Sosok Sarah Gilbert, Pembuat Vaksin AstraZeneca yang Diabadikan Jadi Barbie

Rahmi Anjani - wolipop Kamis, 05 Agu 2021 14:45 WIB
In this undated photo issued by Mattel, Britains Professor Sarah Gilbert holds a Barbie doll made in her image, in honour of the Oxford vaccine co-creator. The toy company has created models in honour of five other women working in STEM around the world. (Andy Paradise/Mattel via AP) Foto: Sarah Gilbert
Jakarta -

Sarah Gilbert adalah sosok penting di balik penemuan vaksin AstraZeneca yang dianggap cukup andal melindungi tubuh dari paparan virus COVID-19. Ilmuwan tersebut telah mendapat berbagai penghormatan atas jasanya menyelamatkan banyak nyawa, yang terbaru adalah dijadikan Barbie. Perusahaan Mattel merilis boneka dengan didedikasikan untuk ahli vaksin tersebut.

Barbie Profesor Sarah Gilbert adalah salah satu dari rangkaian boneka Mattel bertema STEM (Science, Teknologi, Engineering, and Math) yang baru-baru ini diluncurkan. Vaksinolog tersebut mengaku sebenarnya merasa aneh melihat dirinya dalam bentuk Barbie tapi berharap ini bisa menjadi inspirasi anak-anak perempuan, terlebih profesinya belum terlalu familiar untuk kebanyakan orang.

In this undated photo issued by Mattel, Britain's Professor Sarah Gilbert holds a Barbie doll made in her image, in honour of the Oxford vaccine co-creator. The toy company has created models in honour of five other women working in STEM around the world. (Andy Paradise/Mattel via AP) Foto: AP/Andy Paradise/Mattel

"Aku sangat ingin menginspirasi wanita generasi selanjutnya untuk berkarier dalam STEM dan berharap anak-anak yang melihat Barbie-ku akan sadar betapa pentingnya berkarier dalam sains untuk membantu dunia di sekitar kita. Harapanku adalah agar bonekaku bisa menunjukkan kepada anak-anak tentang karier-karier yang mereka belum tahu, seperti vaksinolog," ujar wanita 59 tahun tersebut.

Wanita yang diberi gelar 'Dame' oleh Kerajaan Inggris tersebut pun mengaku akan memajang Barbie-nya di kantor. Bisa dilihat jika boneka tersebut cukup mirip dengan Sarah Gilbert dengan rambut merah sebahu dan kacamata yang menjadi ciri khasnya. Profesor dari Universitas Oxford itu juga ditampilkan dengan busana formal yang menonjolkan sisi profesionalnya.

Pihak Mattel sendiri mengungkap harapannya untuk mengembangkan imajinasi anak-anak dalam bermain dengan boneka-boneka ini. Mereka pun memilih sosok-sosok inspiratif yang berkontribusi dalam pandemi Corona. "Barbie menyadari semua pekerja di garda depan sudah membuat pengorbanan luar biasa ketika menghadapi pandemi dan tantangannya yang meningkat. Untuk menyoroti usaha-usaha mereka, kami ingin membagikan kisah mereka," kata Mattel.

In this undated photo issued by Mattel, Britain's Professor Sarah Gilbert holds a Barbie doll made in her image, in honour of the Oxford vaccine co-creator. The toy company has created models in honour of five other women working in STEM around the world. (Andy Paradise/Mattel via AP)Foto: AP/Andy Paradise/Mattel

Sosok Sarah mendapat pujian dari dunia bukan hanya karena kepintarannya. Demi membantu menyelamatkan banyak orang, ia rela melepaskan hak patennya untuk vaksin AstraZeneca. Vaksin itu pun dianggap cukup ampuh dalam mencegah penularan virus Corona, termasuk varian Delta. Sebelumnya, ia pernah mengembangkan vaksin lain yakni untuk influenza dan Ebola.

Dikatakan jika Sarah mendapatkan ide untuk mengembangkan vaksin AstraZeneca setelah China mempublikasikan kode genetik virus. Dan pada akhir tahun 2020, Inggris menyetujui penggunaan vaksin tersebut. Berkat jasanya, lulusan jurusan genetika dan biokimia itu beberapa waktu lalu mendapat 'standing ovation' dari para penonton Wimbledon yang menghormati jasanya. Ia diberi penghargaan dengan hadiah 100 tiket Wimbledon.

Selain Sarah Gilbert, wanita lain yang sosoknya diabadikan dalam bentuk Barbie adalah perawat Amy O'Sullivan yang masuk dalam 100 Most Influential People 2020 versi Time, Dokter Chika Stacy Oriuwa yang melawan rasisme dalam sistem kesehatan, peneliti biomedis Kirby White penemu APD yang bisa dipakai lagi, dan lain-lain.

Dilansir STEM Women, keterlibatan wanita dalam dunia sains, teknologi, teknik, dan matematika memang masih perlu dukungan. Hingga data dibuat diperkirakan hanya ada 35% wanita yang menjadi mahasiswa di jurusan STEM.

(ami/ami)