ADVERTISEMENT

Kisah Inspiratif Nouva Puspita, CEO Carl & Claire, Parfum Lokal yang Laris

Rahmi Anjani - wolipop Kamis, 08 Sep 2022 14:04 WIB
Nouva Puspita, CEO Carl & Claire Foto: Instagram @naanouva
Jakarta -

Tak hanya makeup dan skincare, pilihan parfum dari brand-brand lokal juga semakin difavoritkan. Carl & Claire pun menjadi salah satu yang menawarkan beragam opsi dengan harga terjangkau. Baru tiga tahun dirintis, merek tersebut sudah cukup dikenal para pecinta wewangian. Sang CEO, Nouva Puspita pun mengungkap mengungkap kisahnya menjual parfum dari mulut ke mulut hingga kini sukses berjualan online.

Nouva Puspita mengaku terpikir untuk berbisnis parfum karena pengalamannya mengulik wewangian ketika mencari jati diri. Ketika itu belum banyak parfum lokal yang ditawarkan dengan harga menengah tapi berkualitas Ia pun melihat ada celah pasar dan kesempatan. Dalam Webinar Seller Story Shopee 9.9 Super Shopping Day beberapa waktu lalu, Nouva pun berbagi kisahnya.

"Aku merasa parfum selain wangi bisa kasih benefit lebih dalam, bisa bikin percaya diri dan pembuka percakapan. Tapi dulu belanja parfum berbeda dengan skincare, makeup atau fashion yang bisa langsung beli karena kalau parfum harus hemat dan nabung berbulan-bulan baru kebeli satu sedangkan aku pengennya beli banyak dan ganti-ganti. Karena parfum belum ada yang harga terjangkau dari situ mulai penasaran baru kulik-kulik cara bikin parfum dan brand," ungkapnya.

Wanita tersebut kemudian mulai membuat dan memasarkan parfumnya yang diberi nama Carl & Claire dengan harapan bisa populer dan tahan lama. Tapi ketika itu Nouva belum merambah e-commerce karena menjualnya di lingkungan teman dan bazaar hingga kemudian sempat membuka toko di pusat perbelanjaan. Di awal membangun bisnis tentu wanita tersebut sempat mengalami jatuh bangun yang dilihatnya sebagai batu loncatan untuk semakin berkembang.

"Awalnya kita luncurkan parfum beragam karena belum tahu seperti apa pasarnya jadi kita mengeluarkan terlalu banyak varian dan market belum mengerti. Kita keluarin 30 sekaligus jadi customer bingung memilih, dari situ kita berkaca dan akhirnya cut down setengah kemudian yg mana favorit customer dan kita kembangkan aromanya. Kita pun jadi belajar komunikasi costumer," kata Nouva.

Dalam membangun brand parfum, Nouva pun menekankan pentingnya untuk tes pasar. Terkadang pilihan sendiri belum cukup untuk mewakili selera orang banyak. Karena itu, ia mengandalkan fragrance house terpercaya dan testing kepada pelanggan setia.

"Kita nggak bisa pakai hidung kita sendiri, kita benar-benar test market dan survei apakah bener suka dan bagaimana bisa improve," tutur Nouva.

Sebagai brand parfum, Nouva mengutamakan pilihan aroma yang cukup beragam tapi elegan dan tidak terlalu kuat. Ia pun menawarkan pengembalian dana jika wangi tidak cocok dengan yang diharapkan. Menurutnya kebanyakan orang Indonesia sendiri menyukai wangi-wangi manis dan segar karena cuaca yang sering kali panas.

Nouva pun memberi saran kepada sesama pebisnis yang sedang mengembangkan brand-nya. "Kepada sesama pegiat UMKM, terus semangat karena di awal-awal terutama pasti akan terasa lebih berat seperti main sepeda, kayuhan pertama pasti berat tapi lama lama akan seperti habit dan otomatis, lebih melihat sisi positif dan gunakan tantangan untuk naik level, kata Nouva.

(ami/ami)