Karyawan di Perusahaan Ini Harus Bayar Denda Jika Berat Badannya Naik

Vina Oktiani - wolipop Selasa, 25 Agu 2020 21:30 WIB
Ilustrasi pekerja Jepang Ilustrasi Pekerja / Foto: (iStock)
Jakarta -

Setiap perusahaan pasti memiliki peraturannya sendiri. Tak jarang jika para pegawainya melanggar atau tidak dapat memenuhi target maka pihak perusahaan akan memberikannya sanksi atau denda. Namun berbeda dari kebanyakan perusahaan, perusahaan yang satu ini dinilai memberikan aturan yang terlalu berlebihan dan tidak biasa.

Seperti dikutip dari Asia One, perusaaan fashion Southaven memberlakukan sanksi bagi kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan oleh para pekerjanya, termasuk jika para pekerjanya itu mengalami kenaikan berat badan. Hal itu diungkapkan langsung oleh beberapa pekerja yang pernah bekerja di sana.

Menurut keterangan dari beberapa pekerja wanita yang berusia antara 20 sampai 27 tahun, mereka dipaksa untuk mematuhi beberapa aturan aneh yang dibuat oleh perusahaan. Diantaranya, harus selalu memberikan pembaharuan mengenai berat badannya melalui obrolan group yang telah dibuat. Jika mengalami penambahan berat badan maka mereka akan dikenakan denda. Beberapa juga ada yang dipindahkan untuk bekerja di gudang alih-alih melayani pelanggan di toko.

Hukuman bagi karyawan yang tidak biasaHukuman bagi karyawan yang tidak biasa Foto: Shin Min Daily News

Tidak hanya itu saja, para pekerja juga diwajibkan membayar antara Rp 14 ribu sampai Rp 72 ribu jika melakukan beberapa pelanggaran-pelanggaran lain, seperti, tidak menutup bolpoin, lambat mengambil pakaian dari kamar ganti, lupa mematikan ketel listri atau tidak mengisi ulang, menyentuh bagian lain dari pintu gudang selain gagangnya, dan beberapa hal lainnya. Para pekerja juga diwajibkan memberikan kompensasi sekitar Rp 874 ribu sampai Rp 1,4 juta kepada perusahaan jika pakaian kerja mereka rusak atau ternoda serta melakukan 200 kalo jongkok katak jika tidak mencapai target penjualan mingguan perusahaan.

Lebih buruknya lagi, para karyawan itu diharuskan untuk bekerja lebih dari 12 jam sehari, dengan waktu istrirahat hanya 10 hingga 20 menit untuk setiap istirahat dan tidak mendapat bayaran tambahan untuk jam kerja ekstra. Salah seorang karyawan yang berusia 20 tahun bahkan mengaku bahwa dirinya sampai membayar denda beberapa ratus dollar padahal baru bulan pertama bekerja.

Setelah bekerja selama lima bulan, karyawan itu akhirnya benar-benar tidak tahan dan memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya tersebut. Seorang karyawan lain yang berusia 20 tahun juga menceritakan bahwa dirinya sampai harus mengonsumsi produk untuk diet demi menurunkan berat badan agar tidak dikenakan denda.

"Saya sering putus asa dan menangis," ungkap karyawan yang tidak disebutkan namanya itu.

Walaupun demikian, pihak Southaven sendiri telah membantah tuduhan-tuduhan tersebut dengan mengatakan bahwa semuanya itu adalah inisiatif dari para karyawannya sendiri tanpa ada paksaan. Denda dan hukuman jongkok katak itu diklaim oleh pihak Southaven sebagai pilihan dari para karyawannya sendiri untuk memotivasi diri setelah gagal mencapai target penjualan.

(vio/vio)