Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Baby Ahnan: Penulis, Aktivis, Pengusaha Kuliner, hingga Pelukis

Sudrajat - wolipop
Senin, 01 Des 2025 05:30 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Baby Ahnan
Baby Ahnan (Foto: Sudrajat/detikcom)
Jakarta -

Perempuan multitalenta itu bernama Baby Ahnan. Meski dalam 25 tahun terakhir namanya identik dengan kuliner legendaris PIA Apple Pie di Bogor, sejatinya dia juga seorang aktivis kemanusiaan. Baby juga pernah menjadi wartawati, beberapa cerita pendek dan novelnya meraih penghargaan bergengsi, serta punya hobi melukis.

Lahir di Gorontalo, 10 November 1956 dari rahim Lily Ahnan, sejak balita ia sudah dicekoki dengan aneka buku komik, cerita silat, hingga cerita-cerita anak berlatar pedesaan. Tak heran bila selepas SMA Regina Pacis pada 1974, ia memilih melanjutkan studi ke ASRI di Jogjakarta. Tak kerasan lalu hijrah ke Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB.

Semasa remaja, Baby hanya memiliki satu keinginan dalam hidupnya, yaitu: pameran lukisan keliling dunia. Namun, alih-alih menjadi pelukis profesional, hidupnya justru lebih lama dihabiskan sebagai seniman grafis, penulis cerpen - novel, dan kemudian pengusaha kuliner.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baby AhnanBaby Ahnan menerima piagam penghargaan dari Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI). (Foto: Sudrajat/detikcom)

Sebelum itu, dia berkhidmat di Yayasan Amalia dengan menjadi pembimbing anak-anak gelandangan yang berkeliaran di lampu-lampu merah Jakarta. Baby ikut menggelandang, makan sisa makanan dari restoran. Pengalaman tersebut menghasilkan novelet, 'Burung-Burung Kecil' yang memenangkan Sayembara Novelet Femina 1991. Sastrawan Prof Dr Umar Khayam yang memimpin penjurian mengklasifikasikan novelet itu karya sastra, lalu diterbitkan oleh Gramedia.

Dalam karya-karya tulisnya, Baby Ahnan menggunakan nama pena 'Kembang Manggis'. Karyanya antara lain Tia, Burung-Burung Kecil, Warisan, Desaku, serta lima buku dongeng Nusantara seperti Lutung Kasarung, Leugli, Cindelaras, dan Jaka Tarub. Pada 2021, ia menerbitkan kumpulan cerpen Sketsa-Sketsa melalui Gramedia.

ADVERTISEMENT

Baru di usia 69 tahun, cita-cita masa remajanya untuk menjadi pelukis mengusik dengan kuat dan akhirnya mewujud pada Jumat, 28 November 2025. Ia menggelar pameran tunggal bertajuk 'Hanya Mawar' di Revoluta Art Space, The Ritz Carlton, Jakarta.

"Pada umur 49, saya meraih doktor (filsafat dari UI), (umur) 59 saya melakukan perjalanan kontemplatif sendirian naik motor dari Ubud ke Flores, umur 69 saya bikin ini...," tutur doktor bidang filsafat dari UI itu kepada para wartawan.

Jika dibandingkan dengan pelukis lain, umur 69 terbilang senja untuk memulai karir. Tapi bagi Baby, saat ini adalah pilihan final: sekarang, atau tidak sama sekali. Menurut Anggit Bestari, putri sulung Ahnan, suatu waktu ibunya pernah sakit karena terobsesi untuk dapat melukis.

Di tengah kesibukannya berbisnis kuliner dengan puluhan pegawai, kerinduannya pada dunia seni rupa terbatas pada membeli alat-alat lukis. Berbeda dengan miliknya yang lain yang selalu boleh diambil kapan saja oleh siapa saja, alat-alat lukisnya tidak boleh disentuh, apalagi dipinjam atau diminta. Namun peralatan ini hanya bertumpuk di lemari lalu terlupakan, terabaikan, rusak atau hilang.

"Usaha paling jauh adalah memasang easel dan kanvas, yang lalu dibereskan kembali tanpa menghasilkan karya apa-apa. Bagi ibu peralatan lukis itu adalah 'hartanya yang paling berharga'," tulis Anggit dalam katalog pameran.

Baby AhnanKetua Yayasan CT Arsa Foundation, Anita Ratnasari Tanjung (ketiga dari kiri), ikut menghadiri pameran lukisan Baby Ahnan. (Foto: Sudrajat/detikcom)

Baby Ahnan memilih melukis mawar bukan cuma karena itu favoritnya. Mawar, kata Anna Sungkar yang menjadi kurator pameran, menjadi cermin kehidupan, lambang keteguhan sekaligus kerentanan, simbol dari passion yang tidak lekang oleh usia. Bagi Baby Ahnan, setiap mawar adalah lapisan dari biografi batin. Tidak ada satu pun mawar yang identik, sebagaimana tidak ada satu pun tahun dalam hidup yang sama.

"Di usia 69, ia tidak sedang berhenti untuk merayakan pencapaian, melainkan menatap kembali lintasan panjang hidupnya sebagai ziarah yang penuh warna, aroma dan duri," ungkap Anna.

Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) memberikan piagam penghargaan kepada Baby Ahnan yang berhasil menggelar pameran lukisan satu objek terbanyak: 69 mawar. Sejumlah pengusaha dan sosialita Ibukota hadir dalam acara itu, antara lain Ketua Yayasan CT Arsa Foundation, Anita Ratnasari Tanjung.

Dalam katalog, lukisan-lukisan cat minyak karya Baby Ahnan itu dibanderol seharga Rp 6,9 juta - Rp 69.000.000. Pameran akan berlangsung hingga 7 Desember.

(dtg/dtg)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads