ADVERTISEMENT

Survei: Saat Selingkuh Wanita Inginkan Seks, Tapi Tak Mau Ceraikan Suami

- wolipop Jumat, 22 Agu 2014 18:18 WIB
dok. Thinkstock
Jakarta - Perselingkuhan sejatinya identik dengan kaum pria dan kebanyakan bisa memakluminya. Namun, apabila wanita yang berselingkuh dan tidak setia, hal ini justru dianggap tidak lazim. Pada kenyataanya, baik pria maupun wanita, siapapun bisa tergoda dengan perselingkuhan sehingga mengingkari janji yang diucapkan ketika menikah. Menurut survei terbaru, para wanita yang selingkuh dari suaminya sebenarnya hanya mencari gairah dan seks, namun mereka tidak ingin mengakhiri pernikahan.

Eric Anderson selaku profesor dibidang maskulinitas, seksualitas dan olahraga di University of Winchester di Inggris, telah mengobservasi 100 wanita berusia 35 sampai 45 tahun. Dalam data yang dihimpun oleh situs AshleyMadison, profesor Anderson menemukan bahwa sekitar 67% wanita yang sudah menikah mencari 'gairah romantis' atau seks saat berselingkuh. Angka ini didapat setelah membaca transkrip percakapan para wanita ini dengan seseorang yang diduga selingkuhannya. Tidak ada satupun dari mereka yang ingin meninggalkan suaminya dan bahkan ketidaktahuan sang suami ditanggapi secara positif.

Ketika para wanita terpenuhi kebutuhannya secara emosional, lantas mengapa mereka merasa bosan menjalani hubungan pernikahan? "Hasil yang kami dapat bukan mencerminkan ketidakharmonisan dalam rumah tangga, tetapi hubungan seksual yang monoton yang merupakan fakta sosial dari hubungan jangka panjang," jawab Profesor Anderson.

Menurut Anderson, semakin lama pasangan menjalani hubungan, frekuensi untuk melakukan hubungan seksual semakin menurun. Hal itu karena kita sudah merasa terbiasa dan bosan berhubungan seksual dengan orang yang sama."

Sementara itu, Bill Doherty, PhD, yang merupakan guru besar ilmu sosial di University of Minnesota, Amerika Serikat, mengemukakan alasan lain mengapa para wanita hanya menginginkan seks dan bukan perceraian. Menurutnya, wanita yang selingkuh mencari seks karena ingin memunculkan lagi gairah yang sebelumnya hampir tidak dirasakan dalam pernikahan.

"Sebagai wanita, merasa tidak dihargai dan diingkan menjadi penyebab utama dari pernikahan. Dalam beberapa hal, tubuh menjadi hal yang kurang penting dalam hubungan seksual jangka panjang daripada pikiran dan perasaan," jelas Profesor Doherty.

Profesor Doherty juga mengatakan dalam penelitiannya bahwa perselingkuhan tidak selalu menjadi sifat dasar manusia, melainkan solusi sementara yang memicu kepada permasalahan yang lebih besar. "Tentu saja ada perasaan untuk berselingkuh yang memang dianggap normal, tetapi tidak ada hal yang bisa dihindari sehingga orang-orang lebih cenderung untuk melakukan perselingkuhan karena mereka bosan dengan hubungan yang monoton," ujarnya di akhir pernyataan.




(eny/eny)