Mengenal Batik Durian Lubuklinggau yang Mendunia di Milan Fashion Week

Daniel Ngantung - wolipop Kamis, 14 Okt 2021 15:45 WIB
Batik Durian Lubuklinggau di Milan Fashion Week (Foto: Dok. JYK) Batik Durian Lubuklinggau di Milan Fashion Week (Foto: Dok. JYK)
Jakarta -

Selain di Jawa, seni membatik juga dikembangkan di pulau lain di Indonesia. Provinsi Sumatera Selatan misalnya, memiliki batik durian Lubuklinggau yang baru-baru ini mendunia setelah eksis di panggung Milan Fashion Week.

Sesuai namanya, batik ini berasal dari Kota Lubuklinggau yang berjarak tujuh jam perjalanan darat dari Palembang. Kota ini terkenal dengan durian berkualitasnya yang menjadi komoditas daerah.

Kopi hingga dodol dibuat dengan buah yang berjulukan 'king of fruit' itu. Baru pada 2013, muncul batik motif durian yang digagas pertama kali oleh Yetty Oktarina Prana.

Rina, begitu sapaan akrabnya, mengungkapkan, ketika itu suaminya baru terpilih menjadi walikota Kota Lubuklinggau. Sebagai istri Walikota, ia langsung menjabat sebagai ketua dewan kerajinan nasional daerah (Dekranasda) Lubuklinggau.

Salah satu hal pertama yang Rina kerjakan adalah mengembangkan warisan budaya dengan kearifan lokal. "Seperti kita tahu, Indonesia terkenal dengan wastranya. Sumatera Selatan sudah punya songket dan tenun. Tapi saya juga ingin Lubuklinggau memiliki ciri khas tersendiri. Kenapa tidak membuat batik dengan motif durian," katanya saat jumpa pers virtual, Rabu (13/10/2021).

[Gambas:Instagram]



Rina melihat batik durian memiliki potensi karena belum pernah ada sebelumnya. Batik durian lalu dikembangkan secara serius dengan memberdayakan sejumlah perajin di Lubuklinggau.

Tak cuma ibu-ibu, tapi ada juga perajin pria. Bahkan, penyandang disabilitas pun dilibatkan dalam upaya pengembangan batik baru ini.

Tanpa diduganya, kata Rina, bentuk buah durian yang kerap dianggap kurang elok ternyata terlihat menarik dalam rupa batik. Buah durian terbelah pun dipilih sebagai motif perdana sekaligus pakemnya.

Selain motif, pewarnaan organik juga menjadi daya tarik tersendiri dari batik durian Lubuklinggau. "Warnanya diambil dari bahan-bahan alami seperti jengkol dan pinang sehingga limbahnya tak merusak lingkungan. Hasilnya, warna coklat pekat dan muda yang sangat cantik sekali," ungkap Rina.

Selanjutnya
Halaman
1 2