Curhat Brand Hijab Jualan di Marketplace: Tercekik Biaya Admin, Untung Tipis
Tren belanja online yang kian praktis bagi konsumen ternyata menyimpan beban berat bagi para pelaku usaha. Kenaikan biaya admin dan potongan komisi yang terus melambung di berbagai platform e-commerce kini tengah dikeluhkan oleh para pelaku UMKM.
Alih-alih meraup untung besar dari volume penjualan yang tinggi, para pemilik brand justru harus memutar otak karena margin keuntungan yang semakin menipis akibat besarnya "jatah" bagi pihak platform.
Biaya Admin Tembus 26%, Seller Mulai 'Boncos'
Brand hijab Kalisha hadir di bazar Last Stock Sale yang berlangsung pada 6-9 Mei 2026 di Chillax Sudirman, dibuka mulai pukul 10.00-21.00 WIB. Foto: Gresnia/Wolipop |
Bagi para penjual yang menyandang status premium, beban biaya ini terasa semakin mencekik. Nena Herdiani, manager sales jenama hijab lokal Kalisha, mengungkapkan bahwa potongan biaya di kategori Shopee Mall jauh lebih tinggi dibandingkan status penjual biasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dari biaya potongannya banyak banget. Kita itu sudah Mall, potongannya lebih besar dibanding star seller. Potongannya sekarang kena di 26% per order. Itu belum lagi kalau ada campaign dari marketplace, kena lagi biayanya. Belum termasuk afiliasi dan iklan. Biaya itu lebih besar dibanding profit kita," keluh Nena kepada Wolipop saat ditemui di bazar Last Stock Sale Scarf Media di Chilax Sudirman, Jakarta Selatan.
Kondisi ini memaksa banyak brand untuk melakukan penyesuaian harga demi bertahan hidup. Nena mengaku pihaknya telah menaikkan harga produk sekitar 10% hingga 20% agar tidak mengalami kerugian atau "boncos".
Selain harga, kebijakan retur dan pengembalian dana pun dirasa tidak adil bagi sisi penjual. "Harapannya, pembagiannya tidak sejomplang saat ini. Biayanya lebih besar ke platform dibanding ke keuntungan kita," tambahnya.
Brand hijab dan busana muslim, Tantri Namirah ikut serta bazar yang digelar oleh Scarf Media bertajuk Last Stock Sale yang berlangsung pada 6-9 Mei 2026 di Chillax Sudirman, dibuka mulai pukul 10.00-21.00 WIB. Foto: Gresnia/Wolipop |
Strategi Bertahan: Kembali ke Jalur Offline dan WhatsApp
Menghadapi tekanan biaya di e-commerce, para pelaku usaha mulai mencari alternatif untuk menyelamatkan margin. Strategi beralih ke bazar offline atau kanal penjualan pribadi menjadi pilihan yang mulai marak diambil.
Hal senada diungkapkan oleh Gasha, Brand Manager dari lini busana Tantri Namirah. "Potongan besar otomatis margin kita lebih sedikit, sedangkan order paling banyak dari online. Untuk menyiasatinya, kita jadi banyakin channel seperti ikut bazar personal, consignment store, hingga mengarahkan order via WhatsApp dan website sendiri," jelas Gasha.
Meski demikian, beralih ke kanal offline bukan tanpa tantangan. Nena Herdiani mengakui bahwa meski bazar offline bebas dari biaya potongan marketplace, jangkauan waktunya sangat terbatas dibandingkan toko online yang buka 24 jam.
Di sisi lain, kenyamanan belanja online tampaknya masih sulit dikalahkan oleh metode konvensional. Rani dari brand Zerina Banu melihat adanya paradoks antara beban penjual dan minat pembeli.
Walaupun harga di online terkadang lebih mahal akibat penyesuaian biaya admin, konsumen tetap setia bertransaksi di platform digital. "Kalau bazar biasanya banyak diskon, sedangkan online kadang harga normal. Tapi masih banyak juga yang belanja di Shopee karena lebih mudah, meskipun banyak potongannya dari sisi seller," ujar Rani.
Kenaikan biaya variabel yang terus bertambah di hampir semua E-commerce kini menjadi tantangan kolektif bagi industri kreatif lokal. Kini, para pelaku usaha berharap adanya regulasi atau kebijakan platform yang lebih berpihak pada keberlangsungan bisnis kecil agar ekosistem ekonomi digital tetap sehat bagi semua pihak.
(gaf/eny)














































