Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Siasat Brand Lokal Vanilla Hijab Hadapi Lonjakan Dolar, Margin Makin Tipis

Gresnia Arela Febriani - wolipop
Kamis, 21 Mei 2026 05:30 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Koleksi dari Vanilla Hijab.
Foto salah satu koleksi Vanilla Hijab. Foto: Dok. Instagram @vanillahijab.
Jakarta -

Nilai tukar rupiah ditutup melemah di angka Rp 17.700 per dolar AS. Lonjakan mata uang asing ini langsung memicu efek domino yang memukul berbagai sektor, terutama para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang kini harus berhadapan dengan meroketnya harga bahan baku, baik lokal maupun impor.

Di tengah situasi yang krusial ini, pemerintah berupaya meredam gejolak ekonomi lewat proyeksi kebijakan jangka panjang. Dalam Rapat Paripurna DPR RI pada Rabu (20/5/2026), Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada kisaran 5,8% hingga 6,5% di tahun 2027. Target ambisius tersebut diyakini dapat tercapai seiring dengan penerapan strategi ekonomi yang tepat, serta kebijakan fiskal yang prudent (bijaksana) dan berkelanjutan.

Selain pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga mematok nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berada pada kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 pada tahun 2027 mendatang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS berada pada rentang Rp16.800 sampai Rp17.500. Strategi fiskal dan moneter kita haruslah strategi yang mampu untuk menjaga nilai tukar kita tetap stabil terhadap mata uang dunia," ucap Presiden Prabowo dikutip dari detikFinance.

Realita di Lapangan: Jeritan Sektor Tekstil

Koleksi dari Vanilla Hijab.Koleksi dari Vanilla Hijab. Foto: Dok. Instagram @vanillahijab

Meskipun pemerintah optimis terhadap stabilitas tahun depan, realita pahit hari ini justru dirasakan langsung oleh para pelaku usaha di garda depan ekonomi. Salah satunya adalah Vanilla Hijab, brand fashion muslim lokal terkemuka yang didirikan oleh dua bersaudara, Atina Maulina (Founder) dan Intan Kusuma Fauzia (CEO).

ADVERTISEMENT

Mewakili suara pelaku usaha kreatif, Atina mengungkapkan keresahan mendalam mengenai bagaimana depresiasi atau penurunan nilai suatu aset Rupiah langsung menggerogoti margin keuntungan mereka.

"Sebenarnya yang kita pikirin responsnya lebih ke gimana bisa menjaga harga jual bisa tetap reasonable, tapi nggak menurunkan kualitas. Karena kan nggak bisa dipungkiri, mostly 80% bahan baku itu supplier kita pun impor dari China yang bayarnya pakai dollar. Jadi dengan kurs naik, mau nggak mau tuh (harga) juga naik," ungkap Atina saat ditemui Wolipop di Tuscan Dream, Cipete, Jakarta Selatan baru-baru ini.

Tantangan ini kian berat karena momentum persiapan produksi, seperti menjelang Lebaran, sudah harus dihitung dengan fluktuasi kurs yang berjalan sejak sekarang.

"Apalagi nanti buat persiapan lebaran itu kan bahan baku, mostly banyak datang dari impor. Itu udah berubah dari sekarang, kurs bahan bakunya. Sedangkan kalau kita nggak naikin harga which is margin ya kan, semakin tipis," kata Atina.

Atina menjelaskan bahwa mengerek harga produk bukan lah perkara mudah di tengah daya beli masyarakat yang sedang sensitif. Jika harga tidak dinaikkan, margin keuntungan perusahaan dipastikan semakin menipis.

"Sedangkan biaya marketplace juga naik. Meskipun udah dihimbau, tapi kan seperti biaya gratis ongkir layanan itu tetep dinaikin sama marketplace dan dibandingkan ke seller. Jadi biaya marketplace naik, biaya bahan baku naik, sedangkan pasar itu susah menerima kalau harga dinaikkan. Jadi itu sih tantangannya sebenarnya. Bukan cuma Vanilla Hijab aja tapi pasti untuk para semua pelaku usaha," jelasnya.

Strategi Industri Hijab Saat Dolar Naik


Menghadapi situasi pelik ini, Vanilla Hijab tidak tinggal diam. Atina membeberkan strategi yang kini tengah dijalankan perusahaannya untuk tetap bertahan di tengah gempuran kenaikan kurs Dolar yang mengerek biaya produksi. Langkah utama yang diambil adalah melakukan penyesuaian harga secara bertahap demi menjaga napas bisnis, meskipun hal tersebut penuh dengan risiko.

"Mau nggak mau kita mengikuti harga yang naik itu sambil menaikkan harga pelan-pelan gitu. Mau nggak mau sih harga emang harus dinaikin pelan-pelan ya, tapi nggak bisa drastis gitu. Misalnya yang tadinya harga hijabnya Rp 80.000 jadi Rp 95.000," lanjut Atina.

Langkah menaikkan harga ini diakui Atina sangat berat karena mereka harus bertarung di pasar yang sama dengan produk-produk impor siap jual. Sebagai merek yang mempertahankan proses produksi di dalam negeri, Vanilla Hijab menghadapi struktur biaya yang jauh berbeda dibandingkan kompetitor yang mengandalkan jalur praktis.

"Tapi memang diakui susah sih bersaing sama produk yang beli jadinya itu impor. Kalau kita kan brand lokal ya, kita beli bahan bakunya emang supplier Indonesia. Tapi sebenarnya dia juga ngambil dari luar kan. Tapi kita kan sumber dayanya semuanya diolah di sini, dijahit di sini, di-package di sini. Sedangkan banyak brand-brand white label yang mereka itu ngambil barang jadi dari luar, itu kan jauh lebih murah. Sebenarnya itulah tantangannya buat UMKM yang benar-benar made in Indonesia," curhatnya.

Selain melakukan penyesuaian harga secara pelan-pelan, Vanilla Hijab juga memilih untuk bermain aman dalam hal volume produksi. Atina mengaku sengaja menahan diri dan tidak seberani dulu dalam merilis produk dalam jumlah massal sekaligus, demi membaca pergerakan dan daya beli konsumen terhadap label harga yang baru.

Namun, menaikkan harga dan mengerem produksi saja tentu tidak cukup. Strategi bertahan Vanilla Hijab diperkuat dengan menyuntikkan inovasi serta nilai tambah (added value) ke dalam produk mereka. Menurut Atina, cara ini ampuh untuk membuat konsumen tetap merasa diuntungkan dan memaklumi kenaikan harga yang terjadi.

"Trennya kita ikutin sama nambahin value sih sebenarnya. Kayak misal hijab nih, kita lagi coba bikin development hijab yang nggak usah pakai pentul. Jadi meskipun harganya naik, tapi konsumen merasa mendapatkan value tambahan," tutur Atina panjang lebar.

(gaf/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads