Sosok Petra De Sutter, Transgender Pertama yang Jadi Wakil Perdana Menteri

Rahmi Anjani - wolipop Selasa, 20 Okt 2020 06:00 WIB
Petra De Sutter Foto: Twitter Petra De Sutter
Jakarta -

Petra De Sutter telah dilantik menjadi Perdana Menteri Belgia sejak awal bulan Oktober. Belum banyak yang tahu mengenai sosok politikus yang juga profesor ginekologi tersebut. Ia adalah perdana menteri dan pejabat negara dengan tingkat tertinggi di Eropa yang merupakan seorang transgender.

Transgender mungkin bukan pertama kalinya menjabat di Eropa. Namun ia mencetak sejarah sebagai transgender pertama yang pernah menjabat sebagai wakil perdana menteri di Belgia. Sebelum dilantik, ia sudah dikenal sebagai ginekolog dan ahli kesuburan yang sudah mencalonkan diri sejak 2014. Tapi baru tahun lalu ia menang kursi di Parlemen Eropa dan menduduki posisi wakil perdana menteri di 2020.

Petra De SutterPetra De Sutter Foto: Twitter Petra De Sutter

Wakil Perdana Menteri itu sendiri memang terbuka mengenai transisinya. Namun ia tidak menginginkan jika bagian hidupnya itu menghalangi orang-orang untuk melihat pekerjaan yang sebenarnya.

"Aku tidak ingin 'dikurangi' karena masa lalu transgenderku, ini adalah salah satu bagian dari identitasku. Aku punya banyak yang lainnya. Aku ingin orang membicarakanku karena pekerjaanku karena tindakan-tindakan politikku. Aku pikir gender, warna kulit, agama, atau orientasi seksual tidak penting," kata Petra dilansir Sister of Europe.

Petra De Sutter memulai karier sebagai peneliti dan ahli klinis 30 tahun lalu. Sampai 15 tahun kemudian, ia mulai melihat aspek etis dan dampak sosial mengenai pekerjaannya dan mulai terjun ke ranah yang lebih tinggi. Wakil PM Belgia tersebut kemudian bekerja untuk kementerian kesehatan hingga diminta untuk mewakili Partai Hijau Eropa. Ia pun mulai bertransisi di usia 40.

Petra De SutterPetra De Sutter Foto: Twitter Petra De Sutter

"Aku selalu wanita, orang-orang saja yang tidak melihatnya. Aku tidak menyembunyikan diriku sendiri tapi berjuang untuk diriku sendiri. Beberapa orang berpikir ini adalah pilihan atau tren. Tidak. Aku bertransisi ketika aku berusia 40 karena itu butuh banyak waktu untuk menerima dan mengerti apa yang terjadi," ungkapnya.

Sebagai ginekolog, Petra De Sutter sering mengadvokasi soal akses kesehatan reproduksi setelah menjabat sebagai anggota parlemen. Transgender 57 tahun tersebut juga mengatakan ingin mengubah 'kedubayaan Barat' dan mengurangi ketidaksetaraan yang merugikan wanita. Ia melihat jika ketidaksetaraan masih menjadi masalah pada wanita di Eropa.

"Ketidaksetaraan membawa pada kemiskinan dan pengucilan karena kurangnya edukasi dan bisa menghalangi pemberdayaan. Wanita masih jadi korban ketidakadilan sosial. Aku banyak berpikir mengenai wanita single, pengungsi wanita tapi (korbannya) bukan mereka saja," tuturnya.

(ami/ami)