Tanda Orang Pura-pura Kaya, 4 Ciri Ini Sering Tak Disadari
Kerap melihat orang yang gemar memamerkan kekayaan dan gaya hidup mewahnya di media sosial atau di kehidupan sehari-hari? Entah itu barang-barang merek high-end, makan di tempat mahal, atau bepergian ke destinasi yang menghabiskan puluhan juta rupiah.
Jika dilihat dari unggahan media sosial dan cara mereka bercerita, hidupnya memang tampak gemerlap dan bergelimang harta. Namun jangan salah mengira. "Orang yang benar-benar kaya tidak akan pamer kekayaan dengan mencolok," kata Abid Salahi, pakar finansial dan founder FinlyWealth.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti dikutip dari Yahoo Finance, ia juga membagikan pengalamannya menjadi konsultan seorang klien yang memiliki mobil sport mewah dan jam tangan berkelas. Namun menurutnya, kliennya itu malah tidak memenuhi syarat saat ingin membuat kartu kredit.
Penampilan luar yang sangat berbanding terbalik dengan kondisi keuangan sebenarnya ini menjadi tanda kekayaan palsu. "Kekayaan sejati adalah soal keamanan dan kebebasan finansial (financial freedom), bukan kemewahan dan kesuksesan semata," kata Salahi.
Berikut tanda orang pura-pura kaya:
Hidup dari Gaji ke Gaji Meski Berpenghasilan Tinggi
Salahi mengatakan bahwa perbedaan orang yang sungguhan kaya dan yang 'berpenampilan' kaya sebenarnya sangat jelas, meskipun tipis. Di tangan orang yang memaksakan diri untuk tampak kaya, penghasilan tinggi sekalipun akan habis hanya untuk menjaga penampilan.
Sementara itu, orang yang benar-benar kaya dan bijak dalam berkeuangan lebih memilih mempertahankan hidup sederhana relatif terhadap pendapatannya agar terhindar dari kesulitan finansial.
Contohnya Warren Buffett, investor ternama serta mantan CEO Berkshire Hathaway. Ia memiliki kekayaan mencapai US$ 143 miliar (setara sekitar Rp2 kuadriliun) namun menjaga gaya hidupnya agar tidak terlalu hedon dan masih tinggal di rumah lamanya sejak 1958 yang dibeli seharga US$ 31.500.
Kesadaran Merek yang Berlebihan
"Orang yang benar-benar kaya cenderung lebih fokus kepada sesuatu yang punya nilai jangka panjang ketimbang penampilan jangka pendek," ujar Salahi.
Menurut Salahi, pamer barang branded dengan logo besar yang mencolok bukan selera mereka. Orang-orang yang benar-benar kaya sering kali lebih menghargai pengalaman daripada harta benda. Mereka lebih memilih traveling keliling dunia, edukasi dan pendidikan tinggi, serta pengembangan diri.
Tanda Orang Pura-pura Kaya
Foto: Dok. Bonhams
Kurangnya Literasi Keuangan
Biasanya orang-orang yang tidak benar-benar kaya kurang mampu membahas strategi keuangan secara mendalam. Karena pengeluaran yang sangat boros, mereka cenderung mengelak dan hiperbola soal kondisi keuangan.
Orang kaya yang bijak akan berinvestasi pada aset yang nilainya terus meningkat dari waktu ke waktu dan memiliki pengetahuan yang baik tentang manajemen keuangan. "Mereka punya rencana pengelolaan aset yang baik dan lengkap, perwalian serta sering terlibat pada kegiatan amal atau filantopi," kata Salahi.
Gaya Hidup yang Didorong oleh Utang
Investasi yang dilakukan oleh orang-orang yang memalsukan kekayaan ini tidak bijak sebab sering kali diarahkan pada aset yang nilainya terus menurun. "Misalnya pada mobil mahal atau pakaian bermerek agar tampak hidup mewah," kata Salahi.
Karena itulah mereka memiliki ketergantungan pada kartu kredit atau pinjaman. Tujuannya agar gaya hidup mewah yang dipaksakan itu bisa terus berlanjut. Orang-orang dengan kekayaan bersih tinggi justru menggunakan kartu kredit dengan lebih efisien dan hemat meskipun memiliki saldo melimpah.
Lantas Seperti Apa Kekayaan Sejati Sesungguhnya?
Foto: Istimewa/Brendan Hoffman/Getty Images via CNN.
"Kekayaan sejati terwujud pada rasa percaya diri namun tetap rendah hati serta dibangun dari investasi cerdas, bukan pamer barang mewah," ucap Klesinger. Ia juga menjelaskan bahwa klien-kliennya memahami bahwa kekayaan akan bertambah seiring waktu jika diinvestasikan.
Menurut pengalamannya, orang-orang kaya sering sengaja hidup di bawah kemampuan mereka. "Mereka tahu kekayaan sejati adalah kebebasan melakukan segala sesuatu yang benar-benar penting untuk diri sendiri," jelas Klesinger.
Persamaan yang ditemukan Klesinger dari para kliennya adalah pola pikir yang berkembang. Mereka terus belajar meningkatkan kemampuan diri agar pengetahuan semakin luas, begitu pula pengaruh yang mereka miliki.
"Kekayaan sejati, menurut pengalaman saya, dijalani dengan rasa syukur, tujuan, dan pengabdian," tambahnya. "Itulah ciri khas kekayaan yang sah."














































