ADVERTISEMENT

Nyaman dengan Pekerjaan Tapi Lingkungannya Toxic, Apa yang Harus Dilakukan?

Rahmi Anjani - wolipop Rabu, 15 Jun 2022 05:30 WIB
Portrait of two business woman using laptop Foto: Thinkstock
Jakarta -

Sulit untuk menemukan sebuah pekerjaan yang sempurna. Setiap profesi umumnya datang dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing yang membuat hari-hari jadi lebih menantang. Tapi bagaimana jika tantangan pekerjaan justru dikarenakan rekan-rekan? Kamu yang sedang menghadapi lingkungan kerja toxic bisa mempertimbangkan saran mentor karier Iestri Kusumah.

Dalam sebuah perusahaan pasti ada banyak tipe manusia. Perbedaan karakteristik dan kebiasaan tersebut memang kerap kali menimbulkan konflik bahkan bikin lingkungan kerja jadi toxic. Ketika itu terjadi pada kamu sebaiknya jangan gegabah untuk langsung memilih resign. Iestri menyarankan untuk introspeksi terlebih dahulu.

Cara Menghadapi Lingkungan Kerja Toxic

"Pekerjaan sudah enak, sudah nyaman, gajinya juga bagus tapi bagaimana kalau lingkungan toxic? Yang pertama harus dilakukan adalah dari diri sendiri. Coba kalian sadari apakah teman-teman (kerja) yang toxic atau kalian saja yang tidak cocok (dengan lingkungan)," kata Iestri dalam acara Kulwap yang diadakan Wolipop bertema 'Karier Melejit Biar Gak Perlu Irit'.

Mentor karier dan psikologi itu mengatakan kadang tanpa disadari karakter kita yang kurang cocok dengan rekan-rekan lah yang menjadi konflik. Karenanya, penting untuk sejak awal mempertimbangkan perusahaan dengan budaya kerja yang sekiranya cocok dan membuat nyaman. Untuk memastikan lagi apa benar rekan atau atasan memang menyimpang, coba catat apa saja yang kamu anggap toxic di lingkungan tersebut.

Catat dan Cari Solusinya

"Kalau memang kamu cocok dengan budayanya tapi lingkungannya saja yang toxic, coba buat catatan sendiri apa yang membuat mereka toxic, misalnya orang-orangnya suka ghibah, sistem kerja dari atasan yang nggak bagus, atau atasan terlalu memberi perintah tapi tidak men-support sewajarnya, coba tulis dan rangkai kemudian cari solusinya," kata wanita yang pernah bekerja di divisi HRD tersebut.

"Kemudian coba atasi sendiri dulu tapi kalau masih merasa nggak nyaman bisa konsul ke HRD yang tugasnya memang untuk menjembatani karyawan dengan karyawan atau perusahaan," lanjutnya.

Pilih Lanjut Atau Resign?

Ketika masalah tersebut tidak bisa diatasi lewat HRD, menurut Iestri kembali ke diri masing-masing apakah mau lanjut bekerja di sana atau memilih untuk pindah. Keduanya tentu datang dengan konsekuensi masing-masing.

"Kembali ke keputusan kita apakah mau cari pekerjaan yang sama tapi lebih nyaman atau memberi batasan dengan teman-teman kerja agar tidak terbawa atau terpengaruh. Pekerjaan di mana pun tidak ada yang enak pasti ada orang yang toxic juga atau tidak sefrekuensi atau bikin tidak nyaman, itu harus dipertimbangkan. Kalau memilih bertahan, kasih batasan saja agar tidak banyak berurusan dengan situasi yang toxic," katanya.

(ami/ami)