Viral Kisah Inspiratif Wanita Mantan Pasien RSJ Kini Jadi Mahasiswi UI

Gresnia Arela Febriani - wolipop Rabu, 11 Agu 2021 07:00 WIB
Kisah Yovania Asyifa mantan ODGJ yang sudah sembuh. Foto: Dok. Youtube Transtv.
Jakarta -

Yovania Asyifa Jami, mahasiswi berusia 19 tahun ini mendadak viral di media sosial. Ia membagikan konten di TikTok tentang pengalamannya sebagai penyintas rumah sakit gangguan mental.

Kini ia sudah dinyatakan sembuh dan masuk ke perguruan tinggi negeri pada Januari 2021. Dalam salah satu konten TikToknya yang viral, dia membagikan cerita bagaimana para perawat rumah sakit berusaha mengembalikan ingatannya.

Melalui unggahan di TikTok, anak bungsu dari dua orang bersaudara ini juga mengungkapkan bagaimana awalnya dia bisa mengalami gangguan mental. Yovania mengatakan dia merasa depresi mengikuti ujian nasional saat duduk di bangku sekolah dasar.

Yovania yang datang dari keluarga broken home pernah dibully oleh satu angkatan saat duduk di bangku di SMP. Ia juga sempat kehilangan kesadaran saat SMA. Hingga berhalusinasi dan delusi atau gangguan mental, sampai pernah menyakiti diri sendiri.

Kisah Yovania Asyifa mantan ODGJ yang sudah sembuh.Kisah Yovania Asyifa mantan ODGJ yang sudah sembuh. Foto: Dok. Youtube Transtv.

Namun setelah mendapatkan perawatan dari rumah sakit gangguan mental, Yovania kembali normal. Walaupun hingga kini dia masih mengonsumsi obat dan rutin ke psikiater karena mengidap Unspecified Bipolar Disorder.

Ia juga menuturkan pernah ditolak oleh empat perguruan tinggi negeri karena riwayat gangguan mentalnya. Perjuangannya pun berbuah manis semenjak dia diterima kuliah di Universitas Indonesia. Ia kini menjadi mahasiswi vokasi jurusan komunikasi di UI.

Yova yang aktif mengisi acara di bidang kesehatan mental mengungkapkan alasannya berani speak up di media sosial. Saat hadir dalam program acara Rumpi Trans TV, dia mengaku ingin memotivasi orang lain untuk ikut berbagi pengalaman.

"Karena sampai saat ini banyak banget stigma-stigma negatif tentang ODGJ dan RSJ. Sebenarnya aku kayak nggak suka sama stigma negatif itu. Akhirnya aku sadar, ini lho saya seorang ODGJ dan mantan ODGJ. Tapi saya bisa lho! Jadi kenapa nggak di-share aja untuk memotivasi banyak orang," ungkap Yova dalam acara Rumpi Trans TV.

Yova mengatakan jika ia tak malu disebut penyintas ODGJ. Ia menganggap penyakit mental yang dialaminya sama dengan penyakit ringan lainnya.

"Aku pikirnya ini penyakit biasa, kayak orang sakit demam masa lalu? Ini sama kayak penyakit fisik lainnya. Tapi bedanya ini di mental. Jadi aku nggak pernah malu dengan penyakit aku," kata Yova.

Kisah Yovania Asyifa mantan ODGJ yang sudah sembuh.Kisah Yovania Asyifa mantan ODGJ yang sudah sembuh. Foto: Dok. Youtube Transtv.

Yova yang tampil memakai turtle neck putih dan blazer cream itu mengaku jika dirinya menjadi ODGJ pada usia 15 tahun, saat baru masuk SMA. Ia pun mengenang masa sulitnya tersebut.

"Yang pertama dari SD aku sudah menjadi korban perceraian orangtua. Setelah itu SMP aku dibully habis-habisan. Mereka ngatain aku kuda, sampai sekarang aku nggak ngerti bullyan itu masuk di aku. Aku dibilang mukanya mirip kuda, sampai ada yang meringkik di belakang aku," kenangnya.

Semenjak itu, ia sempat mengalami trauma dan tidak mau masuk ke sekolah selama dua minggu. Yova menjalani masa SD dan SMP di sekolah swasta. Ketika SMA, ia diterima di SMA Negeri dan tak bisa beradaptasi.

"Ketika orangtua berpisah, aku sedih, marah dan kecewa. Aku bingung melampiaskannya ke mana? Dulu aku dekat dengan papa, akhirnya aku dipisahkan karena hak asuhnya di mama. Sempat rujuk dan tiga kali talak dan tidak bisa kembali lagi," lanjut Yova.

Yova kecil saat itu merasa bingung terhadap keluarganya. Dan saat SMP ia juga dibully. Hingga ia tak habis pikir mengapa teman-temannya malah membullynya.

"Aku awalnya nggak nyadar dan ngatainnya spesifik dan di depan aku. Awalnya aku bingung padahal aku nggak salah apa-apa. Aku dulu SD punya banyak teman dan berprestasi. Ranking melulu. Terus SMP awal rangking tiga besar. Mengapa mereka jahat banget dan kecewa aja," tuturnya.

Saat awal mula dibully, Yova pernah mendapatkan penanganan dari psikiater. Namun kedua orangtuanya tak menyadari jika ia mengalami bullying.

"Sampai akhirnya lepas dari psikiater, SMA masuk ke lingkungan baru dan aku satu sekolah sama yang bully aku dulu. Sempat nggak tidur tiga hari dan bangun-bangun langsung tidak sadar, lupa ingatan, halusinasi dan delusi," paparnya.

Setelah menjalani pengobatan di rumah sakit gangguan mental, kondisi Yova pun membaik dan bisa bangkit. Yova yang kini sudah sembuh memberikan pesan menohok, bagi masyarakat yang masih memberikan stigma negatif terhadap penyintas ODGJ.

"Buat yang masih ngejokes tentang RSJ dan ODGJ, jangan ngeremehin lagi, ini lho gue! Dapat salam dari mantan pasien RSJ yang kini masuk UI," tutupnya.

(gaf/eny)