ADVERTISEMENT

Intimate Interview

Kisah Zsazsa Caesar, Dulu Di-bully karena Vitiligo Kini Jadi Model

Daniel Ngantung - wolipop Minggu, 28 Nov 2021 07:01 WIB
Jakarta -

Dulu, sulit bagi Zsazsa Caesar untuk membayangkan dirinya menjadi seorang model. Ia merasa kulitnya yang belang karena vitiligo tak memenuhi standar kecantikan. Namun kini, ia memanfaatkan dunia modeling untuk berbagi inspirasi dan semangat bagi pengidap vitiligo yang terkucilkan.

Zsazsa lahir di Bandung, Jawa Barat pada 1 Juni 1995, dengan kondisi fisik yang normal. Sampai ia berusia lima tahun, terjadi keganjilan pada kulitnya.

"Pertama muncul di kaki, dokter bilang panu. Tapi aku pakai obat panu kok nggak sembuh-sembuh. Lalu orangtua bawa aku ke dokter lain, akhirnya ketahuan vitiligo," cerita Zsazsa kepada Wolipop belum lama ini.

Dari kaki, vitiligonya menyebar ke sekujur badan, bahkan sampai muka sekalipun. Sejak itu, kehidupan Zsazsa berubah. Sibuk menutupi kulit dengan stoking dan plester luka menjadi ritualnya sebelum keluar rumah.

Masa kecilnya kurang bahagia karena ia selalu menghadapi ejekan. Teman-teman sekelasnya bahkan sering memanggil Zsa Zsa sapi karena bercak-bercak putih di kulitnya.

Model Vitiligo Zsazsa CaesarModel Zsazsa Caesar (Foto: Grandyos Zafna/detikfoto)

Pernah juga suatu kali ada seorang ibu dan anak menjauh dari Zsazsa saat berpapasan di jalan seolah ia sedang membawa penyakit menular. "Stigma-stigma seperti vitiligo bisa menular, vitiligo aib atau kutukan masih sering ada. Padahal itu tidak benar sama sekali," katanya.

Vitiligo disebabkan oleh berhentinya sel tubuh memproduksi pigmen penghasil warna kulit. Akibatnya, warna kulit menjadi tidak merata. Kondisi tersebut diduga terkait beberapa faktor seperti kelainan genetik, penyakit autoimun, atau stres.

Merasa berbeda dari orang kebanyakan tentu sempat membuat Zsazsa tidak percaya diri, malu, dan kesal. Berbagai pengobatan pun dicobanya, seperti saleb yang justru membuat kulit Zsazsa terbakar.

Sempat ada peluang untuk kembali normal ketika Zsazsa mendapat informasi bahwa vitiligo dapat disembuhkan dengan treatment laser. Namun harapannya pupus ketika mengetahui harga pelaseran untuk satu titik vitiligo di kulit bisa berjuta-juta rupiah.

Model Vitiligo Zsazsa CaesarZsazsa Caesar (Foto: Grandyos Zafna/detikfoto)

"Dokternya vitiligo, tapi dia tidak bisa menyembuhkan dirinya. Terbukti kalau vitiligo adalah kondisi seumur hidup. Satu-satunya cara untuk sembuh adalah menerima," kata perempuan yang hobi nonton film itu.

Memasuki tahun-tahun akhir kuliah, alumnus jurusan psikologi Universitas Maranatha Bandung ini merasa lelah menutupi diri dan perlahan mulai berani tampil 'terbuka'.

Makeup tebal yang biasa menutupi wajahnya perlahan memudar. Pakaiannya pun tak lagi yang tertutup sehingga mengekspos kulit vitiligo.

Awalnya, Zsazsa sempat merasa takut bagaimana orang lain akan memandangnya nanti. Namun, ia mencoba untuk tak memusingkan hal tersebut.

"Kalau masih ada orang yang menolak aku, ya tidak apa-apa. Itu masalah mereka. Berarti mereka hanya menilai aku dari luar, tak mau melihat lebih dalam. They don't deserve me," katanya.

Awal Mula Meniti Karier Sebagai Model

Keberanian Zsazsa untuk tampil apa adanya ternyata membuka pintu peluang yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Suatu waktu pada 2019, Zsazsa yang kala itu baru lulus kuliah menemani temannya yang seorang pemilik produk perawatan rambut rapat bersama seorang fotografer.

Diungkapkan sang fotografer bahwa model yang seharusnya tampil untuk pemotretan produk tersebut berhalangan datang. Tanpa diduga, Zsazsa diminta untuk menggantikan model tersebut.

"Awalnya aku mau tolak. Namun fotografer itu berusaha meyakiniku bahwa kondisi kulitku justru yang membuat penampilanku unik," kenang Zsazsa.

Selanjutnya
Halaman
1 2
Eureka!
×
Selamat Tinggal BBM
Selamat Tinggal BBM Selengkapnya