6 Mitos Seks Berdasarkan Penelitian yang Sering Disalahartikan
Hestianingsih Hestianingsih - wolipop
Kamis, 14 Mar 2013 18:34 WIB
Jakarta
-
Banyak penelitian yang mengulas tentang serba-serbi seks. Mulai dari makanan apa saja yang bisa menambah gairah bercinta, trik paling unik untuk membuat seks jadi lebih menyenangkan atau pembahasan lainnya. Segala hal yang berdasarkan penelitian tentunya sudah teruji, bersifat ilmiah dan bisa dijadikan panduan yang bermanfaat untuk meningkatkan kualitas kehidupan seks.
Tapi hasil penelitian sebaiknya tidak diaplikasikan mentah-mentah karena setiap orang punya ketertarikan dan cara berbeda untuk menikmati seks. Ini dia kesalahan paling umum yang dilakukan pasangan dalam menerapkan informasi tentang seks dalam bercinta, yang bisa berakibat buruk menurut pakar seks asal Inggris, Tracey Cox, seperti dilansir Daily Mail.
1. Lingerie Seksi Bisa Memperbaiki Seks yang Membosankan
Menurut Tracey, hanya memakai lingerie seksi memang bisa menambah sensasi berbeda dalam bercinta. Tapi ternyata kurang efektif untuk mengatasi masalah utama yang menyebabkan kejenuhan bercinta. Lingerie hanya sebagai pelengkap, bukan solusi utama untuk mengatasi isu seksualitas. Namun ini bisa jadi cara untuk menyenangkan suami karena melihat sesuatu yang baru dari rutinitas.
2. Saat Ada Masalah, Seks Harus Dibicarakan
Kebanyakan orang baru membicarakan soal seks ketika ada masalah dalam kehidupan bercinta mereka (ejakulasi dini, disfungsi ereksi, sulit orgasme, dan sebagainya). Padahal, seks seharusnya juga didiskusikan dalam kondisi apapun. Seks yang sehat adalah mengetahui apa yang disuka dan tidak saat bercinta, ikatan emosional, apa yang jadi penghalang dalam mencapai kepuasan, dan hal-hal lain yang lebih bersifat holistik.
3. Seks Harus Direncanakan
Membuat jadwal seks adalah hal yang baik tapi juga harus dilakukan dengan hati. Jika tidak, seks yang dijadwalkan hanya akan menjadi tambahan 'tugas' rutin. Dengan mindset 'kita harus bercinta sesuai jadwal malam ini' sama saja dengan berkata, 'malam ini kita harus membersihkan toilet'. Tapi apabila jadwal seks dimaksudkan sebagai kesempatan untuk mencoba sesuatu yang baru atau bereksperimen, itu bisa berhasil mengusir kegalauan dalam bercinta. Menjadwalkan sesuatu yang baru dan sedikit 'nakal' adalah sesuatu yang erotis dan patut dicoba.
4. Idealnya, Seks Sehat Berlangsung 20 Menit atau Lebih Lama
Anggapan ini timbul karena sebuah survei yang mengungkapkan bahwa kebanyakan wanita perlu waktu 20 menit untuk mencapai klimaks. Tidak salah memang, namun banyak yang mengartikan bahwa kepuasan baru akan didapat setelah 20 menit penetrasi seks. Sedangkan 20 menit yang dimaksud sudah termasuk foreplay dan stimulasi klitoris.
Bahkan pada beberapa wanita, bisa mendapatkan orgasme hanya dua menit setelah penetrasi seks jika mendapat foreplay yang tepat dari pasangannya. Sementara wanita lainnya bisa saja baru klimaks setelah 40 menit jika sedang tidak mood. Jadi, sebaiknya Anda dan pasangan tidak mengukur kepuasan seks dari angka. Tapi fokus pada proses yang membuat hubungan emosional kalian lebih intim.
5. Role-play adalah Kunci untuk Menghangatkan Hubungan Seks
Pada beberapa orang, bermain peran bisa menjadi cara jitu untuk memberi bumbu pada kehidupan seks yang hambar. Tapi bukan berarti efektif untuk setiap orang. Di dunia ini, ada orang-orang yang suka jadi pusat perhatian dan memakai busana unik. Tapi ada pula orang yang lebih suka tampil sederhana. Begitu juga dengan bercinta. Tidak semua orang menikmat trik role-play ini.
Sebelum mengajak role-play dengan mengenakan busana ala suster, sexy bunny atau 'budak dan majikan', diskusikan dulu apakah pasangan nyaman melakukannya. Bisa jadi yang dia atau Anda butuhkan hanya foreplay yang lebih lama atau liburan romantis di pulau yang tenang untuk menambah gairah bercinta.
6. Seks Hebat, Berarti Hubungan Asmara Juga Baik
Tidak semua seks yang memuaskan mengindikasikan kehidupan seks yang sehat pula. Pasangan yang sering bertengkar atau berargumen, saling marah-marah dan membenci satu sama lain justru seringkali bercinta dengan gairah yang membara ketimbang pasangan yang kehidupan asmaranya harmonis.
