Intimate Interview

Kisah Dina Faisal, News Anchor Jadi Desainer Kain, Rela Tidur Dekat Kandang

Daniel Ngantung - wolipop Minggu, 07 Nov 2021 10:22 WIB
Dina Faisal (Foto: Daniel Ngantung/Wolipop) Dina Faisal (Foto: Daniel Ngantung/Wolipop)
Jakarta -

Dina Faisal bukan orang asli Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun, kecintaannya pada kain tradisional Lombok begitu dalam. Banting setir dari profesi reporter tv berita swasta, Dina kini fokus melestarikan wastra Nusantara dan membudidayakan benang tenun pewarnaan alami di NTB.

Indonesia kaya akan warisan budaya berupa kain tradisional yang ada di hampir setiap daerah. Namun sayang, kain ini masih kurang diapresiasi, bahkan oleh orang Indonesia sendiri.

Padahal, memakai kain atau baju tradisional bisa mencerminkan identitas suatu bangsa sekaligus menumbuhkan rasa nasionalisme. Tak cuma itu, perekonomian daerah pun ikut terbantu sehingga mensejahterakan para perajin kain dan mendorong regenerasi perajin agar wastra Indonesia tak punah.

Bukan tanpa alasan kain tradisional, khususnya songketan, tak populer di negeri sendiri. Bahan kain yang berat dan kasar membuat orang enggan memakainya, apalagi sebagai busana sehari-hari.

Bagi Dina Faisal, solusinya ada pada penggunaan bahan organik. Kapas yang menjadi bahan baku utama benang tenun adalah salah satunya. Hanya saja, Indonesia belum bisa menghasilkan kapas sendiri untuk memenuhi permintaan pasar.

"Hampir 99,9 persen kapas diimpor. Padahal, Indonesia merupakan penghasil kapas terbesar zaman VOC," ungkap perempuan bernama lengkap Laila Hajarul Aswadina itu saat berbincang dengan Wolipop di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Keresahan tersebut yang akhirnya memotivasi Dina Faisal bersama suaminya, Lalu Hilman Afriandi, mendirikan Bidadariku pada 2020. Berbasis di Lombok, NTB, Studio Bidadariku fokus memproduksi songket dan benang yang terbuat dari material dan pewarnaan alami.

Dina FaisalDina Faisal (Foto: Daniel Ngantung/Wolipop)

Bersama tim Bidadariku yang terdiri dari penenun dan pencelup kain, ia menggarap songket bermotif 'Mayura', sebutan masyarakat lokal untuk burung merak. Songket yang digunakan terbuat dari benang katun yang cukup tipis. Adapun bahan baku benang tersebut adalah kapas yang telah melalui proses merserisasi.

Songket ini memiliki warna dasar biru yang berasal dari daun tarum (Indigofera tinctoria). Terdapat pula warna-warna tambahan seperti merah bata dari larutan ekstrak kulit kayu tingi (Ceriops tagal), dan emas dari bunga marigold alias kemitir (Tagetes erecta). Semua bahan alami yang digunakan berasal dari alam sekitar Lombok.

Dina mengatakan, warna yang lebih awet atau tak mudah luntur hingga nyaman di kulit adalah beberapa nilai tambah kain dengan pewarnaan alami. Kelebihan lain tentunya limbah yang eco-friendly atau ramah lingkungan. "Saya mendaur ulangnya sebagai pupuk. Tanaman di rumah saya jadi tumbuh lebih subur," ungkap perempuan 34 tahun itu.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3


Simak Video "Pesan Susi Pudjiastuti untuk Perajin Batik di Hari Batik Nasional"
[Gambas:Video 20detik]