Baby Ahnan: Penulis, Aktivis, Pengusaha Kuliner, hingga Pelukis
Perempuan multitalenta itu bernama Baby Ahnan. Meski dalam 25 tahun terakhir namanya identik dengan kuliner legendaris PIA Apple Pie di Bogor, sejatinya dia juga seorang aktivis kemanusiaan. Baby juga pernah menjadi wartawati, beberapa cerita pendek dan novelnya meraih penghargaan bergengsi, serta punya hobi melukis.
Lahir di Gorontalo, 10 November 1956 dari rahim Lily Ahnan, sejak balita ia sudah dicekoki dengan aneka buku komik, cerita silat, hingga cerita-cerita anak berlatar pedesaan. Tak heran bila selepas SMA Regina Pacis pada 1974, ia memilih melanjutkan studi ke ASRI di Jogjakarta. Tak kerasan lalu hijrah ke Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB.
Semasa remaja, Baby hanya memiliki satu keinginan dalam hidupnya, yaitu: pameran lukisan keliling dunia. Namun, alih-alih menjadi pelukis profesional, hidupnya justru lebih lama dihabiskan sebagai seniman grafis, penulis cerpen - novel, dan kemudian pengusaha kuliner.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baby Ahnan menerima piagam penghargaan dari Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI). (Foto: Sudrajat/detikcom) |
Sebelum itu, dia berkhidmat di Yayasan Amalia dengan menjadi pembimbing anak-anak gelandangan yang berkeliaran di lampu-lampu merah Jakarta. Baby ikut menggelandang, makan sisa makanan dari restoran. Pengalaman tersebut menghasilkan novelet, 'Burung-Burung Kecil' yang memenangkan Sayembara Novelet Femina 1991. Sastrawan Prof Dr Umar Khayam yang memimpin penjurian mengklasifikasikan novelet itu karya sastra, lalu diterbitkan oleh Gramedia.
Dalam karya-karya tulisnya, Baby Ahnan menggunakan nama pena 'Kembang Manggis'. Karyanya antara lain Tia, Burung-Burung Kecil, Warisan, Desaku, serta lima buku dongeng Nusantara seperti Lutung Kasarung, Leugli, Cindelaras, dan Jaka Tarub. Pada 2021, ia menerbitkan kumpulan cerpen Sketsa-Sketsa melalui Gramedia.
Baru di usia 69 tahun, cita-cita masa remajanya untuk menjadi pelukis mengusik dengan kuat dan akhirnya mewujud pada Jumat, 28 November 2025. Ia menggelar pameran tunggal bertajuk 'Hanya Mawar' di Revoluta Art Space, The Ritz Carlton, Jakarta.
"Pada umur 49, saya meraih doktor (filsafat dari UI), (umur) 59 saya melakukan perjalanan kontemplatif sendirian naik motor dari Ubud ke Flores, umur 69 saya bikin ini...," tutur doktor bidang filsafat dari UI itu kepada para wartawan.
Jika dibandingkan dengan pelukis lain, umur 69 terbilang senja untuk memulai karir. Tapi bagi Baby, saat ini adalah pilihan final: sekarang, atau tidak sama sekali. Menurut Anggit Bestari, putri sulung Ahnan, suatu waktu ibunya pernah sakit karena terobsesi untuk dapat melukis.
Di tengah kesibukannya berbisnis kuliner dengan puluhan pegawai, kerinduannya pada dunia seni rupa terbatas pada membeli alat-alat lukis. Berbeda dengan miliknya yang lain yang selalu boleh diambil kapan saja oleh siapa saja, alat-alat lukisnya tidak boleh disentuh, apalagi dipinjam atau diminta. Namun peralatan ini hanya bertumpuk di lemari lalu terlupakan, terabaikan, rusak atau hilang.
"Usaha paling jauh adalah memasang easel dan kanvas, yang lalu dibereskan kembali tanpa menghasilkan karya apa-apa. Bagi ibu peralatan lukis itu adalah 'hartanya yang paling berharga'," tulis Anggit dalam katalog pameran.
Ketua Yayasan CT Arsa Foundation, Anita Ratnasari Tanjung (ketiga dari kiri), ikut menghadiri pameran lukisan Baby Ahnan. (Foto: Sudrajat/detikcom) |
Baby Ahnan memilih melukis mawar bukan cuma karena itu favoritnya. Mawar, kata Anna Sungkar yang menjadi kurator pameran, menjadi cermin kehidupan, lambang keteguhan sekaligus kerentanan, simbol dari passion yang tidak lekang oleh usia. Bagi Baby Ahnan, setiap mawar adalah lapisan dari biografi batin. Tidak ada satu pun mawar yang identik, sebagaimana tidak ada satu pun tahun dalam hidup yang sama.
"Di usia 69, ia tidak sedang berhenti untuk merayakan pencapaian, melainkan menatap kembali lintasan panjang hidupnya sebagai ziarah yang penuh warna, aroma dan duri," ungkap Anna.
Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) memberikan piagam penghargaan kepada Baby Ahnan yang berhasil menggelar pameran lukisan satu objek terbanyak: 69 mawar. Sejumlah pengusaha dan sosialita Ibukota hadir dalam acara itu, antara lain Ketua Yayasan CT Arsa Foundation, Anita Ratnasari Tanjung.
Dalam katalog, lukisan-lukisan cat minyak karya Baby Ahnan itu dibanderol seharga Rp 6,9 juta - Rp 69.000.000. Pameran akan berlangsung hingga 7 Desember.
Health & Beauty
Secret Garden Extrait de Parfum, Wangi Mewah yang Tahan Lama dan Bikin Kesan Lebih Berkelas!
Health & Beauty
Rambut Lebih Halus & Anti Ngembang, Ini 3 Hair Care Andalan untuk Rambut yang Susah Diatur!
Hobbies & Activities
Main Badminton Lebih Stabil, Ini Rekomendasi 3 Shuttlecock yang Nyaman Dipakai Latihan Rutin
Hobbies & Activities
American Tourister Argyle Cabin 20 Inch jadi Solusi Ringkas dan Aman untuk Travel Singkat
Jalani Peran Ibu & Wirausaha, UMKM Kuliner Ini Tumbuh Berkat GrabModal
Deretan Prestasi dr. Ayu Widyaningrum di Sektor Kecantikan & Kesehatan
7 Fakta Greta Thunberg, Aktivis Ditangkap Israel saat Bawa Bantuan untuk Gaza
Kisah Hasna Hamida, dari Bantu Teman hingga Bangun Karir Impian ID
Kisah Nurhayati Subakat, Wanita di Balik Suksesnya Wardah & ParagonCorp
Jessie Buckley Ungkap Alasan Suami Tak Pernah Menemaninya di Karpet Merah
Istri Ceraikan Suami Usai Lihat Bukti Perselingkuhan Dari Promosi di TikTok
Beauty Influencer China Lunasi Utang Rp 900 Juta, Dituduh Pura-pura Lumpuh
Bocoran Film Jun Ji Hyun & Ji Chang Wook, Lawan Teror Zombie di Colony















































