusia 21 tahun tersebut.
Tantangan Modifikasi Magnet Keamanan
Meskipun saat ini status Rekat masih berupa prototipe awal, Quin bersama rekan timnya Aulia Attaya, Patricia Revi, Nayang Nurizah, dan Annas Tasya, tidak main-main dalam melakukan riset material. Demi mewujudkan bra inklusif yang nyaman, mereka berburu bahan kain micro spandex yang lembut dan tidak menimbulkan rasa sakit saat dipakai dalam durasi lama.
Mereka bahkan melakukan riset langsung ke pelaku industri lingerie lokal untuk mempelajari material pakaian dalam sebelum akhirnya membawa sampel tersebut ke tukang jahit untuk dimodifikasi secara manual. Namun, proses ini bukan tanpa hambatan.
"Kesulitannya paling cari magnet khusus yang harus kita modifikasi biar lebih safety pengait bra-nya," tambah Quin.
Melalui inovasi ini, tim mahasiswi UI tersebut membawa pesan mendalam bagi seluruh wanita, terutama mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Mereka menegaskan bahwa kecantikan dan kenyamanan berpakaian harus bisa diakses oleh siapa saja tanpa terkecuali.
"Ini murni pakaian dalam dengan desain inklusif, bukan alat medis! Kami ingin setiap wanita merasa percaya diri dengan tubuh mereka, bagaimanapun kondisinya," tegasnya.
Melihat antusiasme publik yang luar biasa setelah unggahan mereka viral, tim Rekat memberikan sinyal positif mengenai peluang produk ini untuk dilempar ke pasaran secara resmi agar bisa membantu lebih banyak orang.
"Tapi kita masih dalam tahap develop product-nya ya. Masih belum tahu ya (kapan rilis-red), kami masih R&D (Research and Development)," pungkas Quin menutup wawancara.
(gaf/eny)













