Hal itu karena seks tidak selalu melibatkan perasaan cinta, tapi juga kegelisahan, kerapuhan, emosi yang tinggi dan kekhawatiran jika pasangan tidak lagi menginginkannya. Maka dari itu sebaiknya tidak mengukur bermasalah/tidaknya hubungan asmara hanya dari kualitas seks tapi lihat secara keseluruhan.
(hst/hst)
Tapi hasil penelitian sebaiknya tidak diaplikasikan mentah-mentah karena setiap orang punya ketertarikan dan cara berbeda untuk menikmati seks. Ini dia kesalahan paling umum yang dilakukan pasangan dalam menerapkan informasi tentang seks dalam bercinta, yang bisa berakibat buruk menurut pakar seks asal Inggris, Tracey Cox, seperti dilansir Daily Mail.
1. Lingerie Seksi Bisa Memperbaiki Seks yang Membosankan
Menurut Tracey, hanya memakai lingerie seksi memang bisa menambah sensasi berbeda dalam bercinta. Tapi ternyata kurang efektif untuk mengatasi masalah utama yang menyebabkan kejenuhan bercinta. Lingerie hanya sebagai pelengkap, bukan solusi utama untuk mengatasi isu seksualitas. Namun ini bisa jadi cara untuk menyenangkan suami karena melihat sesuatu yang baru dari rutinitas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebanyakan orang baru membicarakan soal seks ketika ada masalah dalam kehidupan bercinta mereka (ejakulasi dini, disfungsi ereksi, sulit orgasme, dan sebagainya). Padahal, seks seharusnya juga didiskusikan dalam kondisi apapun. Seks yang sehat adalah mengetahui apa yang disuka dan tidak saat bercinta, ikatan emosional, apa yang jadi penghalang dalam mencapai kepuasan, dan hal-hal lain yang lebih bersifat holistik.
3. Seks Harus Direncanakan
Membuat jadwal seks adalah hal yang baik tapi juga harus dilakukan dengan hati. Jika tidak, seks yang dijadwalkan hanya akan menjadi tambahan 'tugas' rutin. Dengan mindset 'kita harus bercinta sesuai jadwal malam ini' sama saja dengan berkata, 'malam ini kita harus membersihkan toilet'. Tapi apabila jadwal seks dimaksudkan sebagai kesempatan untuk mencoba sesuatu yang baru atau bereksperimen, itu bisa berhasil mengusir kegalauan dalam bercinta. Menjadwalkan sesuatu yang baru dan sedikit 'nakal' adalah sesuatu yang erotis dan patut dicoba.
4. Idealnya, Seks Sehat Berlangsung 20 Menit atau Lebih Lama
Anggapan ini timbul karena sebuah survei yang mengungkapkan bahwa kebanyakan wanita perlu waktu 20 menit untuk mencapai klimaks. Tidak salah memang, namun banyak yang mengartikan bahwa kepuasan baru akan didapat setelah 20 menit penetrasi seks. Sedangkan 20 menit yang dimaksud sudah termasuk foreplay dan stimulasi klitoris.
Bahkan pada beberapa wanita, bisa mendapatkan orgasme hanya dua menit setelah penetrasi seks jika mendapat foreplay yang tepat dari pasangannya. Sementara wanita lainnya bisa saja baru klimaks setelah 40 menit jika sedang tidak mood. Jadi, sebaiknya Anda dan pasangan tidak mengukur kepuasan seks dari angka. Tapi fokus pada proses yang membuat hubungan emosional kalian lebih intim.
5. Role-play adalah Kunci untuk Menghangatkan Hubungan Seks
Pada beberapa orang, bermain peran bisa menjadi cara jitu untuk memberi bumbu pada kehidupan seks yang hambar. Tapi bukan berarti efektif untuk setiap orang. Di dunia ini, ada orang-orang yang suka jadi pusat perhatian dan memakai busana unik. Tapi ada pula orang yang lebih suka tampil sederhana. Begitu juga dengan bercinta. Tidak semua orang menikmat trik role-play ini.
Sebelum mengajak role-play dengan mengenakan busana ala suster, sexy bunny atau 'budak dan majikan', diskusikan dulu apakah pasangan nyaman melakukannya. Bisa jadi yang dia atau Anda butuhkan hanya foreplay yang lebih lama atau liburan romantis di pulau yang tenang untuk menambah gairah bercinta.
6. Seks Hebat, Berarti Hubungan Asmara Juga Baik
Tidak semua seks yang memuaskan mengindikasikan kehidupan seks yang sehat pula. Pasangan yang sering bertengkar atau berargumen, saling marah-marah dan membenci satu sama lain justru seringkali bercinta dengan gairah yang membara ketimbang pasangan yang kehidupan asmaranya harmonis.
Hal itu karena seks tidak selalu melibatkan perasaan cinta, tapi juga kegelisahan, kerapuhan, emosi yang tinggi dan kekhawatiran jika pasangan tidak lagi menginginkannya. Maka dari itu sebaiknya tidak mengukur bermasalah/tidaknya hubungan asmara hanya dari kualitas seks tapi lihat secara keseluruhan.
(hst/hst)











































