Bak di Drama Start-Up, Wanita Ini Ungkap Realita Profesi Software Developer

Rahmi Anjani - wolipop Kamis, 26 Nov 2020 14:00 WIB
Bae Suzy memakai tas branded di serial drama Start-Up. Foto: Instagram @nastya_khol
Jakarta -

Profesi sebagai software developer atau software engineer mungkin masih kurang familiar. Tapi belakangan pekerjaan tersebut semakin naik daun dan dibutuhkan seiring dengan perkembangan teknologi.

Dalam drama Korea Start-Up yang sedang tayang, realita sebagai software developer seperti Nam Do San yang diperankan Nam Joo Hyuk pun sedikit tergambarkan. Diceritakan sebagai pekerjaan yang penuh kerumitan, seorang wanita yang menjalani profesi itu pun mengungkap realitanya.

Nastya Kholodova adalah seorang software developer asal Ukraina yang bekerja di Washington D.C., AS. Jadi developer andal, wanita 32 tahun tersebut pernah direkrut raksasa teknologi seperti Facebook, Uber, dan Amazon. Meski bisa mendapatkan tawaran kerja dengan mudah, diakuinya jika bahkan proses aplikasinya saja sangat membuat stres hingga berakhir ditolak.

Nastya yang punya latar belakang pendidikan matematika sebelumnya pernah bekerja di startup dan digaji $36.000 (Rp 508 jutaan). Tapi ia berencana untuk bisa bekerja di Bank Dunia bersama suaminya untuk bisa mendapatkan visa. Suatu hari, ia pun tertarik untuk bekerja di Amazon yang meliriknya karena pengalaman Nastya bekerja di situs-situs besar.

[Gambas:Instagram]



Menawarkan gaji yang tidak sedikit, perusahaan tersebut ternyata mengharuskan proses penerimaan yang panjang dan rumit. Setelah di-screening oleh tim HRD, beberapa hari kemudian ia diwawancara oleh senior software engineer lewat video call yang tidak sebentar.

"Itu sangat teknis, mereka mengetes kemampuanmu memecahkan masalah, pengetahuan algoritma, kemampuan programming tanpa alat-alat developer. Itu sangat bikin stres," ujarnya dilansir ABC News.

"Mereka bilang screening teknis berjalan dengan baik dan memintaku menulis esai-esai pendek sekitar 300 kata mengenai kepemimpinan dan kemampuan memecahkan masalah. Itu pertama kalinya aku diminta melakukan itu oleh pewawancara: ceritakan mengenai keputusan rumit dan besar yang pernah kamu buat dan mengapa kamu memutuskannya dan apa pendapatmu mengenai itu? Hal-hal seperti itu," kata Nastya.

Nastya juga mengaku jika ia diminta untuk menulis coding di papan tulis. Dikatakan jika hal itu dilakukan untuk melihat bagaimana software developer bisa menghadapi ketakutan dari pada mengetes tentang program.

Setelah berhasil melewati proses yang menurutnya sangat membuat stres, Nastya dinyatakan lolos dan ditawari $132.050 (Rp 1,8 miliaran) dan bonus kurang dari $30.000 (Rp 423 jutaan) untuk tahun pertama dan kedua. Tentu bukan tawaran sembarangan. Namun sayangnya Nastya harus berpikir mengenai visa dan berakhir menolak tawaran tersebut. Meski begitu, ia mengaku akan mempertimbangkan tawaran itu lagi jika suatu hari dapat green card.

(ami/ami)